f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
online grooming

Fenomena All Male Panelist (Manel) dalam Diskusi Publik

Oleh : Siti Aminah Tardi*

Rahmania, beberapa waktu lalu beredar sebuah e-poster bertema: “Nanti Kita Cerita tentang Nyeri Haid” dengan empat narasumber dokter berjenis kelamin lelaki. Acara ini menimbulkan tanda tanya apakah tidak ada dokter perempuan yang pasti memiliki pengalaman haid dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar nyeri haid, endometriosis, maupun topik lain yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi perempuan.

Ternyata Rahmania, e-poster itu tidak menjadi satu-satunya. Tunggal Prawestri, penggiat perempuan, menggumpulkan e-poster yang hadir di lini masanya dimana seluruh panelistnya laki-laki. Mulai dari diskusi bertema korupsi, pangan, penanganan covid 19, Pilkada, HAM, masyarakat adat, sampai kesehatan, yang tidak ada partisipasi perempuan di dalamnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia. Sebuah diskusi atau acara di mana seluruh panelistnya adalah lelaki, disebut dengan istilah “MANEL” “akronim dari “Man” dan “Panel”. Istilah ini menurut Tim Oxford Dictionaries dan Cambridge Dictionaries baru lahir pada 2017. Selain istilah “manel”, ada pula istilah “manference,” atau “himposium,” colloqui-him dalam pengertian yang sama. Terminologi ini awalnya digunakan untuk kegiatan-kegiatan ilmiah, namun kini berkembang ke kegiatan-kegiatan secara umum.

Manel ini juga berkelindan dengan ras dan warna kulit, man atau ahli yang dimaksud adalah ‘white man’. Istilah manel merupakan kritik atas kurang terwakilinya perempuan dalam banyak bidang sains, bisnis, dan politik. Selain itu, ada kesadaran kebutuhan untuk mendiskusikan berbagai masalah dari berbagai perspektif, yang akan mempengaruhi kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri.

HEOR sebuah lembaga penelitian, melakukan penelitian untuk membuktikan fenomena manel ini didalam Konferensi International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR), konferensi yang membahas hasil penelitian tentang ekonomi kesehatan. Pertemuan tahunan Eropa adalah pertemuan terbesar dengan hampir 5.000 peserta pada 2017. HEOR menemukan bahwa 70% dari pembicara yang terdaftar di diskusi panel dan  pleno di konferensi ISPOR Eropa selama 2016-2018 adalah laki-laki.

Sementara Dr Saara Särmä, seorang peneliti dalam Hubungan Internasional di Universitas Tampere di Finlandia, setelah bertahun-tahun memperhatikan fenomena manel ini, mulai mengumpulkan gambar-gambar manel di Facebook. Setiap orang dapat menambahkan yang mengarah ke All Male Panels Tumblr. Saara menambahkan foto bintang film Baywatch, David Hasselhoff yang memberikan jempol ke setiap postingan untuk lebih memperjelas situasi dan menambahkan pernyataan Congrats, you have an all male panel !!. Postingan sarkas ini menjadi meme sebagai sarana populer mengoreksi diskriminasi terhadap perempuan.

Baca Juga  Dilema Anak Dalam Merawat Orang Tua dan Tips Mengatasinya

Kurangnya representasi dan inklusi dalam diskusi-diskusi publik secara tidak langsung membakukan stereotip bahwa sains, teknologi, teknik, matematika, dan ruang publik semata-mata merupakan domain laki-laki. Rahmania, dalam tulisan ini, kita sama-sama menelusuri mengapa fenomena manel terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan.

Penyebab dan Dampak Manel

“Pembicara perempuan tidak ada yang bisa dihubungi” atau “pembicara ini (laki-laki) yang bersedia”, kurang lebih begitu alasan yang disampaikan ketika penulis menanyakan mengapa tidak ada narasumber perempuan di beberapa diskusi online dengan manel. Alasan-alasan tidak melibatkan perempuan lainnya sejauh yang dapat ditelusuri penulis misalkan: “Perempuan tidak tertarik di issue ini”, “tidak ada pembicara perempuan berkualitas”, “Dua pembicara yang kami hubungi tidak bisa untuk bicara di akhir pekan”, atau “Pembicara perempuan emosional dan bicara terlalu banyak”. Alasan-alasan tersebut terkesan terkait dengan ketersediaan dan kebersediaan, bukan kepada akses yang setara.

Dengan memahami bahwa diskriminasi terhadap perempuan terjadi karena perbedaan peran gender, termasuk di ranah pengetahuan, situasi tersebut menjadikan perempuan tersubordinasi dalam  mengakses pendidikan,maupun kesempatan dalam forum-forum diskusi. Semakin rendah jumlah perempuan dalam suatu kelompok, semakin sedikit perempuan yang berpartisipasi dan memengaruhi diskusi dan pengambilan keputusan. Karenanya kemudian dikembangkan apa yang disebut dengan affirmative action sebagai tindakan korektif untuk mendapatkan akses, manfaat, dan partisipasi dalam rangka mempercepat kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Dalam konteks kebijakan disebut dengan pengarusutamaan gender.

Alasan-alasan yang disampaikan, bisa benar adanya. Namun, jauh di balik itu terdapat cara berpikir yang masih diskriminatif. Dari sisi perempuan Meg Urry, astrofisikawan Universitas Yale, menulis bahwa diskriminasi bukan halilintar, bukan hal yang tiba-tiba. Melainkan berjalan lambat, karena kurang dihargai, merasa tidak nyaman dan menghadapi hambatan di sepanjang jalan menuju kesuksesan telah menyebabkan perempuan merasa tidak pada tempatnya. Juga, yang tak kalah penting karena norma-norma interaksi gender yang bervariasi.

Akibatnya, diskusi-diskusi public menjadi terkotak-kotak. Perempuan dianggap ahli ketika berbicara tentang kekerasan terhadap perempuan, perceraian, pengasuhan anak atau hal-hal terkait dengan issu domestik. Lelaki sebaliknya. Hal ini berjalan sudah berlangsung lama, dan kesadaran untuk menghentikan manel terhitung baru dengan mulainya lembaga-lembaga internasional memberikan panduan bagaimana memastikan sebuah acara memberikan affirmative terhadap perempuan dan kelompok minoritas lainnya.

Baca Juga  Retak yang Utuh

Lebih jauh, yang dirugikan adalah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Penulis meyakini keragaman akan membuat kita lebih pintar. Kelompok yang beragam mengajukan lebih banyak pertanyaan yang berbeda berdasarkan kekayaan pengalamannya masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan ilmu yang lebih baik. Tanpa kesetaraan gender, tanpa suara kulit berwarna, penyandang disabilitas, orang-orang dari berbagai usia, dengan praktik spiritual yang berbeda dan dari tempat-tempat yang berbeda secara geografis, kita akan gagal membaca  dan membangun masyarakat secara keseluruhan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Dengan terlebih dahulu kita menyadari dan menyepakati pentingnya penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, kita dapat memperbaiki manel menjadi equal panel. Dari beberapa sumber seperti panduan penyelenggaraan diskusi maupun komitmen pengarusutamaan gender dalam diskusi diskusi public,hal-hal yang bisa mengurangi manel, diantaranya:

  1. Menyediakan dan saling terkoneksi dengan narasumber perempuan.

Salah satu alasan tidak adanya narasumber perempuan adalah karena ketidaktersediaan narasumber perempuan yang kapabel. Kalangan penggiat perempuan menyediakan resource seperti SheSource dan Women Also Know Stuff.  Di Indonesia sendiri pernah ada womenunlimited.id yang memuat 100 profil perempuan yang bekerja di berbagai isu yang salah satu tujuannya adalah menjadikannya sebagai narasumber sebagaimana narasumber laki-laki.

2. Mendorong suara perempuan secara aktif

Sebagai organisasi, seharusnya pengarusutamaan gender menjadi bagian tak terpisahkan dalam pencapaian tujuan lembaga. Maka gunakan jaringan organisasi untuk menghubungkan staf perempuan ke berbagai peluang untuk berbicara. Dengan memberikan kesempatan dan peluang kepada perempuan, berarti kita juga harus mengakui dan menemukan cara untuk melawan ketakutan perempuan yang dimiliki ketika mereka menjadi pembicara, misalnya: komentar yang merendahkan, persepsi negative atau hal hal tehnis seperti ketrampilan berbicara dan menyampaikan pesan.

3. Sebagai perencana kegiatan

Kita harus berusaha keras untuk mencapai keseimbangan jender dengan proporsi ideal 50:50 untuk semua bentuk kegiatan dan keterlibatan, maka panitia harus bekerja keras seperti: (i) Memprioritaskan menghubungi narasumber perempuan untuk mematikan ketersediaan waktunya; (ii) Memfasilitasi hak maternitas peserta atau narasumber perempuan; (iii) Membangun kriteria narasumber yang memiliki persfektif jender yang baik; (iv) Membuat dan membagi topik diskusi secara seimbang agar suara perempuan didengar pada semua jenis topik, tidak terbatas pada issue perempuan; (v). Jika tidak dapat menemukan narasumber perempuan, tanya sekitar kita. Seperti bertanya ke panelis lain, organisasi perempuan, atau membuka dokumen diskusi-diskusi sebelumnya.

Baca Juga  Pendidikan dalam Arus Globalisasi Budaya dan Ilmu Pengetahuan

4. Sebagai perencana dan sponsor

Sebagai perencana kegiatan kemungkinan besar kita tidak akan puas dengan posisi narasumber level menengah atau bawah, dimana kebanyakan posisi perempuan berada. Dengan memberikan kesempatan kepada level tengah dan bawah, kita bisa berhenti beralasan bahwa “tidak ada perempuan yang memenuhi syarat.” Kita bisa mengubahnya menjadi tindakan dengan membuat perempuan merasa diterima di konferensi dan forum yang kita selenggarakan. Hal ini secara tidak langsung akan mendorong perempuan meningkatkan kualitas diri dan bergerak ke tingkat teratas. Sedangkan sebagai sponsor, kita memiliki banyak kekuatan untuk mengembangkan persyaratan, juga memiliki kekuatan untuk menciptakan budaya inklusif dan membangun kode etik yang tidak mentolerir diskriminasi atau pelecehan.

5. Menolak Menjadi Bagian Manel.

Untuk mengurangi manel, yang tak kalah penting adalah partisipasi dari narasumber laki-laki. Ketika diundang untuk berbicara atau berpartisipasi, sebaiknya meminta konfirmasi siapa panelis lainnya/pembicara /peserta, dan bagaimana keseimbangan gender akan tercapai dan sampaikan syarat kesediaan yaitu mengharapkan partisipasi yang bermakna, juga tawarkan nama-nama perempuan dari dalam organisasi atau jaringan anda.

Lantas, bagaimana jika dalam sebuah diskusi tetap terjadi manel. Sebagai lelaki yang memiliki komitmen untuk penghapusan diskriminasi, dapat meluangkan waktu 5 menit di awal pembicaraan untuk mengingatkan forum akan hilangnya suara perempuan dan kelompok-kelompok rentan lainnya. Komitmen lain bisa dilakukan dengan membangun komitmen untuk tidak terlibat dalam manel. Misalkan, ekonom Owen Barder menciptakan formulir komitmen dengan para para pakar lelaki lainnya untuk tidak pernah bergabung dengan panel yang semuanya lelaki.

Rahmania , saat ini, perempuan dan anak perempuan perlu melihat perempuan, orang-orang seperti mereka di atas panggung. Sebagai pesan kepada anak-anak perempuan, bahwa perempuan  berhak mendapatkan tempat di diskusi publik, dan melakukan perubahan. Sebagai penutup, penulis kutipkan pernyataan Dr. Francis S. Collins, seorang dokter ahli genetika asal Amerika Serikat yang menolak manel. “I want to send a clear message of concern: It is time to end the tradition in science of all-male speaking panels,”.


*) Penulis adalah seorang feminis, saat ini menjadi Komisioner Komnas Perempuan, tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili Lembaga

Bagikan
Post a Comment