Bias Gender dalam Algoritma AI

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Berbicara tentang patriarki tidak akan pernah selesai dan tidak akan pernah ada habisnya, karena layaknya kondisi masyarakat pola patriarki juga ikut berkembang mengikuti perkembangan zaman. Dahulu ketika membicarakan persoalan patriarki sektor yang paling tertuju adalah rumah tangga.

Di mana seorang suami mengambil peran tertinggi dalam rumah tangga sebagai pemimpin. Sesuai dengan narasi yang saya utarakan ia memang benar hal tersebut sudah sesuai dengan hukum Islam. Namun sayangnya dalam praktiknya tidak seperti itu, setiap individu punya presentatif masing-masing.

Pada akhirnya, menimbulkan penyimpangan atau melencengnya nilai-nilai Islam tersebut dengan membuat salah satu pihak menjadi terpinggirkan, sebut saja seorang istri atau perempuan.

Berawal dari sektor rumah tangga, sebagai tempat pola patriarki dikembangkan dan diwariskan secara langgeng akhirnya berkembang ke berbagai sektor masyarakat. Di antaranya pendidikan, ekonomi, politik, pemerintahan, dan sektor-sektor lainnya.

Pola pikir masyarakat yang masih menganggap sesuatu yang sudah berlangsung lama dan tidak ada yang menentangnya adalah suatu kebenaran. Sehingga dengan begitu mudah menormalisasi pola patriarki, seolah tidak ada yang salah dengan patriarki. Hal ini menjadikan patriarki tidak hanya sebatas pola pikir melainkan berkembang menjadi budaya.

Paragraf sebelumnya sepertinya sudah cukup menggambarkan betapa salahnya patriarki, pertanyaannya adalah sebenarnya apa yang salah dari patriarki? Dalam beberapa literatur seperti buku maupun artikel ilmiah dapat kita jumpai definisi patriarki atau dapat dimaknai sebagai “Rule of Father”

Di mana dalam sebuah rumah tangga laki-laki memegang kekuasaan tertinggi secara mutlak. Dan jika secara ekstrem digambarkan bahwa kedudukan perempuan hanya sebagai pelengkap/ pelayan bagi laki-laki saja yang hanya berperan pada tiga tempat yaitu : Kasur, Dapur, dan Sumur.

 Kemudian merambah ke berbagai sektor di luar rumah tangga seperti pendidikan, politik, ekonomi, dan pemerintahan. Di mana perempuan tidak mendapatkan tempat sama sekali untuk mengembangkan diri pada sektor tersebut.

Barulah ketika kondisi masyarakat semakin berkembang dan juga dengan munculnya paham feminis yang secara keras menentang dan menolak patriarki. Sehingga secara perlahan perempuan mulai mendapatkan ruang dan bias untuk mengembangkan diri dan potensi berdampingan dengan laki-laki di bidang publik. Tentunya hal ini menjadi kabar yang gembira bagi para perempuan.

Namun, apakah dengan terbukanya ruang dan hadirnya perempuan di ruang publik,  persoalan patriarki sudah selesai sampai di situ? Awalnya saya juga berpikir demikian, namun ternyata oh tentu saja tidak. Mengapa? Karena seperti yang telah dibahas pada awal tulisan ini yakni patriarki adalah sebuah pola pikir yang tentunya melekat secara mendalam dalam kepala setiap orang.

Meskipun perempuan sudah mendapatkan tempat dan ruang bias-bias dari patriarki tetap saja ada pada ruang-ruang tersebut. Hanya saja mungkin sudah tidak sefrontal/sekeras dahulu.

Saya akan memberikan beberapa contoh bias patriarki dalam dunia kerja. Pernahkah kalian melihat atau berada pada kondisi di mana mayoritas posisi strategis ditempati oleh laki-laki dan perempuan hanya berada pada posisi di bawahnya. Belum lagi ketika dalam sebuah pengambilan keputusan pandangan atau pendapat dari kalangan laki-laki cenderung lebih diterima daripada perempuan.

Dalih yang sering digunakan adalah laki-laki merupakan makhluk yang lebih rasional dibanding perempuan. Seperti itulah contoh-contoh real case bias patriarki yang cenderung terjadi di dunia kerja. Dan masih banyak lagi bahkan  hal ekstrem seperti pelecehan yang terjadi pada perempuan yang terjadi karena perempuan mengalami subordinasi dalam dunia kerja.

Secara sederhana, seperti itulah fenomena dan cara kerja pola pikir patriarki di kalangan masyarakat. Selanjutnya barulah saya akan masuk pada pembahasan yang sesuai dengan judul pada tulisan ini yakni melihat fenomena baru patriarki pada AI (Artificial Intellegent) atau kecerdasan buatan.

Di era saat ini, di mana teknologi sudah berkembang pesat dan sudah menyentuh dunia AI. Di mana semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat, sehingga dapat menghemat waktu  dibandingkan jika pekerjaan tersebut dilakukan secara manual ataupun konvensional.

Cara kerja AI adalah mengautomatisasi tugas dari manusia berdasarkan perintah atau instruksi yang diberikan oleh manusia. Contoh seperti pekerjaan sebagai sorang guru yakni membuat bahan ajar, guru tidak perlu lagi untuk membaca banyak buku ataupun jurnal dan menyeleksinya untuk dijadikan referensi dalam membuat bahan ajar.

Sebaliknya, guru dapat memanfaatkan berbagai AI  untuk membuat bahan ajar tersebut sesuai dengan perintah yang diberikan. Apakah ini baik secara etis? Tentu saja hal ini kembali lagi seperti konsep dua mata pisau – ada hal positifnya dan ada hal negatifnya.

Beberapa AI yang memiliki teknologi model kerja yang sangat tinggi sudah memasuki berbagai sektor dalam masyarakat seperti dunia pendidikan, politik, ekonomi, industri yang memiliki tugas untuk mempermudah pekerjaan pada ranah tersebut. Contohnya dalam dunia industri, para recruiter atau HRD menggunakan AI untuk membantu tugasnya dalam melakukan filtering (penyeleksian) calon karyawan.

Dalam beberapa kasus yang terjadi hasil dari penyeleksian AI ini cenderung lebih banyak menghasilkan atau merekomendasikan calon karyawan yang memiliki jenis kelamin laki-laki dibanding perempuan. Hal seperti sudah termasuk dalam fenomena bias gender yang menciptakan ketimpangan.

Beberapa orang secara awam terkadang berpikir ketika suatu pekerjaan dikerjakan atau diselesaikan dengan  menggunakan bantuan teknologi maka hasilnya akan objektif dan netral. Namun dalam kenyataannya ternyata tidak.

Oleh karena itu pentingnya menyiapkan tim yang bertugas untuk meninjau kembali model teknologi seperti apa yang akan diterapkan oleh perusahaan. Karena secara teknis kinerja AI akan sesuai dengan data latih yang digunakan dalam proses develop (pengembanganya).

AI memungkinkan memberikan hasil yang bias seperti contoh AI recruiter tadi, karena bias sudah terjadi dalam proses pengembangannya. Developer dari awal menggunakan data latih yang bias. Misalnya, jika data latih yang digunakan  sebanyak 100 sampel dan 70% di antaranya adalah laki-laki, maka AI tersebut akan bias.

 Model teknologi AI yang dihasilkan pasti juga memberikan hasil yang bias. Sebab AI secara dominan hanya mengenali satu entitas dengan baik. Terlepas dari apakah developer tersebut adalah salah satu penganut patriarki ataupun tidak, tapi ketersediaan data latih yang beragam dan seimbang memang diperlukan dalam proses pengembangan AI.

Bagikan:
Penulis 1 Tulisan

Aisyah Shinta Balqis

Mahasiswa S2 Informatika UMS. Ketua Bidang IMMawati PC IMM Majene 2023. Ketua Bidang Media dan Komunikasi PC IMM Majene 2024. IG: @blqshnt.

Leave a Comment