Medsos Para Ibu, Sumber Informasi atau Kegalauan Hati?
Sejak memiliki buah hati, instagram adalah salah satu aplikasi jujugan saya setiap hari. Dan ketika saya mengamati akhir-akhir ini, hampir semua feed yang muncul di beranda instagram saya adalah tentang buah hati. Mulai dari mengasihi, MPASI, kesehatan anak dan konten lain yang tidak jauh-jauh dari situ. Memang, di zaman milenial seperti, kemudahan informasi adalah kepastian sehari-hari. Sesuatu yang mungkin bisa disamakan seperti nasi. Dan informasi lewat media sosial (medsos) adalah sesuatu yang lebih niscaya lagi.
Sebagai seorang Ibu masa kini, tentu sebagian besar dari ibu-ibu punya akun medsos dong. Dan kadang tidak cuma satu. Wong ada berbagai macam medsos, masak kita cuma punya satu. Yaa dua atau tiga bolehlah. Eh, tapi jangan dikira medsos cuma untuk ajang pamer lo yaa. Kita ini, para ibu baru di era milenial ini, kan belum punya pengalaman apa-apa tentang mengasuh anak dan lain-lain. Naah, medsos itulah salah satu sumber kita.
Lewat berbagai macam akun medsos itulah, kami, atau lebih tepatnya saya, mengakses banyak informasi tentang pengasuhan anak, mulai kehamilan sampai penggunaan clodi, mulai mengasihi sampai dengan MPASI, bahkan sampai saat ini. Beragam informasi tersebut sungguh membantu saya. Dan membuat saya tidak bodoh-bodoh adalah dalam merawat anak. Tapi, di balik semua bantuan tersebut, ternyata itu juga yang membuat saya stres dan bingung sendiri ketika anak saya tidak seperti informasi yang saya percayai tadi.
Waktu MPASI kemarin, misalnya. Di beberapa akun medsos yang saya ikuti, yang sebagian besarnya adalah praktisi dan akademisi kesehatan anak, menyebutkan bahwa konsumsi mpasi bagi anak usia 1 tahun adalah sekitar tiga perempat mangkuk berukuran 250 ml dan diberikan sebanyak tiga sampai empat kali dalam sehari. Nah, bagaimana saya tidak stres dan bingung sendiri kalau anak saya makan satu sendok saja belum tentu habis? Dicoba berbagai macam menu pun sama saja. Belum lagi anjuran tentang menu lengkap dan wanti-wanti untuk menghindari makanan yang tidak sehat bagi anak. Apalagi melihat story Instagram para praktisi kesehatan yang berisi cerita kesuksesan para Ibu dalam memberi mpasi anaknya. Ditambah lagi ketakutan karena berat badannya sudah tidak naik beberapa bulan.
Apakah informasi yang saya dapatkan itu salah? Tentu tidak. Informasi tersebut benar. Lalu bagaimana dengan saya ini? Mengapa saya kok tidak bisa seperti mereka? Terus bagaimana caranya saya memberi asupan yang cukup? Bagaimana kalau pertumbuhannya terganggu? Apa saya paksa saja? Hee, sembarangan! Proses makan tidak boleh menimbulkan trauma. Emm, sambil jalan-jalan ya? Eh, proses makan bukan hanya tentang makan, tapi juga mengajari perilaku yang baik untuk anak. Kalau diberi kerupuk bakal mau deh, sesuap atau dua suap. Hee, nutrisi apa yang masuk ke perutnya kalau cuma disuapi kerupuk sama nasi. Uwes talah! Timbang gak kelebon blas! Itu adalah kalimat pamungkas Ibu saya yang akhirnya membuat saya manut walaupun sambil merasa was-was dalam hati.
Begitulah Ibu-ibu semua. Arus informasi yang demikian beragam memang sangat berguna bagi ibu baru macam saya. Tapi sekaligus juga menjadi sumber kebingungan untuk menentukan langkah. Berbagai macam teori bersliweran ditambah dengan para pembuat konten anak yang saling memposting keberhasilan mereka, membuat saya merasa seperti remahan rengginang dalam wadah biskuit legendaris tahun 90-an.
Itu belum termasuk informasi berupa ujaran kepedulian dari keluarga, saudara, rekan kerja dan lain sebagainya. Tentu tidak salah juga. Barangkali lebih teruji meskipun hanya pada anak-anak mereka sendiri. Nah, berhubung semua informasi tersebut tidak berasal dari sumber yang sama, bisa dipastikan tidak semuanya seiya sekata. Yang jamak sekali ya malah berlawanan satu sama lain. Di sinilah kebingungan berikutnya terjadi.
Ketika akan menyapih misalnya, saya juga sempat galau. Ingin ikut cara Ibuk ketika menyapih saya, katanya tidak disarankan. Wong ASI adalah teman pertama si kecil kok tiba-tiba berubah rasa jadi pahit atau jadi berwarna merah. Kok seperti dikhianati pacar katanya.
Banyak sumber medsos menyarankan untuk mulai menyapih dengan cinta, agar meminimalisir trauma. Berbekal sekelumit informasi yang saya kumpulkan lewat medsos tersebut, mulailah saya memberanikan diri untuk menyapih anak saya.
Dan seperti yang diduga, keteguhan saya runtuh perlahan melihat rengekan dan tangisan anak saya. Dan waktu menyusui menjadi waktu yang sungguh ingin saya loncati saja.
Mungkin saya memang kurang bersabar dan kurang teguh terhadap anak saya. Tapi, saya juga mulai bertanya-tanya, bukankah semua metode jadi sama saja? Bukankah keduanya juga butuh keteguhan hati ibu dalam ketika mendengar tangisan anaknya? Apa benar ini minim trauma bagi anak saya? Apakah ibu-ibu di luar saya ketika menyapih anaknya tidak dengan cinta?
Bukankah ketika mereka memilih untuk memberi pahit-pahit, warna terang ataupun yang lainnya, mereka bertujuan untuk membuat anak mereka jera dan mempercepat proses penyapihan? Bukankah sebenarnya mereka hanya ingin anak mereka untuk cepat move on? Atau sebenarnya anak saya yang memang belum siap untuk disapih dan saya tunda saja?
Jadi sebaiknya saya pakai metode yang mana? Lagi-lagi saya terjebak pada dualisme akibat pemahaman yang seadanya.
Ada lagi cerita ketika saya sebenarnya sudah cukup yakin dengan informasi melalui medsos yang saya peroleh tapi kemudian saya terlalu takut untuk mempraktikkannya. Yah, benar sekali. Saya tidak cukup berani dan percaya diri. Ini terjadi ketika saya mencoba untuk menggendong anak saya, yang berumur 3 bulan pada waktu itu, dengan posisi M-shape, atau mengangkang dalam istilah orang Jawa. Ketika pertama kali mencoba dan saya mendapat ujaran dari tetangga ataupun keluarga, saat itu juga runtuh kepercayaan diri saya.
Sungguh serba salah menentukan untuk percaya yang mana. Percaya pada pendapat para ahli kesehatan yang memang berlandaskan teori tapi saya kok tidak berhasil. Tapi banyak ibu-ibu lain yang mempraktikkan dan bisa lancar jaya. Mau percaya pada ujaran orang sekitar kok ya berlawanan dengan teori yang dibaca. Tapi anak-anak mereka kalau dilihat ya baik-baik saja. Terus ini harusnya bagaimana? Benar-benar suatu kebingungan akibat pengetahuan yang setengah-setengah. Terdengar konyol tapi itulah kenyataan saya.
Kemudahan akses informasi mau tidak mau mempengaruhi ekspektasi pribadi terhadap pencapaian anak saya. Menuntut anak saya untuk tidak kalah dengan anak-anak lain yang saya lihat di medsos. Menuntut anak saya untuk selalu sesuai dengan apa yang saya baca dan saya fahami. Keinginan untuk memberikan yang terbaik dalam mendukung tumbuh kembang anak tanpa saya sadari beralih menjadi ajang untuk meraih ambisi pribadi. Saya jadi memperlombakan pencapaian anak saya terlalu dini. Saya jadi tanpa sadar tidak bisa menerima dan bersyukur atas kondisi anak saya sendiri.
Informasi yang saya dapat lewat medsos tentu ada benarnya. Toh saya memilih yang didukung oleh keilmuan yang bisa dipercaya. Dan tentu penting untuk membuat saya mencoba dan berusaha. Hanya saja, saya lupa adalah anak saya juga entitas yang nyata. Yang punya ritme dan bahasanya sendiri. Yang butuh untuk saya baca dan saya pahami agar bisa mencoba untuk menerapkan ilmu-ilmu tadi. Dan tentu saja, baik dia dan saya butuh waktu tersendiri untuk saling memahami. Berpedoman mutlak pada semua informasi tadi, sudah tentu akan menimbulkan kegalauan tersendiri. Jadi yaa, medsos memang berguna sebagai sumber informasi tapi saya perlu juga belajar menurunkan ekspektasi. Saya juga butuh memperluas lautan kesabaran untuk belajar dari sumber lain. Siapa tahu ada informasi lain yang membuat saya tidak galau lagi.
Instagram : @rikzahakin.
