f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
teori performativitas

Teori Performativitas : Seks dan Gender Sama dengan Konstruksi Budaya?

Menurut konstruksi budaya yang berkembang, menyatakan bahwa seks adalah kodrat alamiah sejak manusia di lahirkan. Sedangkan gender adalah sebuah konstruksi masyarakat yang diciptakan. Hal tersebut juga dijelaskan Gould (1997) yang mendefinisan seks sebagai biologis dan gender sebagai konstruksi budaya. Namun berbeda dengan Judith Pamela Butler melalui bukunya yang berjudul Gender Trouble. Butler melakukan kritik terhadap perbedaan atas seks sebagai biologis, atau alamiah yang ada sebelum budaya dan sebelum interpretasi. Butler (1990) berpendapat bahwa perbedaan seks dan gender tidak ada artinya. Penyebab hal tersebut mungkin konstruksi yang disebut seks secara kultural dibangun seperti gender. Atau mungkin memang seks adalah gender dengan catatan bahwa antara seks dan gender adalah sama[1].

Dalam pandangan masyarakat, seks biologis bersifat biner (Laki-laki vs Perempuan) yang membentuk sebuah dasaran mengenai gender biner (Maskulin vs Feminim). Dengan pandangan bahwa ketika seorang bayi lahir dengan penis akan tumbuh dan mengidentifkasikan diri sebagai seorang laki-laki, dan akan tertarik dengan perempuan. Begitu pula bayi yang lahir dengan vagina, akan tumbuh dan mengidentifikasikan diri sebagai seorang perempuan, dan akan tertarik dengan laki-laki.

Konstruk tersebut yang mengakibatkan ketika terdapat bayi yang memiliki jenis kelamin ambigu, maka mereka akan dioperasi menyesuaikan dengan budaya atas laki-laki dan perempuan. Hal tersebut yang menjadi titik tekan Butler, bahwa seks, gender dan hasrat seksual tersebut yang hanya terkonfigurasi dalam pemahaman budaya yang telah dikonstruksikan dalam masyarakat. Hingga dari fenomena tersebut, kita dapat melihat kebenaran dari teori Butler. Bahwa seks merupakan konstruksi budaya karena seks dapat diubah sesuai dengan konstruksi sosial.  

Sebagai contoh yaitu kasus transgender yang mengubah kodrat seksnya dari penis ke vagina. Meskipun mereka akan mendapat hukuman berupa stigmatisasi dan marginalisasi, termasuk dengan biseksual, gay, lesbian. Menurut Butler, pandangan norma terhadap gender dan seks diciptakan dari mereka yang berkuasa[2], sehingga reaksi negatif tersebut sengaja diciptakan untuk mempertahankan konstruksi budaya yang ada. Namun, menurut Butler, hal tersebut bersifat proskriptif (penghalang) dan preskriptif (generatif).

Baca Juga  Bagaimana Caranya Meretas Diskriminasi terhadap Perempuan Disabilitas?
Menyoal Tentang Performativitas

Dalam buku Gender Trouble, Butler melontarkan sebuah pertanyaan, bahwa “Bagaimana kinerja konstruksi apabila gender di konotasikan sebagai konstruksi masyarakat?” Atau mungkin sebaliknya, bahwa sebenarnya masyarakatlah yang merupakan hasil dari konstruksi. Hal tersebut berkaitan dengan identitas gender yang ingin di dekonstruksi oleh Butler dengan teori performativitasnya. Menurutnya, “Gender is a stylised reoetation of acts.” Bahwa gender bukanlah kata benda, melainkan kata kerja, sehingga dalam gender terdapat pengulangan, budaya, tindakan, dan waktu.

Sebagai contoh, ketika seorang laki-laki mengenakan rok, tidak bisa langsung dijustifikasi bahwa itu adalah identitas gendernya. Namun ketika hal tersebut terus diulang maka baru bisa dikatakan demikian. Karena terdapat tindakan yang mendapatkan pengulangan sehingga menciptakan sebuah efek (normalisasi), hal tersebut yang kemudian disebut sebagai performativitas gender. Namun perlu diingat, bahwa gender menurutnya bersifat temporal (memiliki waktu) sehingga peformativitas gender tidak boleh diartikan sebagai suatu identitas yang stabil. Sehingga memungkinkan setiap individu memiliki lebih dari satu identitas gender dengan tenggang waktu, kuncinya adalah terdapat tindakan yang berulang.

Dengan teori performativitasnya, Butler berpendapat bahwa masyarakat perlu untuk menciptakan masalah gender dan seks dengan mengganggu biner untuk membongkar sebuah sistem yang disebut sebagai konstruksi untuk dilakukan dekonstruksi terhadapnya. 

Peran Masyarakat terhadap Teori Performativitas

Dari teori performativitas Judith Butler, membuka banyak asumsi penulis terhadap pengaruh konstruksi masyarakat akan perubahan norma-norma (budaya). Butler merupakan salah seorang yang setuju dengan LBTQ, oleh karena itu Ia juga mengembangkan teori queer yang diperuntukkan biseksual, gay, transgender dll. Sehingga penulis juga berpendapat bahwa teori performativitas juga dikembangkan untuk memberikan ruang terhadapnya. Namun, teori performativitas ini masih memiliki kelemahan, yaitu sebuah tindakan yang berulang haruslah melalui proses normalisasi.[3] Sehingga tugas dari masyarakat yaitu selektif dalam melakukan normalisasi nilai dan norma yang bertentangan dengan budaya leluhur. Apakah dengan melakukan hal tersebut berarti membatasi individu dalam mengekspresikan identitas gender? Jawabannya adalah ‘Iya’ karena ketika kita mencoba untuk melakukan normalisasi terhadap gejala-gejala kecil, maka yang terjadi adalah terkikisnya nilai dan norma yang telah kokoh dibangun.

Baca Juga  Gerakan Nasional Wakaf Uang, Saatnya Filantropi Islam Dapat Ruang

Teori tersebut memberikan banyak kesadaran bahwa memang setiap individu perlu untuk dibatasi, tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Karena dengan memberikan batasan, akan memberikan ruang berfikir tentang tindakan berulang (performa) yang dilakukan. Karena norma berkaitan dengan seks dan gender diciptakan dari mereka yang berkuasa. Silahkan berkomentar dengan narasi ketika pembaca memiliki kritikan terhadap tulisan ini, sesungguhnya penulis menyadari kurangnya refrensi yang digunakan.


[1] Butler & Tarry, 1999. Gender Trouble : Feminism and the Subversion of Identity

[2] Brianya Maulldyna, 2020. Judith Butler dan Teori Performativitas Gender. Kumparan.com

[3] Li He, 2017. The Construction of Gender: Judith Butler and Gender Performativity. Atlantis Press : Advances in Social Science, Education and Humanities Research, vol 124

Bagikan
Post a Comment