Sistem Akut Patrimonial: Budaya “Look Down” terhadap Perempuan
Sebenarnya, apa sih yang membedakan antara lelaki dan perempuan—selain bentukan fisik yang menyusun struktur anatomi tubuh—secara nilai, posisi kerja-intelektual dan peran-fungsinya dalam konstelasi kehidupan dunia ini? Tentu akan banyak elaborasi jawaban yang membedakan antara perempuan dan laki-laki. Tetapi apakah sebuah hal yang berbeda itu merupakan sesuatu yang buruk?
Toh, gumpalan bentuk fisik-jasadiyah yang akhirnya membedakan bahwa ini “lelaki” dan itu “perempuan” hanyalah sebatas manifestasi “ruh manusia” lantaran adanya kepentingan bahwa manusia harus bersentuhan dengan jenis manusia yang lain sebagai bagian dari interaksi silaturahmi (proses li-ta’arafu) dalam kehidupan. Pada hakikatnya manusia—lelaki dan perempuan—diciptakan dari “ruh” yang satu. Dari “ruh” yang satu itulah, kemudian memanifestasi menjadi sosok yang disebut “lelaki” dan “perempuan”.
Dan, ruh itu hakikatnya tidak “lelaki” dan tidak pula “perempuan”. Sebenarnya mereka (baca: laki-laki dan perempuan) itu berangkat dari satu kesatuan ruh yang sama, hanya saja beda manifestasi.
Kalau lelaki memosisikan diri seolah-olah “lebih unggul” dibanding perempuan. Sehingga, seluruh aktivitas kerja dan implementasi status sosial (lelaki) nya tampak bermaksud “merendahkan” perempuan. Lantas menimbulkan adanya perilaku diskriminasi, yang akhirnya menuntut munculnya gerak laju “emansipasi wanita” tampil ke permukaan untuk menyuarakan eksistensi “manifestasi” keperempuanannya.
Adalah bias konsep dari asumsi dan pemaknaan terhadap ‘unggul tidaknya’ sekaligus ‘sikap merendahkan’ itulah yang harus digarisbawahi sebagai sebuah pelanggaran eksistensi silaturahmi. Sebab, pada dasarnya, tidak ada sebuah keadaan unggul tidak unggul dan posisi rendah antara sesama manusia dalam konstelasi kehidupan di dunia. Secara esensi kemakhlukan, mereka berposisi setara dan sederajat.
Bahkan, apabila perempuan tanpa memahami seluruh perdebatan nilai dan kerancuan posisi pemahaman terhadap masalah emansipasi yang diusung. Lantas ia mengartikulasikan protes dan gugatannya terhadap kaum lelaki justru dengan menutupi kodrat “keperempuanan”nya dengan selimut-selimut “kelelakian”. Maka, akan terlihat rancu dan lucu aktualisasi perjuangan yang ia lakukan.
Ibaratnya, tatkala ia ingin dikenal sebagai bunga mawar yang mekar dan dapat menyebarkan bau harumnya, tetapi pada saat yang sama ia justru menampilkan dirinya sebagai pohon kaktus yang meresahkan. Ini tentu kontradiksi, dan sekaligus kontraproduktif dalam hal perjuangan.
Di lain hal pula, kita harusnya lebih berhati-hati dalam memilih kata dan menggunakan bahasa. Sebab, kata memuat nilai dan bahasa memuat budaya. Hebat dan kuat tidak selalu identik dengan kaum lelaki. Pun, lemah-lembut dan “memble” tak juga identik dengan kaum perempuan.
Umpamanya, apa yang dinarasikan dalam film yang disutradarai oleh Niki Caro, berjudul “Mulan”. Adalah sebuah dekonstruksi pemahaman bahwasanya sosok perempuan tidaklah rendah dari para lelaki, sekaligus mempersuasikan untuk dapat eksis menampilkan dirinya sebagai sosok yang memiliki nilai dalam kehidupan—khususnya bagi perempuan. Justru ia harus benar-benar murni menampilkan dirinya hanya sebagai perempuan. Bukan menyembunyikan diri atau menutupi diri (“keperempuanan”)nya dengan selimut maupun topeng “kelelakian”. Di situlah sebenarnya letak harkat-martabat perempuan.
Adanya sistem patrimonial yang terbangun dalam sebuah kebudayaan masyarakat memang terlihat amat menjemukan dan menjijikkan. Tiap hari kita mendapati itu, bahkan tak jarang malah terlibat langsung dalam rancangan susunan-susunan sosial yang mereproduksi lelaki untuk menjadi pimpinan di atas kaum perempuan.
Agaknya, itu terlahir dari rahim imperialisme Bangsa Barat dengan design penuh kepentingan di era-era kolonial, kala itu. Dunia Barat ingin sekali menguasai Dunia Timur dengan menjadikannya sebatas barang yang hanya layak “disetubuhi”. Dunia Barat dengan segala dominasi ilmu pengetahuannya (science) melihat Dunia Timur sekadar sebagai sebuah alam raya yang subur makmur untuk dieksploitasi.
Hal demikian tergambar dalam sebuah karya berjudul “Gadis Kolot” milik Soe Lie Piet—ayah Soe Hok Gie—yang menarasikan tentang dunia perempuan pada masa transisi modernisasi dalam wacana kolonial. Yakni, bagaimana sosok Lena, gadis yang patah hati lantaran ditinggal kekasihnya menikah dengan gadis Belanda. Yang akhirnya memutuskan untuk bertolak menuju London, kemudian terbang lagi ke Swiss untuk bertemu dan bekerja dengan Dr. Feodror Dimistri. Sehingga, pada akhirnya ia malah menjadi sebuah bahan observasi (kelinci percobaan) di laboratorium milik Dr. Feodor, mengubah wajahnya menjadi awet muda.
Dari situlah, lantas Si Lena menjadi taat penuh terhadap Sang Doktor. Padahal, ada maksud terselubung di baliknya. Di mana Sang Doktor adalah simbolisasi laki-laki dengan kemampuan akal-pikirannya lantas dengan leluasanya mengelabuhi Si Lena sebagai simbolisasi perempuan yang hanya dominan dengan perasaannya. Sehingga dianggap tidak cerdas untuk dijadikan sebagai bahan percobaan.
Kita pun bisa melihat, bahwa para ilmuwan Dunia Barat dengan kedigdayaan science-nya amat berlaku serta-merta dengan kaum-kaum di Dunia Timur. Seolah-olah ia adalah alat canggih yang sama sekali ingin menguasai banyak hal. Sedang Dunia Timur (yang disimbolisasikan dengan sosok Perempuan) merupakan alam raya yang siap sedia dijadikan sebuah bahan eksperimen. Tentu ini adalah pembodohan massal, sekaligus diskriminasi kemanusiaan.
Wacana demikian itu akhirnya menyebar dan masuk dalam ruang kesadaran para lelaki di belahan dunia, termasuk di negeri ini. Akibatnya, karena adanya konstruksi pemahaman demikian, para lelaki akhirnya tidak lagi memasang “mata manusia”. Tetapi lebih memasang “mata lelaki” tatkala melihat sesosok perempuan. Sehingga, para lelaki tidak bisa lagi melihat sosok perempuan sebagai sosok “manusia”. Karena kebiasaan patrimonial yang terlanjur akut, kaum lelaki akhirnya terdidik hanya untuk look down terhadap perempuan.
Di lain sisi, susah pula mengurai hal demikian, misalnya konsep kanca wingking (perempuan: teman belakang suami) tatkala mulai diusahakan untuk dihapus supaya perempuan bisa lebih leluasa meng“angkasa”kan dirinya—tidak lagi terjerat oleh kultur “dapur-sumur-kasur”. Tetap saja konsep tersebut termodifikasi pula dalam bentuk yang lebih modern dan kreatif. Fenomena Ibu Dharna misalnya, seolah-olah ia berusaha mengangkat peran serta perempuan dalam percaturan tata kenegaraan dan kemasyarakatan. Tetapi, dalam kacamata rasionalitas modern malah itu tampak lucu. Dan, ternyata itu merupakan modus baru dari konsep kanca wingking. Susah memang!
Maka, sejatinya perjuangan perempuan harus ditampilkan bukan untuk “berposisi sejajar”, apalagi untuk mengalahkan lelaki. Perempuan harus berjuang justru untuk posisi harkat-martabat dirinya sendiri. Kalau hal demikian selalu saja disalahpahami, maka yang terjadi perempuan akan terus-menerus salah aplikasi perjuangan pula sehingga membuatnya terserimpung sendiri oleh kesalahan tersebut. Akan lebih lucu lagi, kalau perempuan lantas enggan hidup bersama-sama dengan lelaki. Kehidupan menjadi sangat kecut nantinya, kalau lelaki hidup tanpa perempuan dan perempuan hidup tanpa lelaki.
Peminat kajian filsafat, kebudayaan dan sosiologi. Aktif di komunitas Dianoia. Instagram: @am.thry.
