f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lomba pitulasan

Lomba Pitulasan, Tidak Asal Viral Namun Harus Bermoral

Agustus merupakan bulan penting dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Tepat pada 17 Agustus 1945 lalu, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Karena itu, bulan Agustus seringkali dikenal dengan bulan kemerdekaan. Berbagai kegiatan pun ramai dilakukan oleh masyarakat dalam rangka memperingati dan menyemarakkannya.

Mulai dari menghias lingkungan dengan berbagai atribut berwarna merah-putih, menyelenggarakan malam tirakatan, pentas kesenian dan hiburan, kegiatan olahraga jalan sehat, hingga senam bersama. Dan tidak ketinggalan aneka perlombaan bagi anak-anak, remaja, hingga orang tua pun turut dihelat melengkapi kemeriahaan momen ‘Agustus-an’.

Tahun ini, setelah situasi pandemi Covid-19 semakin melandai, suasana dan kegembiraan masyarakat begitu terasa menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke-77. Fenomena ini dapat diamati dari lini media sosial, akhir-akhir ini acap kali kita menjumpai unggahan maupun status yang bertemakan kegiatan ‘Agustus-an’.

Lomba Pitulasan

Berbicara tentang ‘Agustus-an’ tentu tidak akan pernah lepas dari lomba 17-an (pitulasan). Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata lomba memiliki arti: (1) adu kecepatan (berlari, berenang, dan sebagainya) dan (2) adu keterampilan (ketangkasan, kekuatan, dan sebagainya) (kbbi.web.id).

Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa lomba pitulasan adalah ajang perlombaan berupa adu kecepatan dan/atau keterampilan yang dilakukan di bulan Agustus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Melansir dari detik.com, setidaknya ada beberapa perlombaan yang cukup populer dan paling sering dimainkan setiap memperingati kemerdekaan diantaranya adalah lomba panjat pinang, balap karung, balap bakiak, tarik tambang, perang bantal, memukul air dengan mata tertutup, balap egrang, dan memasukkan pensil ke botol.

Lomba pitulasan merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat setiap tahunnya. Hal ini karena, ajang iniselalu mampu menghadirkan gelak tawa keceriaan, kegembiraan, dan keseruan di tengah masyarakat. Selain itu, melalui lomba pitulasan dinilai mampu memupuk kreativitas, kerjasama, kekompakan, dan jiwa nasionalisme antar warga.

Baca Juga  Spirit Hijrah, Pancasila dan Kemerdekaan

Di jagat media sosial, tak jarang kita melihat beberapa video tentang lomba pitulasan yang viral. Video tersebut menarik perhatian warganet karena kelucuan maupun keseruannya. Hal ini karena kreasi dan inovasi yang dilakukan dalam mengemas lomba menjadikannya lebih seru, lucu, dan kocak.

Namun, ironisnya tak jarang kita juga menemui bentuk perlombaan yang termasuk ke dalam kategori tidak senonoh. Misalnya, pertandingan sepakbola daster yang mana mengharuskan peserta laki-laki berdandan dengan mengenakan pakaian perempuan. Selain itu, banyak dijumpai lomba yang mengeksploitasi gerakan tubuh perempuan.

Fenomena tersebut menunjukkan gambaran degradasi moralitas anak bangsa yang semakin jauh dari norma agama dan norma kesopanan yang begitu dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Di era media sosial saat ini, tak jarang ditemui Sebagian kelompok masyarakat utamanya anak muda yang rela melakukan apa saja untuk menjadi viral. Meskipun hal itu terkadang harus menepikan aspek moral. Sungguh miris!

Karena itu, momentum kegiatan lomba pitulasan selayaknya dijadikan sebagai ajang merawat moral bangsa dengan tetap menjunjung norma agama dan kesopanan di masyarakat. Jangan sampai lomba pitulasan hanya dijadikan ajang seru-seruan atau lucu-lucuan semata namun justru mengabaikan norma yang berlaku.

Prinsip Lomba

Masyarakat Indonesia dikenal memiliki semangat dan antusiasme tinggi dalam mengikuti lomba pitulasan. Tingginya animo dalam berkompetisi perlu dimanajemen dengan baik untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setidaknya ada tiga prinsip yang harus diperhatikan oleh panitia ‘Agustus-an’ dalam menyelenggarakan lomba pitulasan. Pertama, keamanan merupakan prinsip mutlak yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan setiap kegiatan termasuk lomba.

Prinsip ini mencakup pada keamanan sarana dan prasarana perlombaan. Sarana merupakan alat yang digunakan untuk lomba harus terbuat dari bahan yang tidak membahayakan. Sementara prasarana adalah tempat berlomba yang sebisa mungkin harus memperhatikan aspek luas memadai dengan permukaan yang rata serta bebas dari berbagai benda-benda yang membahayakan.

Baca Juga  Tentang Mereka yang Bekerja dalam Senyap, Mati pun Tak Diakui

Selain itu, prinsip keamanan juga dapat mencakup pada kesesuaian bentuk aktivitas lomba dengan tingkatan usia peserta. Hal ini penting diperhatikan guna menjamin keselamatan serta meminimalisir terjadinya resiko cedera ketika berlomba.

Kedua, kesopanan menjadi prinsip yang tidak kalah penting. Sebagai masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi norma ‘ketimuran’, selayaknya harus menjaga prinsip ini.

Artinya, perlombaan boleh saja bahkan harus dikemas semenarik mungkin agar berlangsung seru namun jangan sampai ‘saru’. Dalam Bahasa Jawa, ‘saru’ berarti jorok, senonoh (kamusjawa.net). Hal ini berarti sebagai perbuatan yang tidak elok atau tidak sopan sehingga selayaknya harus dihindari.

Ketiga, sebuah kegiatan haruslah membawa pelakunya menuju kegembiraan. Karena itu, pilih aktivitas perlombaan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan karakteristik peserta sehingga akan berjalan menggembirakan.

Dengan memperhatikan prinsip keamanan, kesopanan, dan kegembiraan tadi harapannya lomba pitulasan berlangsung seru dan menjadi lebih bermakna. Karena itu, ajang lomba pitulasan dapat menjadi tradisi dalam memupuk nasionalisme dan juga mempererat hubungan antarwarga.

Bagikan
Post a Comment