f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
melahirkan

Melahirkan Kamu, Ternyata Menyembuhkanku

Melahirkan anak adalah cara Tuhan menunjukan keindahan dari proses terciptanya kehidupan manusia di dunia. Bagi saya melahirkan adalah rangkaian perjalanan psikologis dimensi spiritual yang mendalam, sekaligus keajaiban yang hanya dimiliki oleh seorang perempuan. Dapat merasakan kenikmatan dari proses melahirkan, adalah keberuntungan, tetapi tentu saya tidak mengatakan, bahwa mereka yang belum melahirkan anak itu tidak beruntung. Melahirkan anak tidak pernah menjadi tujuan hidup dan impian saya sebagai perempuan, tapi di dalam proses ini ternyata ada banyak cinta, kebahagiaan, dan ketakutan yang tidak dapat saya ilustrasikan dengan cara apa pun, namun saya sangat bersyukur akan hal itu.

Konon katanya perempuan menjadi manusia sempurna jika ia mengalami proses kehamilan, dan melahirkan. Tetapi bagi perempuan penyintas PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), menjadi ibu adalah sesuatu yang tidak akan pernah mudah dan penuh dengan kekhawatiran. Belum lagi momok baby blues syndrome terus menghantui pikiran, dan semakin menambah ketakutan. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memahami keadaan ibu dengan PTSD, kecuali seorang psikolog atau psikiater. Tidak mudah juga baginya untuk mencurakan rasa dan emosi yang berkecamuk, bahkan dengan orang-orang terdekatnya sekalipun.

Kehamilan dan Melahirkan anak tidak selalu tentang bahagia.

Melahirkan bisa memberikan berbagai dampak yang bervariasi pada setiap ibu. Banyak ibu secara spontan dapat merasakan kebahagiaan, kebanggaan, dan cinta mendalam ketika mereka berhasil melahirkan. Itu karena melahirkan selalu dikisahkan sebagai momen perjuangan dengan mempertaruhkan hidup matinya seorang perempuan. Sebagian ibu dapat serta merta merasa terhubung dengan anak secara lebih mendalam setelah melahirkan. Namun, sayangnya tidak semua ibu bisa merasakan demikian. 

Entah sudah berapa banyak rasa bersalah yang saya alami, ketika saya merasa tidak layak menjadi seorang “ibu” yang membuat saya ingin menyerah pada hidup. Banyak rasa yang berperang baik itu saat kehamilan dan selepas melahirkan. Sekumpulan emosi dan trauma yang nyaris merusak kepercayaan diri saya sebagai perempuan. Sulit untuk saya membayangkannya, apakah saya mampu merawatnya dengan baik, apakah saya cukup kuat untuk melindungi seorang anak dari hal-hal yang tidak diinginkan? Perasaan khawatir, bahwa saya akan melukai jiwa darah daging saya sendiri, membuat saya merasa sebagai perempuan yang tidak layak untuk menerima anugerah sebesar itu.

Baca Juga  Memahami Makna Syukur dari Bapak Pengantar Paket

Mimpi-mimpi buruk dengan wajah mereka, manusia-manusia yang telah jumawa merundung dengan kedua tangan dan kaki terus memukuli, menyakiti hingga selalu berhasil meninggalkan jejak-jejak biru kehitaman pada tubuh saya. Mimpi yang menggambarkan suasana sekolah waktu itu, adegan demi adegan berlalu lalang seperti mentertawai saya. Mimpi dengan latar rumah penuh bunga-bunga, namun teriakan-teriakan orang dewasa terdengar begitu nyaring dari dalam sana. Semua itu menyiksa dan sangat menyesakkan dada, sehingga membuat saya kehilangan tujuan hidup meski hanya sesaat.

Keadaan yang membuat saya kehilangan percaya diri sebagai ibu, padahal sedang mengandung seorang bayi perempuan yang sehat nan cantik. Pertanyaan mulai dari, apakah kelak saya mampu melindunginya hanya dengan kedua sayap yang sudah robek compang-camping? Sudah terbayang ia bisa saja akan mengalami kejadian serupa seperti saya, dan bagaimana jika suatu hari rasa takut ini membuat saya menyerah lalu meninggalkannya? Sama seperti dulu saat saya ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat saya inginkan dan saya cintai.

Tiada seorang pun yang mengetahui sebesar apa kesedihan, kerinduan dan rasa amarah yang selama ini saya tanggung dalam diam. Kehamilan dan perubahan hormon, membuat psikologis dan fisik gonjang-ganjing. Belum lagi kewalahan mengatasi emosi berupa kesedihan dan kecemasan yang parah. Carut marutnya bad mood, flashback akankejadian-kejadian masa lalu terus berlari membayangi langkah kaki. Teriakan pertanyaan dan perang bathin begitu bising di telinga, yang pada akhirnya menimbulkan rasa takut, bahwa saya tidak akan pernah mampu menjadi ibu yang baik dan sempurna. 

Gangguan emosional dan reaktivitas pada penyintas trauma, dan PTSD, menyebabkan Ibu kesulitan menjalin ikatan bathin dan cinta yang kuat terhadap anak. Keadaan itu membuat saya harus berjuang dan mengusahakan lebih keras untuk dapat memberikan rasa cinta yang besar pada anak yang saya kandung. Sampai suatu ketika akhirnya saya mencoba perlahan belajar berkomunikasi dengannya, berbicara, membaca cerita, membacakannya ayat-ayat Al-Quran, mendengarkan musik klasik, dan semua yang katanya untuk janin itu baik. Aktifitas yang akhirnya menghadirkan sedikit kekuatan baru pada diri saya untuk sekali lagi bertahan, dan tidak menyerah.

Baca Juga  Tauhid: Pilar Perlawanan Palestina
Mencintai anak ternyata menyembuhkan bagi ibu seperti diriku.

Dua belas tahun yang lalu, saya belajar mencintai bayi perempuan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Penasaran bagaimana rupa bayi perempuan yang saya lahirkan, menguatkan kedua kaki ini untuk berjalan sembari sesekali meringis kesakitan akibat luka jahitan pasca operasi. Pada pandangan pertama itu, saya mencoba menyentuh jemari, dan pipinya yang putih kemerahan. Degup jantung berkejaran, dan air mata mengalir deras membasahi pipi. Sensasi hangat yang menjalari dada kala itu, masih bisa saya rasakan sampai hari ini.

Bahwasanya anak membawa kebahagiaan, dan keajaiban dalam kehidupan. Saat itu saya pun berharap  anak ini akan menjadi sumber sukacita dan kebahagiaan. Sesuai dengan makna nama yang saya berikan, “kegembiraan” atau “happiness.” Saya berharap nama itu menjadi doa, dan ampuh memupuk kasih sayang dan cinta yang tumbuh. Pada hari itu saya terus belajar mengatakan “I love you….Nak.” Setiap hari, dan sampai detik ini. Ingin terus memberikan banyak cinta dan sepenuhnya. Saya mulai bersemangat karena saya ingin anak saya selalu merasa, bahwa dirinya berharga dan dicinta oleh saya, ibunya. Keinginan yang membuat saya belum mau menyerah. Saya menyadari, periode membesarkan anak yang berliku tajam pasti akan ada banyak air mata, rintangannya, dan deritanya.

Akan tetapi pada akhirnya perjalanan panjang mengasuh anak memberikan obat penawar, dan mengobati hati saya yang banyak luka. Ternyata melahirkan dirimu adalah mukjizat yang perlahan telah menyembuhkanku. Sekaligus alasan terbaik bagiku untuk terus berjalan, meski harus merambat sampai berhasil keluar dari lorong trauma yang gelap. Sampai akhirnya kedua mata ini dapat melihat kemilau cahaya kehidupan yang indah dan gemerlap. Terima kasih Nak, kamu mau meraih jemariku dan memilih terlahir dari perempuan seperti diriku. Selamat hari Ibu, anakku sayang. Tanpa kelahiranmu, tidak pernah akan ada ibu yang dirayakan.

Bagikan
Post a Comment