f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kuat bahagia

Terlalu Sibuk Menjadi Kuat, Sampai Lupa Bahagia

Hidup yang ideal konon adalah hidup dengan seimbang, kapan merasa bahagia dan kapan harus kuat. Hidup memang seperti naik-naik ke puncak gunung, kadang naik, dan terkadang turun. Tetap bahagia, dan tetap kuat sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Seakan-akan hanya memakai dan melepas topeng secara bergantian. Seandainya saya boleh bertanya, apakah Anda sudah hidup sebagai manusia yang bahagia?

 “Saya belum menemukan kebahagiaan?”

 “Saya tidak bahagia ….”

“Saya tidak tahu apa itu kebahagiaan ….”

“Kenapa kok engga bahagia?”

 “Kamu itu engga bersyukur, belajar mensyukuri hal-hal kecil di dunia ini!”

Mendengar komentar semacam ini justru membuat saya rasanya semakin sedih dan terpuruk, bahkan merasa sebagai makhluk Tuhan yang tidak tahu diuntung. Sudah jangan sedih. Menjadi salah satu orang yang bahagia di dunia, adalah tujuan hidup saya beberapa tahun terakhir ini. Namun sayang, saya pernah di satu titik, di mana saya tidak tahu bagaimana caranya bahagia. Seperti manusia yang tersesat, ada saat seperti harus merangkak perlahan untuk bisa berdiri, kemudian berjalan perlahan. Itu semua agar saya tetap sama seperti manusia lainnya, Sampai akhirnya saya berhenti mengatakan “tidak bahagia” Alasannya adalah, saya sudah tidak sanggup lagi mendengar respons yang beragam itu tadi.

Sejak saat itu saya memutuskan untuk berpura-pura bahagia, meskipun faktanya berpura-pura bahagia lebih banyak membutuhkan kekuatan fisik, mental, dan spiritual. Alih-alih mengakui tidak bahagia, seakan saya manusia tidak tahu bersyukur atas semua karunia Tuhan. Saya memilih bertahan tetap kuat dengan melakukan banyak hal positif setiap hari, meski rasanya tetap tawar, namun setidaknya indah di mata mereka.

Tidak semua orang mampu mengakses rasa bahagia.

Setiap orang memiliki definisi berbeda tentang kebahagiaan, tidak selalu tentang perolehan, pencapaian atau suatu penghargaan. Akan tetapi di dunia ini ada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses rasa bahagia? Dan itu semua bukan karena tidak bersyukur, melainkan karena kondisi tertentu, seperti trauma, dan gangguan kesehatan mental lainnya seperti kecemasan, depresi, skizofernia, bipolar dan PTSD.

Baca Juga  “Memori Baik”: Kita Yang Menua, Mereka Yang Bertumbuh

Jika trauma tidak teratasi dan terabaikan begitu saja, maka bertahun-tahun kemudian akan merusak banyak sistem sirkuit di kepala kita yang memang pada dasarnya sangat rumit. Banyak penyitas PTSD, skizofernia, gangguan kecemasan dan bipolar yang mengalami anhedonia. Anhedonia, atau berkurangnya minat pada aktivitas yang menyenangkan dan ketidakmampuan untuk mengalami emosi positif, merupakan ciri utama PTSD (American Psychiatric Association, 2013).

Kisah Marshanda sebagai penyitas bipolar di kalangan aktris Indonesia yang dahulu memiliki karir terbilang bagus, dikaruniai seorang anak perempuan yang cerdas, cantik menawan. Rasa-rasanya tidak ada yang kurang dari kehidupan Marshanda, namun ternyata ia memendam trauma masa kecil sendirian. Faktor penyebab Marshanda mengidap bipolar salah satunya adalah karena perundungan, bekerja di dunia perfilman dan hiburan Indonesia sejak kelas 1 SD. Sibuk berkarier sejak kecil, telah membuat Marshanda tidak pernah mengungkapkan kesedihannya di depan orang lain. 

Sementara pada penyitas bipolar tidak hanya seperti Marshanda, mereka dapat mengalami anhedonia parah selama fase depresi, yaitu defisit dalam kemampuan untuk mengalami dan merasakan kesenangan atau kebahagiaan. Istilah anhedonia bisa terjadi juga karena ada perubahan senyawa kimia pada otak, menurut orami.co.id beberapa ahli mengatakan, bahwa anhedonia terjadi karena adanya pengurangan hormon dopamin, serotonin atau neurotransmiter kesenangan pada otak. Faktor ini tentu saja berhasil membuat seseorang menjadi sulit merasakan kesenangan apalagi kebahagiaan.

Ada bagian otak yang diyakini terlibat dalam kemampuan untuk mengalami kegembiraan dan kesenangan seperti: Amigdala, yang memproses emosi, dan korteks prefrontal, yang merencanakan dan memproses penghargaan, sehingga pada seseorang yang mengalami anhedonia, sistem otak ini tidak berfungsi. Pengaruh dari anhaedonia lainnya adalah mati rasa secara emosional karena peristiwa yang traumatis. Penelitian juga menunjukkan, anhedonia dapat membuat seseorang terus merasakan emosi negatif pada peristiwa yang mereka alami. Maka mengatakan seseorang tidak bersyukur kepada Tuhan, adalah salah satu sikap tidak empati dalam menanggapi keadaan seseorang.

Baca Juga  Dilema Kaum Muda yang Mengakibatkan Sulit Bahagia
Belajar menemukan makna hidup untuk belajar bersyukur.

Saya sering membaca status orang-orang, teman di media sosial, atau kata-kata mutiara sebagai caption unggahannya seperti berikut ini, “Jangan lupa bahagia” Apa penyebab seseorang sampai bisa lupa untuk merasakan bahagia, atau membahagiakan dirinya? Bisa karena terus-terusan hidup dalam situasi penuh tekanan, tubuh dan pikiran dalam status siaga, waspada dan survival mode. Memastikan dirinya kuat setiap saat, dan akhirnya lupa untuk bahagia.

Seseorang menjadi lupa bahagia, karena terlalu fokus pada masalah, ketakutan dan kecemasan mereka. Bisa pula karena trauma yang masih menghantui mereka. Sulit merasakan bahagia dapat berujung pada keterpurukan, daripada mengatakan tidak bersyukur, alangkah lebih bijaksana andai kita mau membantu mereka belajar untuk menemukan makna hidup. Menemukan makna hidup dan mencapai kebahagiaan adalah perjalanan yang sangat personal dan berbeda bagi setiap individu. Antara lain dengan merefleksikan diri, merenung tentang diri, nilai kehidupan dan minat.

Pertimbangkan apa yang membuat bahagia, atau apa yang kita anggap penting dalam hidup ini. Mengenali kepuasan, identifikasi aktivitas, atau pengalaman yang memberikan rasa puas dan kebahagiaan. Ini bisa berupa hobi, pekerjaan, relasi sosial, atau kontribusi terhadap masyarakat. Mencari tahu apa yang membuat energik, bersemangat, dan apa tujuan kita berekspresi. Menetapkan tujuan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai dan aspirasi kita. Tujuan akan memberikan arah dan makna yang jelas dalam hidup.

Mempraktikan kebajikan, melakukan tindakan baik, dan membantu orang lain dapat memberikan rasa pencapaian dan makna hidup. Memberi bantuan kepada orang lain, bisa memberikan kepuasan dan memperluas pandangan kita trehadap dunia. Belajar hal-hal baru dan melatih kesadaran akan membantu untuk lebih terhubung, sehingga membuat kita menghargai setiap pengalaman hidup. Berguna dalam meningkatkan apresiasi terhadap keindahan kecil yang terjadi.

Baca Juga  Muhadjir Effendy dan Pernyataan Keluarga Miskin

Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan perubahan dan tantangan. Belajar mengembangkan rasa syukur untuk semua pencapaian, dan apa yang kita miliki. Ingatlah bahwa pencarian makna hidup dan kebahagiaan adalah perjalanan yang berkelanjutan. Jalanilah hidup dengan kesadaran, refleksi, dan berkomitmen untuk terus bertumbuh sepanjang perjalanan hidup kita. Semoga rasa kebahagiaan itu segera datang, dan dapat dirasakan sampai lubuk hati terdalam.

Bagikan
Post a Comment