Ukuran Kesuksesan Seorang Muslim
Pernahkah kita merasa tertarik pada harta dan kekayaan secara berlebihan? Apalagi akhir-akhir ini kita sering melihat di sosial media gambaran tentang kesuksesan yang ukurannya adalah seberapa besar penghasilan. Tren ini semakin mempengaruhi cara kita menilai kebahagiaan dan prestasi seseorang.
Kita juga pastinya sering mendengar pernyataan “Orang yang sukses adalah mereka yang memiliki banyak uang”. Dan bagi beberapa orang ada yang berpedoman pada pernyataan tersebut. Namun, apakah benar bahwa harta ukuran kesuksesan seseorang?
Uang, Kunci Penghormatan?
Kita sering melihat bahwa mereka yang diwarnai oleh kekayaan, tentunya akan lebih dihormati di masyarakat. Teman-teman akan lebih menghormati seseorang jika mereka memiliki rekening bank yang gemuk, mobil yang mewah, atau rumah yang besar. Tidak jarang, memberikan penghormatan semacam ini tanpa melihat karakter atau perbuatan seseorang. Ini menciptakan lingkungan di mana seseorang mungkin merasa terdorong untuk menjadi sukses secara finansial tanpa mempedulikan dampaknya pada diri mereka sendiri dan orang lain.
Pada intinya, harta adalah segalanya. Fenomena ini menciptakan tantangan besar bagi generasi modern. Agama yang seharusnya menjadi pondasi moral, terkadang diabaikan atau bahkan terlupakan. Seiring berjalannya waktu, kita bisa kehilangan nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar kehidupan kita. Hal ini mengingatkan penulis pada sebuah hadis yang berbunyi:
عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ (رواه الترمذي)
Artinya: Dari Ibnu Ka’ab bin Malik al-Anshari, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada rusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kehormatan.” (H.R. at-Tirmidzi no. 2482)
Makna dari hadis ini adalah obsesi terhadap harta serta kehormatan dapat sangat merusak, ibarat serigala lapar yang dapat mengacaukan gerombolan kambing. Lebih jauh, pesan ini mengingatkan kita bahwa menjaga agama harus menjadi prioritas utama dalam hidup.
Harta Hanya Alat, Bukan Tujuan.
Ada sebuah kisah dari Samurah bin Sahm dan Mu’awiyah yang mengunjungi rumah seorang sahabatnya yang bernama Abu Hasyim bin ‘Utbah yang sedang sakit. Tiba-tiba mereka melihat Abu Hasyim menangis dengan air mata yang deras.
Mu’awiyah yang merasa prihatin dengan keadaan Abu Hasyim, bertanya padanya, “Wahai paman, mengapa kamu menangis? Apakah kamu sedang merasakan sakit yang begitu parah?” Abu Hasyim kemudian dengan lembut menjawab, “Bukan karena sakit, dan bukan juga karena urusan dunia.” Abu Hasyim kemudian menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah memberinya amanah. Rasulullah mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan memiliki harta yang akan kamu berikan kepada orang-orang. Meski demikian, cukuplah bagimu seorang pembantu dan kendaraan di jalan Allah.”
Ketika Abu Hasyim mendengar amanah ini, dia berkomitmen untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya, dia yakin bahwa harta yang akan diberikan kepadanya akan digunakan untuk kebaikan dan amal. Namun, selama beberapa waktu ia terlalu terjebak dalam mencari harta. Abu Hasyim akhirnya menyadari kesalahannya, ia merasa sangat menyesal dan sedih. Ia merasa bahwa hidupnya untuk terobsesi pada harta dan kehormatan dunia, sementara seharusnya ia lebih fokus pada agama.
Kisah Abu Hasyim ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Ia mengingatkan kita bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari seberapa besar harta yang kita kumpulkan. Tetapi juga dari sejauh mana kita menjaga ibadah kita. Dalam dunia yang semakin dikuasai oleh haus akan harta, penting untuk tetap ingat bahwa harta seharusnya hanya menjadi alat, bukan tujuan akhir.
Allah Swt berfirman dalam QS. Hud ayat 15-16 yang berbunyi:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٦﴾
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka. Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
Ini berarti bahwa orang yang hanya mengejar kekayaan dan kesenangan dunia, Allah Swt. akan membiarkan mereka menikmati hasil dari usaha mereka di dunia. Mereka mungkin akan mencapai kesuksesan secara material dalam hidup. Namun, meskipun mereka berhasil dalam dunia, mereka akan mendapati akhirat mereka yang terbengkalai.
Ayat-ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya fokus pada aspek akhirat dalam hidup kita. Karena setelah dunia akan ada kehidupan yang abadi dan lebih berarti. Kesuksesan dunia, meskipun penting, tapi tetap tidak boleh menggantikan persiapan kita untuk kehidupan abadi di akhirat.
Singkat penulis, kita sebagai seorang hamba hendaknya tahu apa yang harus menjadi tujuan akhirnya. Harta di dunia memanglah menggiurkan, namun surga jauh lebih indah untuk dianggurkan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, demi kesuksesan kita di dunia dan di akhirat.

Seorang penikmat seni dan pelajar hadis di kampus swasta bergengsi
@azzahralya

Heru
Keren mbak tulisannya. Semoga menginspirasi.