Menyunting Tulisan Sendiri
Ada banyak tahapan dalam belajar menulis. Tahapan itu bisa dilihat, misalnya, bagaimana mengungkapkan gagasan yang ada di kepala dan kemudian dituangkan dalam satu kalimat. Kalimat ini kemudian dirangkai menjadi paragraf. Barisan paragraf yang terhimpun dalam 5-6 kalimat ini menjadi sebuah gagasan yang bisa dibaca oleh publik, baik itu dalam bentuk esai, artikel jurnal, bagian buku, buku, cerpen, dan novel. Untuk mencapai fase tersebut, menyelesaikan tulisan adalah pencapaian terbaik yang bisa dilakukan, baik sebagai pemula ataupun level mahir.
Meskipun belum bergelut lama dalam dunia kepenulisan, saya mengamati bahwasanya menyelesaikan tulisan saja tidak cukup. Selesainya tulisan adalah kemampuan kita mengalahkan diri sendiri dengan durasi dan tenggat waktu yang kita inginkan. Namun, ada level tertinggi yang harus dilewati dalam dunia kepenulisan. Bagi saya, level tersebut adalah menyunting tulisan sendiri.
Saya sering mendapatkan asumsi bahwasanya semakin banyak menulis, maka akan semakin meningkat kemampuan kita dalam menulis. Investasi waktu yang kita berikan dalam proses berlatih ini akan menjadi semacam ukuran seberapa jauh kita bisa mencapai pada level ahli. Hal ini didukung oleh temuan dari Malcom Gladwell (2008), wartawan New York Times, dalam bukunya Outliers: The Story of Success. Menurutnya, seseorang bisa menjadi ahli di bidang apapun asalkan ia bisa menginvestasikan dirinya berlatih selama 10.000 jam. Untuk mencapai kuantitas waktu tersebut, jika kita berlatih 3 jam setiap hari, maka 1 tahun kita dapat mengumpulkan 1.095 jam. Rentang waktu ini, jika ditotal untuk sampai pada 10.000 jam, kita setidaknya membutuhkan waktu 9 tahun, dengan lebih 1 bulan, 18 hari, dan 1 jam.
Ini prinsip umum yang membuat orang bisa menjadi ahli. Pertanyaannya, mengapa orang kerapkali berlatih dan terus menulis memproduksi tulisan tapi tulisannya masih terbilang biasa saja? Meskipun dalam level kecepatan dan penyelesaian, ia bisa melakukan itu. Harus diakui, kuantitas tulisan yang menjadi investasi waktu seseorang dalam berlatih tidak menjadi jaminan bahwasanya tulisannya bisa bagus. Ini karena, dalam memproduksi tulisan, orang tersebut biasanya sekedar menulis saja tanpa adanya upaya perbaikan dari tulisan yang dibikin.
Jikalaupun ada, perbaikan yang dibikin tidak terlalu signifikan. Kondisi ini biasanya terkait dengan ruang media di mana ia menulis. Jika menulis di media, baik cetak ataupun online, jika gagasan dari penulis bagus, redaktur biasanya menyunting dengan sangat ketat, tajam, dan artikulatif. Di sini, kemampuan redaktur menjadi tonggak penting kualitas tulisan seseorang.
Namun, mengingat tidak adanya komunikasi intensif antara redaktur/editor dengan penulis melalui proses komentar dan perbaikan sebagai respons membuat penulis ini tidak belajar lebih detail terkait dengan gagasan yang dituangkannya. Di sini persoalannya. Perihal ini membuat penulis tidak tumbuh dari tulisan yang dibikin dan kemudian ia belajar dari kesalahan yang dibikinnya. Dengan kata lain, memiliki guru yang mengajarkan kesalahan kita dalam menulis menjadi bagian penting.
Tanpa guru, kita tidak tahu di mana letak kesalahan, kekurangan, dan buruknya kualitas yang kita bikin. Proses belajar ini bisa kita temukan dalam sesi-sesi pelatihan menulis yang sekarang semakin marak. Ini bisa kita temukan juga saat kita kuliah, baik di level S1, S2, dan S3. Jika kita bergelut dalam dunia akademik, proses peer review (suntingan kawan sejawat) dalam sebuah jurnal merupakan kunci utama kita belajar lebih jauh.
Meskipun belum memiliki pengalaman panjang dalam menulis, proses belajar dengan guru semacam itu saya alami dan resapi. Misalnya, saya belajar menulis secara keras sehingga membentuk kemampuan menulis. Proses belajar ini bukan hanya dari S1, melainkan S2 di Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Di sini, saya belajar dengan pembimbing yang bernama Dr. Budiawan. Tidak hanya mengajarkan kembali dasar-dasar menulis dengan menerapkan secara ketat terkait subjek dan predikat, melainkan pilihan kata yang digunakan sekaligus isi dalam tulisan tersebut. Dari keseluruhan tesis yang saya bikin yang terdiri dari 7 bagian (chapter), misalnya, masing-masing bagian dikoreksi olehnya selama 6-7 kali. Proses belajar kepenulisan yang keras dan ketat ini terpatri dalam ingatan saya; membentuk kemampuan menulis saya menjadi jauh lebih baik.
Proses belajar ini berlanjut ketika saya menulis makalah dalam bahasa Inggris untuk jurnal. Di sini, proses peer review yang ketat membuat saya menemukan celah kosong sekaligus kekurangan dalam tulisan setelah mendapatkan kritik dan masukan yang tajam dan keras. Selain itu, mengikuti kembali Academic Writing dari level pemula sampai mahir saat sekarang saya menjalankan kuliah S3 di Departement of Malay Studies, National University of Singapore membangun fondasi saya dalam menulis. Tidak hanya tahu apa yang kurang, melainkan apa yang mesti dilakukan.
Meskipun tidak terlalu banyak menulis opini di situs-situs internasional, adanya komunikasi dan tektok dari peninjau (reviewer) terkait dengan tulisan yang saya bikin, semakin menyadarkan kembali kelemahan saya dalam menulis; lemahnya struktur kalimat yang dibikin, miskinnya pilihan kata yang digunakan dan tidak cukup representatif gagasan utama yang membingkai keseluruhan tulisan.
Proses belajar semacam ini membuat saya kembali ke titik nol; pemula sebagai seorang penulis sekaligus sarjana untuk menekuni satu isu. Di sini, saya membuang semua pencapaian yang saya miliki; memproduksi sejumlah tulisan dalam berbagai bentuk. Kondisi ini kemudian menciptakan ruang refleksi, memungkinkan saya bertumbuh dalam berlatih menulis. Kemampuan itu adalah saya bisa mengedit atau menyunting tulisan sendiri berkali-kali. Setelah dirasa cukup dan merasa mantap, saya memberanikan diri untuk mengirimkan kepada media online ataupun jurnal.
Dengan sejumlah proses belajar menulis ini sekaligus sekarang masih mengalami, saya menyimpulkan bahwasanya kemampuan menyunting tulisan sendiri adalah level tertinggi dari proses berlatih menulis. Selain melihat celah kosong dalam tulisan, kelemahan dalam argumen, kesalahan dalam kata, dan kekurangsempurnaan dalam kalimat, menyunting tulisan sendiri adalah upaya untuk menundukkan ego kita dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri; apakah tulisan ini sudah bisa dimengerti oleh pembaca?.

Peneliti PMB-BRIN dan Mahasiswa S3 Kajian Melayu, National University of Singapore
IG w. akmaliah
