Jagalah Orang Tuamu, Mereka Adalah Pintu Surga yang Paling Tengah
Kehidupan itu memang misterius, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan kecuali Sang Pencipta. Siapa sangka seorang pria yang hanya tamatan SD dan seorang puan yang hanya tamatan MTs, bisa menyekolahkan anak-anak nya hingga ke jenjang pendidikan tinggi. Mereka adalah orang tua saya. Sosok pria yang hanya tamatan SD dan sosok puan yang hanya tamatan MTs tidak lain dan tidak bukan adalah ayah dan ibu saya. Tulisan ini akan membawa kita kembali pada sepelik kehidupan mereka yang begitu bermakna.
Apakah kalian pernah mendengar sebuah frasa, “Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya”? Mungkin bagi sebagian orang frasa tersebut tak bermakna, akan tetapi bagi saya frasa tersebut sangat memiliki arti yang begitu mendalam. Ayah saya adalah cinta pertama bagi saya. Sosok anak laki-laki yang hidup bukan bersama orang tua aslinya. Dia diangkat menjadi anak oleh paman dan bibinya sedari bayi. Tidak ada yang tahu, apa alasan mereka mengangkat anak laki-laki itu menjadi anak.
Mungkin jika dibayangkan berniat untuk mengangkat dan mengasuh seorang anak pastinya akan dirawat dengan baik dan disekolahkan dengan tinggi. Ternyata tidak. Entah bagaimana cara semesta bekerja pada nasib dan masa depan anak itu. Anak laki-laki yang lugu dan pendiam, yang hanya bisa mematuhi perintah orang di sekitarnya itu tumbuh dengan bermacam tekanan dalam hidupnya. Usia 8 tahun adalah usia di mana seorang anak masih asyik dalam dunia bermainnya. Tidak untuk dia, sepertinya semesta tidak mengizinkan dia merasakan hal itu.
***
Sekolah sambil bekerja, membantu mencari rumput setiap hari, mendapatkan cacian, tamparan bahkan pukulan adalah makanan sehari-hari dia. Tidak pernah terbesit dalam benaknya untuk melawan atau membalas perbuatan itu. Dia selalu menuruti perintah orang di sekitarnya, meskipun hanya olokan yang dia dapat. Satu permintaan yang pernah ia lontarkan kepada orang tua angkatnya hanyalah ingin melanjutkan pendidikannya setelah sekolah dasar. Namun, sekali lagi semesta suka sekali bercanda, permintaan itu pun tidak terkabulkan.
Apakah masa depannya akan suram? Apakah kebahagiaan tidak akan pernah berpihak padanya? Belum tentu. Semesta mungkin suka bercanda, namun semesta juga punya kejutan dan keajaiban untuknya.
Jodoh itu memang misterius. Tak ada yang menduga anak laki-laki nan polos itu berjodoh dengan seorang gadis yang ternyata bernasib sama dengan dia. Seorang gadis yang berasal dari sebuah keluarga yang hancur. Kedua orang tuanya bercerai saat dia berusia 2 tahun. Setelah orang tuanya resmi bercerai, ia pernah tinggal bersama ayahnya yang telah menikah lagi dengan seorang wanita dan dikaruniai dua anak. Bersama ayah, ibu dan adik tirinya dia berharap dia bisa mendapat kasih sayang yang semestinya. Ternyata ibu tirinya sedikit pilih kasih kepadanya.
“Sarapanmu opo nduk isuk mau?” Tanya seorang pedagang nasi pecel pada gadis itu. Dengan polos ia menjawab, “Telo godog”. Padahal baru saja sebenarnya ibu tirinya membeli nasi pecel dari pedagang itu. Nasi pecel itu ternyata diberikan hanya untuk anak kandungnya, sedangkan dia diberi makan ubi rebus. Gadis kecil yang sungguh malang.
***
Saat usianya beranjak 5 tahun, dia diajak oleh bibinya untuk tinggal bersama. Tinggal bersama keluarga orang. Mungkin sejenak dia merasa bahagia, karena dia berharap di sana dia akan lebih disayang. Dia berpikir dia akan bisa bersekolah dengan nyaman, bermain dengan teman-teman seusianya. Sayang sekali harapan itu dipatahkan oleh kenyataan yang ada. Di sana semua mimpi buruk itu terjadi. Dia memang disekolahkan, namun dia juga mendapat tanggungan yang tak semestinya diberikan kepada seorang gadis kecil berusia 10 tahun. Berbagai pekerjaan orang dewasa seperti memasak, mencari kayu bakar, mengasuh anak dilimpahkan padanya. Bahkan, di usia sekecil itu dia harus siap menghadapi amukan dari pamannya jika dia belum menjalankan apa yang diperintahkan.
Pernah suatu hari, pamannya menyuruhnya untuk pergi ke hutan guna mencari kayu bakar, dan dia pulang terlambat. Saat perjalanan pulang ketakutan sudah menyelimuti pikirannya. Hal yang ditakutkan adalah hukuman apa yang akan didapatkan. Dalam hatinya dia hanya bisa berserah dan berdoa. Mungkin cacian atau makian yang akan ia dapat. Ternyata amukan pamannya tak bisa ia hindari. Dia ditarik ke luar rumah, kemudian diikat di salah satu tiang rumah, disiram dengan air bekas cucian dan dikentuti oleh pamannya. Dia hanya bisa menangis sambil meminta maaf.
Gadis kecil yang selalu bersembunyi hanya untuk belajar mengaji ke rumah tetangganya. Dia sangat ingin bisa mengaji seperti teman-temannya, namun pamannya tidak pernah mengizinkannya. Mukena adalah hal yang paling diidam-idamkan saat itu. Dia ingin sekali memiliki mukena lalu pergi ke masjid bersama teman-temannya. Bahkan, di sana dia pernah mengalami koma selama satu bulan penuh.
***
Singkatnya, itu hanyalah sepenggal kisah masa kecil dari sepasang insan yang selalu dicaci dan diremehkan. Di balik itu semua, mereka sangat yakin bahwa segala cobaan dalam hidup pasti suatu saat ada hikmah di dalamnya. Seperti yang terkandung dalam Q.S al-Insyirah ayah 5-6 yang artinya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
Berbekal sebuah keyakinan bahwa Allah pasti memiliki rencana terbaik untuk setiap makhluknya. Entah bagaimana perjuangan mereka, hingga pada akhirnya semua kesulitan yang mereka alami di masa kecil tergantikan dengan kebahagiaan. Anak laki-laki itu telah menjadi sosok “ayah” yang selalu dibanggakan oleh anak-anaknya. Gadis kecil itu telah menjadi sosok “ibu” yang selalu disayangi oleh kedua anak dan suaminya.
Dengan peluh yang selalu menetes di dahinya, Ayah saya tidak pernah mengenal lelah mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Dengan kesabaran dan kasih sayang yang begitu dalam, Ibu saya tidak pernah sekalipun mengeluh dalam merawat saya dan adik saya.
Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, “Orang tuamu adalah pintu surga yang paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi: 1900, HR. Ibnu Majjah: 3663, dan HR. Ahmad 6: 445, Hadis Hasan).
Pesan saya untuk semua anak, jagalah ayah dan ibumu, sayangilah mereka, berbaktilah kepada mereka. Selagi nafas mereka masih berhembus di dunia ini, jagalah mereka, jangan sampai engkau menyesal karena telah menyia-nyiakan pintu surga terbaikmu.
Tulisan ini saya persembahkan khusus kepada kedua orang tua saya. Saya hanyalah sosok anak perempuan yang tidak tahu cara membalas kasih sayang mereka yang begitu besar, kecuali hanya dengan doa yang selalu saya ucapkan setiap hembusan nafas saya.
Mahasiswi Psikologi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Dapat dihubungi melalui instagram @lutfiana.alfa.

Ananda Putri
Kisah yang menginspirasi sekali, terimakasih kak tulisannya sangat keren 👍