Ketika Memutuskan Menitipkan Cucu Kepada Kakek Nenek
Minggu pagi itu seperti biasa saya belanja stok sayur. Pedagang pertama yang saya jumpai adalah budhe sayur depan rumah. Ketika sedang memilih sayur si budhe berkata kepada suaminya, “Suwe-suwe tak banting bocahe iki!” (Lama-lama tak banting anak ini). Sontak saya terkejut mendengarnya dan ingat anak di rumah yang usianya tak jauh beda dengan bayi yang dibawanya.
Saking kagetnya dengan situasi tersebut saya langsung memandangi budhe penjual sayur itu. Usianya mungkin mendekati 60 tahun. Keriput di wajahnya cukup mengguratkan betapa berat beban hidupnya. Rasa letih menghiasi sebagian besar raut mukanya. Pantas saja dia sambat.
Dulu sempat terpikir bahwa menitipkan anak pada nenek atau kakeknya itu enak. Lha, kita tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk biaya menjaga anak. Konsumsi dan akomodasi lain untuk anak pun aman.
Setidaknya nenek dan kakek tahu yang terbaik untuk cucunya. Pun, kita tidak perlu khawatir dengan keselamatan anak seperti yang terjadi di pemberitaan itu. Tapi, pikiran tentang rasa ‘enak’ itu terbantahkan hari ini. Ada beberapa hal yang ternyata perlu menjadi bahan pertimbangan sebelum menitipkan cucu kepada kakek neneknya!
Pertama, bagaimana kondisi kesehatan kakek nenek.
Untuk bisa menjaga anak kita dengan baik tentu kondisi kesehatan menjadi tolak ukur pertama untuk menitipkan anak. Menjaga anak bukan perkara yang mudah, apalagi jika masih batita. Emosi kita sendiri sebagai orang tua kadang naik turun ketika mendampingi si kecil bukan? Kakek nenek tentu butuh tenaga ekstra. Jika kurang fit atau terlampau terguras energinya tentu mudah sakit.
Rekan kerja saya dulu sempat menitipkan anak kepada mertuanya. Mertuanya memang mempersilahkannya bekerja dan menawarkan untuk menjaga anaknya saat dia bekerja. Di awal-awal semuanya berjalan dengan baik dan menyenangkan. Teman saya bisa tenang bekerja bahkan sesekali nongki jika pikiran sedang penat. Yang penting stok ASIP cukup. Tapi, tak lama mertua lelakinya sakit dan harus bolak-balik rumah sakit. Otomatis mertua perempuannya yang menjaga anaknya. Untuk tetap bisa bekerja, anaknya dititipkan ke day care.
Kedua, adakah beban pekerjaan lain kakek nenek?
Ternyata, beberapa orang yang sudah lanjut usia justru senang menyibukkan diri. “Pegel nek ora nyambut gawe (Capek kalau tidak bekerja)!” itu yang sering Simbah (nenek) ucapkan dulu. Atau bahkan ada yang seperti budhe sayur tadi. Yang masih mencari mata pencaharian untuk menghidupi dirinya di usia senja. Setiap keluarga tentu punya problematika ekonomi yang berbeda.
Peristiwa ‘belanja sayur’ tadi masih membekas dalam pikiran. Saya membayangkan betapa letihnya budhe sayur menunggu dan melayani pembeli. Ditambah beban mengasuh bayi berusia 8 bulan.
Tentu sangat tidak etis jika menitipkan anak dengan alasan ‘bekerja’ padahal kakek neneknya pun sedang bekerja. Ingatlah bahwa mereka tidak punya andil apa-apa atas anak itu. Mereka tak menyumbang sperma atau sel telur pada cucunya. Kehadiran anak itu murni karena keinginan kedua orang tuanya. Dalih kasih sayang sungguh tidak pantas jadi acuan untuk menitipkan cucu pada kakek neneknya. Kalau kata Bang Haji, “Sungguh terlalu!”
Ketiga, pastikan kesiapan kakek nenek!
Banyak kasus yang saya temui, cucu ditiitipkan ketika cuti melahirkan sudah habis. Berarti usianya sekitar 3 bulan. Pada usia ini tentu lebih mudah menjaganya, anak baru bisa tengkurap bolak-balik. Nah, naik level dikit anak akan lebih aktif bergerak. Belum lagi bila dia mulai MPASI. Drama GTM dan explore lingkungan sekitar yang sering terjadi pada anak itu bisa dikatakan lumayan ruwet. Siapkah kakek nenek?
Standar pengasuhan orang tua dan kakek nenek kepada cucu biasanya berbeda. Tak semua kakek nenek bahkan paham dengan pemberian ASIP atau susu formula untuk anak. Saat makan, mungkin kita ingin anak duduk tenang di kursi, tapi pada praktiknya bersama kakek nenek digendong.
Pada saat-saat seperti itu kita sebagai orang tua si anak perlu mengikhlaskan ketidaksesuaian tersebut. Atau jika tidak mau terjadi tentu perlu training sebelum pelaksanaan. Sebuah pertanyaan muncul kembali. Maukah kakek nenek menjalani training ala orang tua cucunya?
Menitipkan cucu kepada kakek neneknya tentu saja tindakan yang sah. Selama semua bisa bekerjasama dan saling menjaga. Orang tua perlu menurunkan standar pengasuhan anak ketika bersama kakek neneknya. Kondisi fisik dan psikis kedua belah pihak perlu diamati secara berkala untuk kebaikan bersama.
Ketika kakek nenek melontarkan keluhan tentang cucunya, perlu kita cermati. Bagian mana yang perlu diperbaiki. Pun begitu bila anak mengeluh selama bersama kakek nenek. Kita memang keluarga inti. Tapi perlu diingat bahwa jika sudah memutuskan berkeluarga, semua menjadi berbeda.
Kalau ngomongin kakek nenek lebih menyayangi cucu ketimbang anaknya, itu jelas pernyataan yang tepat. Betapa senangnya mereka membuai anak keturunan mereka. Tapi, apakah atas dasar rasa sayang itu cukup menguatkan kita untuk menitipkan anak kepada kakek neneknya? Tentu tak semudah itu Ferguso!
IRT yang suka menulis, mantan Orthopedagog
