f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nabi zakaria

Menanti Buah Hati; Belajar dari Nabi Zakaria

Saat anak pertama berusia enam tahun, saya dan istri bersepakat menambah momongan. Tak menunggu lama, dua bulan kemudian istri saya telat mendapatkan lagi “tamu” bulanannya—hingga bulan kedua. Lantas istri saya coba membuktikannya dengan test pack selepas salat subuh. Dua garis biru tercetak. “Pah, positif,” pekiknya. Raut mukanya menggambarkan kegembiraan luar biasa.

Masuk bulan ketiga, saya mengantar istri memeriksakan kandungannya ke klinik bidan dekat rumah. Hasil pemeriksaannya, menguatkan istri saya hamil. Alhamdulillah. Atmosfir kebahagiaan meliputi seluruh penghuni rumah termasuk Habib, anak pertama kami yang sudah tak sabar menanti calon adiknya kelak.

Hingga pada suatu sore, istri saya mengeluh sakit pada rahimnya. “Pah, ada bercak darah,” ujarnya lirih. “Banyak?” tanya saya cemas. “Iya, Pah,” jawabnya sambil menahan air matanya menetes. Tak tunggu lama saya pun segera membopongnya ke motor. Si kecil Habib kami titipkan ke tetangga sebelah rumah. Saya langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat di daerah kami tinggal. Sekitar 20 menit perjalanan, sampai juga motor saya di parkiran rumah sakit dan saya pun bergegas masuk ke ruang UGD.

Akhirnya malam itu istri saya resmi harus opname di rumah sakit. Di kamar rawat inap, saya dan istri menantikan dokter. Kata suster yang jaga, sepertinya akan ada tindakan kuret yang diawali dilatasi. Kami pun menurut saja.

*

Dalam waktu bersamaan, bercak darah masih terus keluar sedikit demi sedikit dari rahim istri saya. Tunggu punya tunggu, kok belum datang juga si dokter yang dijanjikan. Saya pun menanyakan ke suster jaga. Jawabannya sungguh membuat saya kecewa, karena suster tak dapat memastikan pukul berapa dokter datang malam itu.

Saya berada dalam posisi dilematis. Satu sisi istri masih “pendarahan”, sisi lainnya sang dokter yang diharap-harap kedatangannya tak kunjung tiba, dan tanpa kepastian. Saya pun bertanya kembali ke suster penjaga terhadap kemungkinan datangnya sang dokter kandungan. Lagi-lagi suster tak dapat memastikan.

Baca Juga  Matahari Pukul Sepuluh

Dan saya memutuskan malam itu juga, keluar dari rumah sakit. Akibat belum berjumpa dengan sang doter, maka saya tak mendapatkan keterangan kondisi istri saya malam itu. Lha, bagaimana bisa tahu, dokternya belum datang.

Istri saya akhirnya dapat keluar rumah sakit secara prosedural, setelah saya menandatangani keluar rumah sakit atas kemauan dan tanggung jawab sendiri. Entahlah, keputusan tersebut saya ambil karena saya panik atau karena putus asa menanti kedatangan sang dokter. Yang pasti saat itu saya berpikir, tak dapat berharap banyak dari manusia.

*

Sampai rumah, istri saya langsung berlari ke kamar mandi. Lalu, saat ia keluar dari rumah sakit, tangisannya meledak. “Pah, keluar darah banyak sekali,” jeritnya. “Ada bulir-bulir besar darah yang keluar.“ Saya berpikir, apakah ini yang namanya keguguran?” Saya pun merenung sejenak, memang aktivitas saya dan istri cukup tinggi naik motor ke sana ke mari beberapa waktu. Untunglah istri saya dalam kondisi stabil saat itu, dan darah sudah berhenti keluar. “Mungkinkah keluar alamiah?” Lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri.

Saya menghibur istri saya dengan berkata,” Tumpahkan saja air matamu, jika itu semua membuatmu lega hati.” Dan benar saja, selesai saya berbicara, tangisan istri saya semakin keras membahana, bergema di dalam rumah kami. Saya memutuskan istri saya istirahat saja di rumah.

Lalu ke mana saya? Saya hanya terdiam. Namun saya bersegera mengambil wudhu, menunaikan salat dua rakaat di atas sajadah. Membenamkan kening dalam samudera rahmatNya, ‘tuk bermuhasabah diri betapa banyak dosa yang bisa jadi menjadi asbab ujian yang menimpa.

Dalam sujud itu, saya terisak dan pecahlah segala endapan beban seiring air mata yang tumpah. Selesai salat, istighfar tak henti saya dengungkan. Saya pun teringat Al-Qur’an surat Al-ankabut ayat 2-3: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,”Kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Baca Juga  Perempuan di Tengah Badai (3): Kesalahan

Saya yakin pula bahwa Allah tidak akan mencoba hambanya jika si hamba tak sanggup menanggungnya. Maka, saya camkan dalam lubuk hati terdalam bahwa ujian yang saya alami dengan istri masih belum seberapa dengan kesabaran Nabi Ayyub yang diuji penyakit kulit bertahun-tahun lamanya, namun tetap sabar dan ikhlas.

*

Saya juga terkenang kisah Nabi Zakaria yang sangat sabar dan cukup lama mendapatkan keturunan. Seperti kita ketahui Nabi Zakaria adalah Nabi Allah yang akhirnya mendapatkan keturunan saat usia yang tak muda, yakni usia 99 atau 120 tahun dalam riwayat yang berbeda.

Dari rahim istri Nabi Zakaria, lahirlah Nabi Yahya a.s. Bukti doa Nabi Zakaria diabadikan di QS. Ali Imran ayat 38 yang artinya: “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” Dan juga di QS. Al Anbiya ayat 89: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik.”

Saya dan istri pun tersadar, bangkit dan mulai mengamalkan doa tersebut, di samping sujud dan sedekah kami tingkatkan. Dan, Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Allah ijabah dan ganti kehilangan kami dengan hadiah setahun kemudian istri saya hamil. Tahun berikutnya seorang bayi perempuan lahir pada usia kehamilan 9 bulan 8 hari dengan proses cesar. Saya namakan ia Tsurayya.

Ternyata tak cukup satu anak Allah ganti calon bayi saya sebelumnya, tapi langsung Allah kasih dua anak. Satu setengah tahun kemudian, Allah amanahkan kembali saya dan istri seorang bayi laki-laki. Kami namakan Tsaqib.

Baca Juga  Soup Rasa Laboratorium
*

Tahun 2021, lengkap sudah tiga anak kami miliki kini. Anak pertama, Habib, berusia 13 tahun duduk di kelas 1 MTS. Anak kedua, Tsurayya berusia 6 tahun, akan memulai sekolahnya di sebuah SDIT. Dan si bungsu, Tsaqib, akan menjadi murid TK.

Terima Kasih, ya, Allah. Ternyata rencanaMu lebih indah dari prasangka hambaMu ini yang dho’if dan faqir ilmu ini.

Jadi, Saudaraku, sungguh tak selamanya hari itu selamanya malam, pasti akan bertemu siang hari juga, dari gelap menuju terang (minazhzhulumaati ilan nuur).

Pelajaran yang saya petik dari perjalanan mendapatkan anak kedua dan ketiga tersebut adalah sesungguhnya jika Allah sedang rindu pada rintihan hambanya yang dulu biasa si hamba lakukan, maka disaat itulah Allah menunjukkan kerinduanNya melalui ujian atau cobaan yang diberikan kepada kita hambaNya.

Bisa jadi Allah memang merindukan hambaNya, merintih dan mengadu kepadaNya. Bukankah dalam sebuah hadis qudsi disebutkan: “Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya karena Aku ingin mendengar rintihannya” (HR.Thabrani dari Abu Umamah). Wallahu a’lam.

Bagikan
Post a Comment