f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bahagia

Bahagia, Bukanlah Angka

Tak seorangpun menolak bahagia. Termasuk Anda, bukan? Nyaris tak seorangpun menolak bahagia. Tepatnya, segala gerak langkah manusia normal adalah menempuh jalan menuju kesempurnaan. Menuju bahagia. Untuk menggapainya bahkan hal-hal irasional dan melanggar hukum ditempuh oleh banyak orang. Contohnya berpura-pura menjadi orang lain.

Hal tersebut sering terjadi, ketika upaya menggapai impian bahagia itu gagal, kekecewaan menghimpitnya. Sebagian orang terus mencoba cara lain, sebagian butuh waktu pulih, dan sisanya mengambil jalan pintas yang bahkan seringkali fatal.

Kadar Kebahagiaan

Ada seorang istri merasa begitu bahagia mendapatkan suami yang ideal sebagai buah pencarian bahagianya. Segala syarat minimal yang ia jadikan pegangan adalah konversi bahagia menurut pemikirannya. Lolosnya syarat keindahan secara visual, secara administratif tercatat sebagai lulusan PT terpandang, status sosial yang disandang mertua, dan pekerjaan sang suami di perusahaan besar dengan gaji selangit dan bonus-bonus serta perjalanan dinas manca negara.

Namun bahagianya belum lengkap. Suaminya itu sering meninggalkan shalat. Maka berkuranglah kadar kebahagiaannya. Ia gigih memperjuangkannya. Menyindir, merayu, merajuk dan memberikan tausiyah setiap ada kesempatan. Namun sang suami belum juga mendapatkan hidayah.

Akibat tidak nyaman dengan frekuensi tausiyah sang istri, suami mulai menjaga jarak dan mulai membagi teritori antara pernikahan dan soal iman.  Si istri akhirnya menyimpulkan bahwa kebahagian tidak melulu soal materi. Aspek agama adalah hal yang terpenting dalam hidup. Dan seorang suami harus menjadi imam bagi istri dan anaknya.

Berangkat dari keyakinan bahwa kebahagiaan itu adalah religiusitas, ia menggugat cerai suaminya. Dan ia menikah dengan seorang ustaz muda ganteng kaliber lokal. Dengannya ia mendapatkan kebahagiaan baru. Betapa puasnya ia ketika pertama kalinya menjadi makmum suaminya sendiri. Mendengar bacaannya yang tartil, makhrajnya yang sempurna, dan caranya memperlakukan dia terasa sangat mendebarkan. Ia mabuk dalam cawan kebahagiaan ritual agamis di minggu-minggu pertama.

Baca Juga  Kesetaraan dalam Rumah Tangga
Pencarian Kebahagiaan

Perasaan mabuk religiusitas itu berganti secara revolusioner menjadi guncangan finansial. Di awal bulan suaminya menyerahkan amplop bulanan sebagai guru honorer di madrasah. Nominal yang sedang digenggamnya biasa ia belanjakan sekali di mini market. Belum lagi cost untuk pemeliharaan diri, hingga anggaran kuota.

Ia mulai sesak nafas.  Mulai ingin merekonstruksi konsep kebahagiaan. Apa ia tidak terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan ekstrem? Dalam kegamangannya ia menutupi kebutuhan sesuai standar masa lalunya dengan uang tabungannya. Tapi itu tak bertahan lama. Ia tak rela berbagi dengan suaminya yang alim itu.

Tak terlalu lama bertahan dengan konsep kebahagiaan yang ia pikir adalah faktor agama, ia mengajukan perpisahan segera. Tak ada artinya menikah dengan seorang agamis yang minim fulus.

Ia merenungkan segalanya. Jika ia independen secara finansial, ia mungkin akan bahagia. Ia tak perlu mengharapkan gaji dari suami. Ia tak perlu mengharapkan seorang imam sekaligus mapan. Ialah yang harus mapan dan beragama dengan total.

Dengan status janda dua kali, ia mulai mengirimkan lamaran kesana kemari, mengontak semua koneksi yang mungkin bisa memberi peluang kerja. Untuk kembali ke rumah orang tuanya ia merasa malu. Status sosialnya kini sudah di ambang pergeseran. Ia masih memakai mobil mahalnya tapi pajaknya mahal, BBMnya boros dan servis berkalanya lumayan menguras kantong. Yang bijaksana adalah menukarnya dengan yang lebih murah. Tapi gengsinya mencegahnya melakukan itu.

Meragukan Kebahagiaan

Mencari pekerjaan bukan perkara mudah. Semua yang ia dapat hanya lowongan sales atau marketing. Ia mulai lelah. Di malam-malam senyap ia melakoni ritus. Bersedekah juga dilakukan semampunya dengan harapan Tuhan menganugerahinya reward.

Tapi Tuhan rupanya belum berkenan. Ia mulai meragukan ibadahnya. Mulai berpikir ibadahnya sia-sia. Tuhan tidak peka. Dan kebahagian yang ia kejar terasa semakin menjauh. Kehidupannya semakin absurd.  Ia diombang-ambingkan perasaan kecewa terhadap persepsi bahagia yang ia bangun.

Baca Juga  Menyemai Benih Nalar Beragama dari Sekolah

Dalam kegelisahannya ia menemui sahabatnya seorang guru honorer beranak dua. Suaminya baru saja meninggal. Ia mendapatkan gaji bulanan sebesar Rp 600 ribu. Dengan uang itu ia menjual  gorengan. Ia titipkan di warung-warung dekat rumahnya. Ia juga mengajar privat beberapa siswa dan mendapat sedikit tambahan.

Tidak berhenti di situ, 2 kali seminggu ia menerima jasa menggosok baju. Memang melelahkan. Tapi ia harus bertahan. Ia mengupah seseorang untuk menjaga anaknya ketika ia bekerja.

Tapi Tuhan maha pemurah. Selalu saja ada yang memberi makanan pada mereka. Berkali-kali ia mengucapkan syukur. Katanya, ia bahagia dan bersyukur dikaruniai dua anak. Bersyukur masih punya pekerjaan dengan upah di bawah UMR. Bersyukur memiliki kesehatan sehingga ia bisa bekerja serabutan.

Menemukan Kembali Kebahagiaan

Dari caranya bicara, ia yakin sahabatnya itu memang bahagia. Lama ia merenungkannya. Dan merasa malu. Ia telah merusak rumah tangganya yang pertama karena alasan agama. Padahal mungkin dengan kesabaran, suaminya akan bisa menjalankan shalat seperti semestinya. Proses beragama seseorang sangat personal dan unik. Perjalanan spiritual tidak bisa dipaksakan.

Pernikahan kedua ia tinggalkan karena berpikir bahwa ternyata sikap agamis saja tidak cukup. Hidup tak melulu soal shalat dan ritual lainnnya. Kemapanan untuk hidup layak tak kalah penting.

Faktanya,  ia mengejar kebahagiaan yang ia sendiri tak benar-benar faham maknanya. Ia hanya melihat dan mau tak mau menjadi perenungannya, bahwa sahabatnya bisa bahagia dengan kondisi yang secara finansial kembang-kempis bahkan menjadi orang tua tunggal.

Paradigma baru itu sekarang tampak utuh. Kebahagiaan bukan soal numerik. Bukan juga soal ritual agamis. Sungguh keliru meminjam tangan orang lain yang dikukuhkan sebagai imam rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan. Sejatinya kebahagiaan ternyata adalah sikap pribadi yang  bersyukur secara aktif dalam menjalani realitas kehidupan.

Bagikan
Comments
  • anne yuniarti

    kereeen 🥰🥰🥰🥰

    Oktober 19, 2020
  • Christiana Ishak

    Keren Lin. Penulisannya khas gaya Lina, baca cerita aliran fiksi tapi ditopang analisa sang penulis. 👍😊

    Oktober 20, 2020
  • Imas

    Cerita yg luar biasa. Aku suka banget gaya bahasa dan alur yg dipake nya.
    Rasional dan realistik dikemas dlm bahasa yg artistik

    Oktober 20, 2020
  • Ayanti

    Mantaap Linaa..
    Pengingat bagus yg di kemas dg menarik…menginsfirasi

    November 3, 2020
  • Mas Super

    Penulis sedang mencoba menampilkan kisi-kisi kisah seseorang yang sedang mengeksplorasi makna bahagia mulai dari dirinya sendiri, dan orang-orang yang ditemuinya, dan mencoba mengintepretasikannya sebagai makna kebahagiaan dari masing-masing orang tersebut …

    Tulisannya tersusun dengan rapi dan berurut fragmen demi fragmen, namun tentu saja perlu tetap terbuka untuk menerima masukan dalam memaknai apa itu kebahagiaan…

    Desember 31, 2020
Post a Comment