Mencintai Cita-Cita: Refleksi 20 Tahun
Sabtu (10/10) kemarin usia saya tepat menginjak angka seperempat abad. Harusnya pada hari itu juga, tulisan ini sudah selesai. Namun karena berbagai kesibukan dan kegiatan yang menghimpit, saya baru berkesempatan menyelesaikannya sekarang. Sebelumnya, kawan-kawan juga perlu saya ingatkan bahwa tulisan ini bukan sebuah refleksi yang berat. Jadi merupakan pekerjaan sia-sia jika kawan-kawan berharap bisa mendapatkan penghayatan yang sarat akan sentuhan spiritual dan intelektual di dalamnya. Tulisan ini hanyalah refleksi ringan atas berbagai momen yang saya lewati selama 20 tahun mengarungi hidup.
Ini adalah kali pertama bagi saya menulis refleksi di hari milad saya sendiri. Kebanyakan refleksi yang saya tulis ialah ketika memperingati milad organisasi yang saya cintai atau tokoh yang saya kagumi. Di antara tokoh idola yang kemarin sempat saya tulis refleksinya adalah tentang Prof. Dr. Amien Rais dan Prof. Dr. Nurcholis Madjid. Adapun untuk organisasi, saya beberapa kali menulis refleksi tentang Muhammadiyah.
Alasan Menulis Refleksi
Sebenarnya ada banyak keraguan yang mengendap di benak saya ketika hendak membuat tulisan ini, apalagi sampai mengirimkannya ke media. Ada beberapa hal yang membuat saya ragu dan berpikir berulang-ulang untuk menuliskan refleksi ini. Pertama, saya bukanlah tokoh besar. Jadi orang-orang sesungguhnya tidak perlu dan tidak penting untuk tahu soal kehidupan dan perjalanan hidup saya yang menginjak usia ke dua puluh tahun ini.
Kedua, refleksi ini lebih merupakan curhat ketimbang analisis atas suatu fenomena atau ulasan pemikiran. Jadi, saya kira tidak perlu untuk mengirimkannya ke media, apalagi ke media besar seperti Rahma.id ini. Tulisan yang sedang saya buat ini akan lebih pantas kalau saya unggah di blog pribadi. Tempat yang memang pantas untuk tulisan sejenis curhat dan hal-hal receh seperti tertera dalam tulisan ini.
Hanya saja kemudian, hati saya setidaknya dikuatkan oleh beberapa hal. Di antaranya adalah karena Rahma.id dalam beberapa kesempatan sebelumnya juga sering memuat beberapa kisah yang sarat akan nilai. Untuk menyebut contoh, salah satunya adalah tulisan Ananul Nahari Hayunah soal bapaknya. Orang-orang yang berpikir terlalu mewah tentu akan mengatakan, apa gunanya bagi kita untuk mengetahui sosok ayah Ananul dan nilai-nilai perjuangannya? Tapi tidak dengan mereka yang selalu mampu menangkap momen puitik pada kisah-kisah orang sederhana.
Memasuki Quarter Life
Ada satu pembahasan yang cukup nyaring di kalangan anak muda saat ini, yakni tentang quarter life crisis atau krisis seperempat abad. Pembahasan mengenai ini mengingatkan kepada kaula muda kalau usia seperempat abad merupakan saat-saat yang sangat menentukan bagi dirinya dan masa depannya. Jika kita mampu melewatinya, maka kita akan menang. Jika kita tidak mampu melewatinya, maka kita akan keluar sebagai orang-orang yang kalah.
Bagi anak muda, usia ini adalah tantangan yang cukup berat. Karena kita akan dipaksa untuk membaca arah hidup kita di masa nanti. Tidak terkecuali saya yang saat ini juga telah memasuki usia seperempat abad. Diri kita betul-betul mengalami dilema dan kegelisahan akan nasib di masa depan. Kita jadi bertanya-tanya, apakah kelak saya akan sukses? Atau justru malah gagal? Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus bergelantungan dan menghantui benak kita. Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana menjawab kegelisahan-kegelisahan itu.
***
Ada satu quote Hasan Al-Banna yang benar-benar favorit bagi saya. Dan quote itu saya kira kuat sekali relevansinya dengan bagaimana cara menjawab kegelisahan-kegelisahan anak muda soal masa depannya. Beliau mengatakan, “Kenyataan yang terjadi hari ini adalah akumulasi dari mimpi-mimpi dan kerja-kerja kita di hari kemarin. Begitu pun dengan mimpi-mimpi dan kerja-kerja kita hari ini. Itulah yang akan menjadi kenyataan di hari esok.”
Pada quote Hasan Al-Banna itu kita menjadi mafhum bahwa anak muda sejatinya sudah bisa membaca bagaimana peta masa depannya. Yakni dengan melihat apa yang dikerjakannya hari ini. Jika pada hari ini ia adalah orang yang kerjanya hanya malas-malasan dan lebih menenggelamkan diri dalam kegiatan rebahan, maka barang tentu ia akan mendapati masa depannya sesuai dengan kebiasaannya itu. Jika pada hari ini sibuk menggali potensinya, mencoba hal-hal baru dan menghayutkan diri dalam kegiatan-kegiatan produktif, maka dapat diketahui kalau masa depannya insha Allah akan cerah dan terang. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai kelak (man yazra’ yahshud). Begitulah pepatah Arab biasanya mengingatkan.
Jadi, saya dan banyak anak muda lainnya seyoiyanya tidak perlu risau akan masa depan. Yang perlu kita risaukan adalah apa yang kita lakukan saat ini. Sudah produktif atau belum? Jika sudah, pertahankan dan kembangkan. Jika belum, segeralah perbaiki dan berbenah diri. Lagi pula, tidak pantas juga bagi seorang mukmin untuk gelisah dan khawatir akan masa depannya. Sebab dia punya Allah yang Maha Akbar. Tuhan yang dengan pertolongan dan kemurahan hati-Nya pasti tidak akan membuat hamba-hamba-Nya terlantar dan terlunta-lunta.
Mencintai Cita-Cita
Di usia yang ke dua puluh ini, di usia yang masih belia ini, ada satu hal yang terus saya sadari dan demosntrasikan pada diri saya. Bahwa saya harus mencintai cita-cita saya. Segala angan dan impian yang saya tuliskan dan pendam harus terus diperjuangkan. Bukan seperti kaula muda lainnya. Kita tidak boleh terlalu larut pada urusan ‘cinta sepasang manusia’, tapi harus melangkah jauh ke depan. Yakni dengan menyibukkan diri pada urusan ‘cinta kepada cita-cita’.
Ingat Rahmania! Usia masih muda dan perjalanan masih panjang. Karenanya tidak pantas untuk merasa puas dan merasa cukup atas apa yang telah digapai. Namun begitu, kita tetap berhak untuk merayakan dan mengapresiasi atas prestasi-prestasi kecil yang telah kita raih. Tapi ingat, ia hanyalah awal. Bukan akhir. Ia adalah batu loncatan untuk kehidupan masa nanti yang lebih bersinar. Keep struggle and do the best.
Muhamad Bukhari Muslim adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan PKU-MI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta dan Penggiat JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah)
