f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Quarter Life Crisis : Cara Kawula Muda Menghadapinya

Oleh : R. Fauzi Fuadi

Beberapa bulan setelah lulus kuliah, kawula muda akan dihadapkan dengan kemelut hidup yang membuatmu seperti memikul dunia beserta isinya, berat sekali. Di sana Rahmania akan menjumpai beberapa hal yang harus diselesaikan dengan saksama dalam tempo yang diatur sendiri, jika tak mau merugi di masa mendatang.

Jangan sampai tiba-tiba terperanjat mendapati semuanya berlalu begitu cepat atau hanya jalan di tempat? Di saat teman-teman telah punya usaha dan berkeluarga, tapi nyatanya kita masih begitu-begitu saja, tidak ada tanda-tanda kemajuan sama sekali.

Lanjut Kuliah atau Bekerja ?

Karenanya, kita dihadapkan dengan dua pilihan, langsung cari kerja atau lanjut kuliah. Maaf, tidak ada kata menikah di sini, sebab saya pun belum berpengalaman.

Kalau Rahmania memilih untuk langsung bekerja, pertanyaan selanjutnya adalah, mau kerja apa? Apakah sesuai dengan jurusan, atau yang penting dapat kerjaan dulu? Ingin berapa lama? Di mana dan bagaimana prospek saya selama bekerja nantinya? Dan pertanyaan lain yang harus dijawab dengan cergas olehmu.

Jika sudah berkali-kali apply ke beberapa perusahaan dan ternyata ditolak, hal pertama yang harus dihindari adalah sambat sepanjang hari. Mengeluh tentu boleh tapi sekadarnya saja, merutuki nasib yang kurang mujur tentu akan menguras energi.

Lakukan evaluasi segera! Di sinilah Rahmania menemukan kesalahannya: Softskill dan pengalaman kerja yang minim atau tak memiliki portfolio sebagai rekam jejak kerja.

Magang sebelum Bekerja

Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan persoalan itu adalah dengan magang. Usahakan sesuai dengan bidang yang ditekuni semasa kuliah, atau yang sesuai dengan bakat. Misal jurusan sejarah tapi suka dengan fotografi, berarti mencoba magang di studio photo atau menjadi jurnalis fotografi lepas. Kalau dari jurusan MIPA tapi lebih suka menggambar, coba magang di perusahaan atau NGO yang bergerak di bidang kreatif.

Baca Juga  Warteg dan Merencanakan Kematian

Jika Rahmania memang sungguh-sungguh mencintai dan menghargai ilmu yang telah kamu pelajari di S1. Maka melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya adalah jalan ninja yang harus diperjuangkan, tapi jangan lupa do’a agar ringan langkahnya.

Di sana Rahmania akan mendalami limu yang telah dipelajari sebelumnya. Mendalami dan megejawantahkan ilmu di jenjang S2 adalah suatu keniscayaan. Maka frekuensi mambaca dan riset harus ditingkatkan, jika enggan, siap-siap saja kuliahnya molor sampai 3-4 tahun, atau bahkan lebih.

Saat melanjutkan studi, juga harus memenuhi kebutuhan hidup, membeli makan, sabun mandi, quota, dan segala hal yang menyangkut keberlanjutkan hidup di tanah rantau. Nggak mungkin dong bergantung dengan ortu lagi? Iya kali mahasiswa S2 masih mengandalkan subsidi orang tua ? Nah pada titik ini, sekali lagi, harus nyambi kerja untuk merefill dompet agar senantiasa terisi.

Fenomena di atas biasa diistilahkan dengan quarter life crisis, kalau dibahasakan berarti krisis usia seperempat atau dilema usia 25-an. Ini dialami oleh siapa saja, bukan hanya satu orang yang biasanya suka ngomong, “Apa hanya aku yang masih nggak ngapa-ngapain di usia 20-25 ini?” Tidak, Rahmania tidak sendirian, lur. Semua orang yang sedang atau pernah hidup pernah ada di titik ini.

Untuk mempersiapkan segala kebimbangan itu, terutama penguatan ekonomi yang mutlak untuk diberdayakan, berikut ini adalah sehimpun strategi bagaimana kawula muda menghadapi quarter life crisis.

Strategi 1: Meleburkan diri dalam organisasi

Betebarannya organisasi intra maupun ekstra kampus membuat mahasiswa tertarik untuk melebur dengan satu atau lebih organisasi. Tapi ingat jangan kemaruk, kuliah bisa tercecer hanya karena keasyikan berorganisasi. Seperti kakak tingkatmu itu.

Dengan berorganisasi, akan belajar banyak hal, kepemimpinan, solidaritas, jejaring, kekeluargaan, totalitas, hingga kreatifitas yang tidak diajarkan di ruang kelas. Dosen saya pun menyeru kepada seluruh anak didiknya untuk berproses dalam organisasi; “Dari sana kalian akan ditempa agar dapat merayakan demokrasi dan kekeluargaan,” ujarnya.

Baca Juga  Mencintai Cita-Cita: Refleksi 20 Tahun

“Dan jika beruntung, kamu dapat jodoh dari sana, tapi tolong, jika benar dapat, mbok ya dipertahankan, jangan sia-siakan pemberian Tuhan pada kalian.” Pungkasnya, diikuti gelak tawa mahasiswa.

Strategi 2: Mengenyahkan gengsi dengan berdagang

Bagi yang belum terbiasa, berdagang akan cukup berat dilakukan, hal ini salah satunya dikarenakan gengsi yang nampaknya masih mendarah daging pada kawula muda zaman kiwari. Tapi percayalah, jika kamu sudah terbiasa dengan menjajahkan dagangan via medsos terlebih menjajakannya langsung kepada sesama mahasiswa, kamu akan melakukannya lebih giat lagi dan lagi.

Di samping mendapatkan cuan, mampu membaca pasar, dan menabung–jika memang bisa irit–dengan berdagang sejak dalam kampus, akan terbiasa dengan persaingan yang lebih sengit setelah beranjak dari kampus. Tapi jangan khawatir, setidaknya Rahmania telah memamah manis getirnya dunia perdagangan.

Dan mungkin suatu hari nanti Rahmania akan jadi pegusaha sekaliber om Bob Sadino. Semoga.

Strategi 3: Meningkatkan kapabilitas melalui magang

Saat porses magang, Rahmania akan mendapatkan banyak hal, di antaranya pengalaman kerja, mengasah ketrampilan, membangun jejaring, punya nilai lebih. Dan jika beruntung akan berpeluang direkrut menjadi karyawan tetap perusahaan, sebuah privilege bagi siapa pun yang mendedikasikan dirinya secara totalitas dalam bekerja dan berkarya.

Sebab perusahaan hanya akan mengaji dengan jumlah besar terhadap mereka yang benar-benar berintegritas, profesionalitas, dan kapibilitas dalam bekerja.

Siasat 4: Menulislah jika dirasa tak lagi punya kemampuan

Eswe seorang seniman pantomim dari Jogja pernah mengatakan, “Jika kau tak punya kemampuan apa-apa, maka menulislah.”. Sudah jelas sekali bahwa kalau memang tak punya skill atau kemampuan bertahan hidup, menulis mungkin bisa jadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu.

Ya, kamu bisa menceritakan ketakberdayaan itu lewat tulisan, submit naskahmu ke media macam detik, mojok, japos yang megah itu. Mudah-mudahan tulisanmu akan diterima dan dibaca lebih banyak orang.

Baca Juga  Mau Jadi Kaya Seperti Apa?

Dari sini kawula muda baru menyadari bahwa menuliskan hal-hal receh dalam hidupmu bisa menghasilkan cuan yang bisa buat traktir pacar, itu pun kalau punya. Tapi tak jarang tulisan itu dirundung oleh netizen yang budiman.

Yang jelas jangan sampai tiba-tiba karya kita diakui oleh orang lain atau plagiarisme, kita pun tak mendapatkan hak atas karya kita. Walau menulis bukan semata-mata tentang cuan, tapi jika kita mendapatkannya, kenapa harus orang lain yang mengambil ? kenapa bukan kita?

*) R. Fauzi Fuadi adalah Jurnalis lepas, pembina khusus jurnalistik di Ponpes Karangasem Paciran

Bagikan
Post a Comment