f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
siti hajar

Refleksi Keteladanan Siti Hajar dalam Kehidupan Modern

Secara historis, moment Iduladha sangat dekat dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim As., bapak para nabi. Lika-liku perjuangan dan ujian Ibrahim dalam menyebarkan dakwah tergolong unik sampai ia mendapat gelar sebagai Rasul Ulul Azmi. Demikianlah, ketetapan Allah yang Ia kepada para nabi terpilih agar mereka menjadi sosok teladan terbaik dan termulia bagi setiap masa dan generasi yang akan datang. 

Pada momen spesial kali ini, penulis ingin mengajak Rahmania sekalian untuk merenungi dan merefleksikan sosok perempuan inspiratif yang membersamai Nabi Ibrahim; yakni ibunda Siti Hajar, istri sang Khalilullah (kekasih Allah) sekaligus Ibunda Ismail As.

Sekilas Profil Siti Hajar

Hajar adalah seorang perempuan keturunan bangsawan yang rendah hati dan sejuk dipandang. Adapun menurut Qishash al Anbiya, Hajar adalah putri seorang raja Maroko, keturunan Nabi Saleh As. Ayahnya terbunuh oleh Firaun, dan Hajar ditawan sebagai budak. Karena ia berdarah bangsawan, maka kelak Hajar dijadikan pemimpin para budak perempuan dan mendapatkan wewenang untuk mengatur urusan rumah tangga istana Firaun. Setelah beralih mengikuti keyakinan Ibrahim, Firaun memberikan Hajar kepada Sarah yang kemudian memberikannya kepada Ibrahim untuk dinikahi (Dedi Ahimsa, 2009).

Dalam buku Umm an-Nabi (2008) Aisha Abd al-Rahman bint al-Shati, atau kita kenal dengan sebutan Bintu asy Syathi’ seorang aktivis perempuan sekaligus mufassir ini menjelaskan, bahwa Hajar merupakan seorang budak perempuan yang Sarah (istri pertama Nabi Ibrahim) bawa saat berhijrah dari Mesir ke Palestina. Saat itu, Sarah dalam keadaan mandul lalu ia meminta Ibrahim untuk menikahi budak Mesir itu; dengan tujuan agar Ibrahim bahagia dan kelak memiliki seorang anak.

Dalam keterangan yang lain menjelaskan, pada saat Hajar menjadi pembantu Sarah, ia mengikuti ajaran tauhid, beriman kepada Allah Swt., beribadah dengan ikhlas, memiliki hati yang bersinar dan penuh cahaya petunjuk Allah. Di sisi lain Sarah istri Nabi Ibrahim, selalu menemani dan membimbing Hajar; untuk beribadah; berbuat kebaikan; serta melakukan segala pekerjaan sebaik mungkin sehingga Hajar menjadi mukminah yang taat kepada Allah. (Ibrahim, 2009).

Setelah Ibrahim menikahi Hajar, tak lama kemudian Allah mengabulkan doa nabi Ibrahim yang selama ini ia langitkan secara konsisten. Doa tersebut diabadikan dalam QS. as-Shaffat: 100 yang artinya, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Setelah kelahiran Ismail, Sarah dengan naluri kemanusiaan sebagai perempuan merasa cemburu dan meminta nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya ke tempat yang tidak terlihat olehnya.

Baca Juga  Pendidikan Bagi Wanita, Mengapa Penting?

Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan putranya ke Bukit Faran di Kota Mekah yang saat itu masih sangat tandus, gersang dan tidak ada kehidupan sama sekali. Sekilas bagi sebagian orang yang memandang peristiwa pengasingan ini secara sepihak akan berasumsi bahwa Nabi Ibrahim semena-mena terhadap keluarganya. Namun, bagaimana pun keadaan saat itu, Nabi Ibrahim merupakan manusia pilihan yang tidak lepas dari bimbingan Allah (tarbiyah ilahiyah); sehingga atas izin-Nya, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah-Nya untuk mencetak generasi rabbani.

Tak cukup sampai di situ, tatkala Ismail tumbuh dewasa, datanglah perintah Allah Swt. agar Nabi Ibrahim menyembelih Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim lewat mimpi (QS. as-Shaffat: 102) untuk menyembelih putranya sendiri. Sebagai hamba Allah yang taat, nabi Ibrahim dan Hajar benar-benar meyakini apa yang datang dari Allah. Keduanya kompak dalam mengajarkan ketauhidan kepada putra mereka yakni penyembelihan Ismail, yang secara implisit berarti uji ketaatan dan keimanan terhadap perintah Allah Swt. 

Menurut hemat penulis, sosok Siti Hajar memiliki potensi spiritualitas yang tinggi untuk menjadi hamba Allah yang benar-benar memegang komitmen tauhid dalam hidupnya sebagaimana spiritualitas para nabi yang mayoritas laki-laki; dan tidak lupa para perempuan inspiratif yang diabadikan dalam al-Qur’an. Mereka adalah Maryam, Balqis (Ratu Saba’), putri nabi Syu’aib dan masih banyak yang lainnya. 

Ketaatan Mutlak Hanya kepada Allah

Sejenak kita renungkan! Bagaimana kondisi dan perasaan Umm Ismail saat ditinggalkan bersama putranya di padang gersang tak berpenghuni, apakah ia marah? Atau ia depresi dengan keadaan saat itu?  Sungguh, tanpa bekal keimanan dan spiritualitas yang tinggi, kondisi tersebut tidak mudah untuk dihadapi oleh seorang ibu dan putranya yang masih menyusu.   

Saat Nabi Ibrahim ingin kembali ke Syam, Hajar menyusulnya dari belakang sembari berkata “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi. Engkau pergi tinggalkan kami di tempat yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada seorang pun yang dapat kami manfaatkan?” Dalam berbagai literatur disampaikan bahwa Hajar mengulang-ulang pertanyaan itu. Namun, Nabi Ibrahim tidak sedikit pun menoleh. Lanjut, Hajar berkata, “Apakah Allah yang memerintahkan ini?” Nabi Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar lantas berkata, “Kalau begitu janganlah engkau merasa sulit untuk meninggalkan kami di sini.”

Ibrahim dan Siti Hajar saling membalikkan badan dan terus melangkah ke tempat masing-masing sampai keduanya tidak terlihat lagi. Dalam kondisi tersebut, Nabi Ibrahim memanjatkan doa untuk kebaikan dan kebahagiaan anak dan istrinya (QS. Ibrahim: 52).

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Keluarga; Sebuah Utopia atau Cita-Cita Kemanusiaan

Dari sini dapat kita fahami, Ibunda Hajar merupakan sosok perempuan salihah, taat kepada perintah Allah dan pemberani. Karena perintah tersebut datang dari Allah, sebagai seorang ibu dan perempuan yang salihah ia optimis dan tidak sedikit pun goyah menjalankan apa yang sudah Allah perintahkan. Inilah puncak ketaatan hakiki seorang hamba. Untuk itu, sudah sepatutnya kita meneladani sosok Siti Hajar dalam keseharian. Ia adalah qanitaat, perempuan yang taat pada Allah semata.

Teladan bagi Para Single Parent

Selanjutnya, saat persediaan minuman sudah habis dan membuat Hajar tidak bisa menyusui Ismail, ia pun bergegas mencari air dengan berlari kecil bolak-balik dari bukit Shafa ke bukit Marwa. Setelah sampai di  atas bukit Shafa ia belum juga menemukan sumber air, lalu ia berlari kecil menuju bukit Marwa namun hasilnya sama, belum menemukan air. Usahanya dalam mencari sumber kehidupan ini dilakukan sebanyak tujuh kali dengan pola yang sama.

Hajar hampir putus asa sehingga ia memutuskan menuju ke tempat bayinya, Ismail. Pada saat menuruni bukit Marwa ia menyaksikan malaikat Allah sedang berdiri di samping Ismail. Malaikat itu adalah Jibril yang kemudian menggunakan tumitnya untuk menyepak tanah di dekat Ismail. Secara mukjizat, di tempat yang disepak malaikat Jibril itulah muncul air dari tanah yang memancar ke segala arah. Sungguh Maha Besar Allah dengan segala kuasa-Nya. Segera Siti Hajar minum air tersebut. Tak lama setelah itu air susunya kembali keluar, dan Siti Hajar bisa menyusui Ismail.

Dalam ibadah haji, peristiwa di atas kita kenal dengan sebutan sa’i. Dan dalam konteks kehidupan sehari-hari, pelaksanaan sa’i ini memiliki hikmah yang luar biasa, yaitu sebagai simbol perjuangan orang tua dalam mendidik dan menghidupi keluarga, khususnya para single parents. Bahwa sa’i merupakan simbol perjuangan fisik secara totalitas; kemandirian dan kepasrahan manusia yang diwujudkan dengan usaha yang sangat kuat untuk memperoleh kebaikan dan hal-hal positif.

Baca Juga  Hukum Tuhan dan Antroposentrisme Manusia
Jihad Melawan Keburukan

Sebelum ujian penyembelihan Ismail berlangsung, Siti Hajar didatangi oleh setan. Setan merayu Hajar agar menghentikan langkah Ibrahim yang membawa putranya untuk disembelih atas perintah Allah. Ternyata usaha setan memengaruhi Hajar tidak berhasil. Ibunda Ismail ini melempari setan dengan batu berkali-kali. Apa yang dilakukan Hajar ini kita kenal dengan istilah lempar jumrah dalam ibadah haji. Pada zaman modern ini, melempar jumrah dapat menjadi simbol perlawanan kepada setan atau iblis dalam bentuk apapun. Baik itu persekutuan abadi dengan setan, kekuasaan yang disalahgunakan, dan segala perbuatan buruk lainnya.

Menurut seorang ulama kenamaan dari Iran, Ali Syari’ati menjelaskan bahwa ketika seseorang melempar bebatuan ke tiga jumrah, maka hal tersebut merupakan simbol dari Trinitas (Samir Abdul Halim et al, 2015). Trinitas yang ia maksudkan adalah penindasan, kapitalisme dan kemunafikan. Karenanya, pelaksaan jumrah ini menjadi bentuk jihad akbar bagi manusia untuk menghilangkan segala watak keburukan yang dimiliki dengan setegas-tegasnya; jangan setengah-setengah.

Kesalingan dan Kekompakan dalam Mendidik Anak

Rahmania, pasti tidak asing dengan kisah-kisah teladan keluarga dalam Islam, di antaranya adalah keluarga Nabi Zakaria, keluarga Imran, keluarga Nabi Nuh, keluarga Rasulullah, keluarga Nabi Ibrahim dan masih banyak lainnya. 

Kita bisa melihat bagaimana kualitas interaksi, dan diskusi ayah (Ibrahim) ibu (Siti Hajar) anak (Ismail) yang berlandaskan keimanan dan kecintaan kepada Tuhannya ketika turun perintah Allah kepada Ibrahim. Mulai dari ujian berat nan dramatis saat Ismail masih bayi dan harus LDR dengan bapaknya, berlanjut pada mimpi Ibrahim menyembelihnya hingga membangun Ka’bah. Sosok Nabi Ismail yang taat kepada Allah, berbakti kepada orangtua, bermartabat dan bermanfaat merupakan hasil kerjasama perjuangan orangtuanya dalam menanamkan nilai-nilai keimanan sehingga membentuk Ismail menjadi pribadi kuat yang memiliki kesiapan spiritual dan mental saat menjalankan perintah Allah.

Bagikan
Post a Comment