f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pengasuhan qurban

Spiritualitas Pengasuhan di Hari Qurban

Setiap perayaan hari Iduladha, umat muslim diingatkan pada kisah pengorbanan antara nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Kisah yang bukan sekedar narasi spiritual yang berulang setiap tahun. Tetapi makna kedalaman nilai-nilai moral dan psikologis yang kian relevan dalam perubahan zaman.

Salah satunya adalah dalam konteks pengasuhan anak. Qurban, dalam makna esensialnya, berarti wujud dari keteladanan orang tua dalam mengutamakan nilai-nilai keimanan dan kebaikan di atas ego dan kepentingan pribadi.

Spirit Iduladha memuat keikhlasan dalam bentuk yang paling murni: berserah diri kepada kehendak Tuhan. Sehingga dalam konteks pengasuhan, kita misalkan bahwa orang tua siap merencanakan ulang visi-misi keluarga demi keterpenuhan tumbuh-kembang anak.

Keteladanan Nabi Ibrahim tidak saja terletak pada keberaniannya “mengorbankan” anak. Tetapi, pada kesiapan membesarkan anak dalam cinta, dialog, dan kepercayaan yang utuh. Maka, hari Qurban adalah momen reflektif untuk melihat kembali: sejauh mana kita, sebagai orang tua, telah menjadikan kesungguhan, ketekunan, keikhlasan, keteladanan sebagai landasan pengasuhan?

Nilai-Nilai Qurban

Hari Qurban tidak semata peristiwa keagamaan yang ritual simbolik. Tapi juga pengingat bahwa manusia harus menundukkan rasa kepemilikan atas segala sesuatu, berupa anak, harta, dan rencana hidup. Dalam perintah qurban, Allah menunjukkan bahwa kepatuhan dan penguasaan diri merupakan bentuk tertinggi dari hakikat spiritual. Nabi Ibrahim tidak diperintah untuk membunuh anaknya, tapi untuk melampaui rasa kepemilikan terhadapnya.

Dalam konteks masyarakat modern yang sebagian mengagungkan kontrol dan pencapaian, nilai qurban justru terpampang sebaliknya; melepaskan kontrol dan tunduk pada sesuatu yang lebih tinggi. Ini bukan bentuk pasrah yang pasif, tetapi kepatuhan yang sadar dan aktif. Penguasaan bukan berarti mendominasi orang lain, termasuk anak. Melainkan menguasai diri sendiri untuk tidak terjebak dalam ego, gengsi, dan keinginan membentuk anak sesuai citra ideal orang tua.

Baca Juga  Fatherless dalam Film Animasi Anak

Qurban juga dapat kita refleksikan sebagai kritik terhadap pola pengasuhan yang otoriter. Dalam kisah Nabi Ibrahim, dialog antara ayah dan anak terjadi sebelum keputusan besarnya. Ini menunjukkan bahwa relasi spiritual antara orang tua dan anak yaitu atas komunikasi yang setara dan penghormatan terhadap hak pengasuhan anak. Maka, Qurban bukan hanya kisah keteladanan ilahi, tetapi juga landasan etis untuk membangun keluarga yang setara, selaras, dan penuh kesadaran atau cinta.

Qurban dalam Konteks Pengasuhan

Secara teologis, qurban adalah ekspresi puncak dari tauhid, bahwa hanya Allah yang memiliki kendali mutlak. Orang tua, dalam posisi sebagai pendidik dan penjaga, sering kali lupa bahwa anak bukanlah milik mereka seutuhnya.

Dalam surah Ash-Shaffat, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102). Dialog ini bukan sekadar bentuk musyawarah, tapi spiritualitas pengasuhan yang menghargai hak anak.

Kisah lainnya, oleh peran Siti Hajar, yang dengan sabar dan yakin berlari antara Shafa dan Marwa demi anaknya yang kehausan. Ia tidak hanya mengajarkan keberanian dan ketekunan, tapi juga membangun harapan di tengah ketidakpastian. Spirit ini dapat menjadi acuan untuk para orang tua masa kini, yang sebagian harus mendampingi anak dalam situasi sosial dan psikologis yang tak menentu.

Di era sekarang, bentuk pengorbanan orang tua tidak selalu spektakuler. Banyak orang tua yang harus mengorbankan waktu tidur demi menemani anak bermain, dan menunda cita-cita sementara untuk keterpenuhan hak anak dalam pengasuhan. Namun demikian, yang harus juga menjadi refleksi, sebagian orang tua menekan anak demi prestise keluarga; sebuah bentuk pengasuhan yang tampaknya mulia, tetapi jauh dari nilai qurban.

Baca Juga  Orang Tua yang Tak Kenal Anaknya
Spiritual Pengasuhan dalam Aktivitas Harian

Spiritualitas dalam pengasuhan bukan saja terwujud dalam kegiatan ibadah seperti mengajak anak salat atau mengaji saja. Tapi juga harus menjangkau dalam aktivitas kecil sehari-hari. Misalnya cara orang tua merespon tangisan anak, ketidaktepatan perilaku dan pilihan anak, dan berbagai kekurangtapatan dalam pilihan anak lainnya.

Ketika seorang ayah ibu memilih mendengarkan cerita anak sepulang sekolah dengan sepenuh perhatian, itu pun bentuk ibadah. Ketika ayah ibu menahan amarah dan menggantinya dengan pelukan, itu juga qurban dalam makna hakiki.

Contoh nyata spiritualitas pengasuhan misalnya dengan membangun rutinitas bersama seperti berdoa sebelum makan, mengucap atas hal kecil, dan membiasakan anak memberi bukan hanya meminta. Di saat anak berbuat salah, alih-alih menggumamkan ancaman pada anak, maka orang tua bisa mengajak refleksi dengan empati: “Bagaimana aktivitas bermain hari ini? Apa yang dirasakan?” Ini bukan ketidaktegasan, tetapi kekuatan dalam membimbing jiwa yang sedang bertumbuh.

Lainnya, spiritualitas dibutuhkan ketika orang tua menghadapi anak dengan kebutuhan khusus—entah itu sindrom autisme, ADHD, tantrum berulang, atau kondisi fisik tertentu. Dalam situasi ini, orang tua benar-benar diuji pada level qurban emosional dan spiritual. Kesabaran, penerimaan, dan cinta tanpa syarat menjadi amalan harian. Tidak semua orang tua diberi peran ini, dan justru pada merekalah Allah percayakan makna pengasuhan yang paling dalam.

Bagikan
Post a Comment