Mengucap Terima Kasih, Beratkah?
Pemandangan menyejukkan kemarin, begitu sulit aku lupakan. Mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa, tetapi bagiku amatlah mengesankan. Ternyata hal sederhana yang dimulai sejak dini dalam keluarga akan menampakkan hasil, jika kita mau bersungguh-sungguh dan konsisten.
Di sebuah ruang tunggu dokter spesialis anak kisah ini bermula. Seorang anak kecil, belakangan aku tahu berumur 3 tahun, sempat mencuri perhatian beberapa pengunjung yang sedang menunggu antrean. Bocah lelaki itu tampak santun sejak duduk di kursi berjajar dengan ibunya. Dari caranya duduk dan polah tingkahnya selama menunggu giliran, sangat memesona.
Bibirnya selalu menyunggingkan senyum kepada siapa saja yang menatapnya. Sesekali turun dari kursi menghampiri bocil-bocil lain seakan mau berkenalan. Sembari senyum-senyum tipis, sekilas tak tampak kalau dia sedang sakit. Ternyata benar, tidak sakit. Dia hanya mau suntik vaksin. Dari awal aku perhatikan yang keluar dari bibirnya hanya kalimat terima kasih. Saat ada yang menyodorkan kue, dia tak mau ambil dan kudengar ucapan terima kasih dari bibir mungilnya sambil tersenyum.
Baru kali itu aku berjumpa dengan balita yang amat santun. Betapa bahagia dan bersyukur orang tua yang memiliki anak seperti itu. Saya yakin ada semacam nilai-nilai disiplin yang diterapkan sejak dini. Dari contoh sehari-hari perilaku orang tua di rumah hingga contoh bagaimana bersikap ketika di tempat umum. Begitu kesimpulanku sementara.
Zaman semakin maju dan hampir tak ada orang tua yang tidak tahu apa itu etika pergaulan, sopan santun di ruang publik dan sebagainya. Sekarang bukan saatnya lagi pemakluman atas kenakalan anak yang menjurus ke hal-hal yang jauh dari nilai-nilai kesantunan. “Ah, dia ‘kan masih kecil belum tahu itu sopan atau tidak.” Nah, kata-kata seperti itu seolah menganggap remeh sebuah persoalan yang seharusnya ditanggapi dengan serius.
Jika ada bocil yang terkesan tidak atau kurang beradab, tentu ada contoh yang ia lihat dalam keseharian. Entah dari keluarga atau lingkungan sekitar. Tidak jarang ketika di rumah sudah diwanti-wanti nanti begini ya, nanti tidak boleh begitu dan lain-lain, dalam praktiknya dia masih tetap nakal. Mungkin dari teman sepermainan atau memang tak ada pelajaran dari kedua orang tua.
Anak-anak sekarang makin hari makin cerdas karena lingkungan tempat bertumbuh kembang sangat mendukung. Berulang kali kita diingatkan untuk membiasakan anak-anak memakai kata, tolong, maaf, dan terima kasih dalam berinteraksi dengan orang lain. Di sekolah sudah berulang kali disinggung tentang kata-kata tersebut. Namun, agar bisa nyangkut di benak para siswa dan mau mempraktikkannya, penting juga pelajaran ini dimulai dari keluarga.
Untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepada orang lain, memang perlu dibiasakan dari rumah. Kalau sudah terbiasa, mengucapkannya tidak perlu ada pertimbangan khusus. Misalnya hanya kepada orang tertentu atau di saat yang menyenangkan saja. Tidak menutup kemungkinan justru saat kita mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dari orang lain, ucapan terima kasih akan menetralisir perasaan kita yang sedang tak menentu. Maka, pelajaran seperti ini hendaknya tidak hanya di sekolah tetapi di rumah juga.
Seperti cerita di atas, ucapan terima kasih itu bukan hanya dilafalkan ketika diberi dan menerima sesuatu. Namun lebih pada momen apa pun, termasuk saat menolak pemberian atau saat ada sesuatu yang menyenangkan hati. Bila hal ini diajarkan ke anak dengan contoh orang tua niscaya akan menjadi kebiasaan indah. Ucapan sederhana yang sarat makna, tetapi tidak semua orang menyadari.
Meskipun hanya dengan ucapan terima kasih ternyata mampu merekatkan tali pertemanan dan persaudaraan. Benarkah? Ya! Ada semacam penghargaan manakala kita menerima ucapan itu sementara apa yang kita lakukan hanya biasa-biasa saja. Dari ucapan sederhana tersebut, berdampak pada keinginan untuk berbuat yang lebih baik lagi. Begitu pula sebaliknya. Ketika kita mengucapkannya pada orang lain tanpa beban, enteng, akan terlihat aura teduh di wajah-wajah mereka.
Berhubungan dengan bermacam-macam tipe manusia, bermacam-macam pula reaksi yang timbul dari sebuah aksi. Gara-gara enggan mengucapkan terima kasih, ada kejadian yang patut disayangkan. Sebuah contoh, ketika seseorang dengan sekuat tenaga telah membantu orang lain, tetapi orang yang dibantu hanya diam tanpa ekspresi. Untuk mengucap terima kasih seolah berat dan menguras energi padahal si pemberi bantuan tak berharap balasan apa-apa. Namun seandainya ada sedikit kata-kata yang mewakili, hubungan antar mereka akan menjadi lebih baik ke depannya.
Terima kasih adalah ucapan sederhana dan ringan yang sarat makna. Segala sesuatu dari orang lain yang bernilai positif, sudah selayaknya kita respon dengan positif pula. Jika ternyata yang kita terima tidak sesuai di hati, tak akan ada ruginya kita tanggapi secara positif dengan tetap berterima kasih. Bukankah baik dan buruk itu akan kembali ke kita juga? Mengucapkan terima kasih, tidak berat ‘kan?

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.
