f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masakan lebaran

Masakan Lebaran Nenek adalah Karya Abadi bagi Anak dan Cucunya

Karya adalah penciptaan sesuatu dari kreativitas seseorang, berangkat dari pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Pada gilirannya hal tersebut memiliki nilai bagi orang lain. Sehingga wawasan dan pengalaman yang ia miliki semasa hidupnya tidak terkubur bersama jasadnya ketika kelak ia telah berpulang. Jika kita maknai karya dengan cara demikian, masakan lebaran buatan nenek adalah sebuah karya bagi anak dan cucunya yang takkan lekang oleh waktu. Itulah mengapa “masakan nenek” menjadi suatu frasa untuk mengingatkan kita pada “kumpul keluarga”.

Barangkali judul ini akan memicu beberapa perdebatan bagi mereka yang memandang bahwa masak-memasak bukan hanya urusan ‘Ibu’. Namun saya sebenarnya tidak ingin masuk ke dalam pembahasan itu. Tulisan ini adalah cara saya mengekspresikan rasa rindu yang mendalam pada nenek dan masakannya ketika lebaran.

Memaknai Masakan sebagai Karya

Masakan itu karya. Beda tangan, beda pula rasanya. Setiap hidangan selalu menghadirkan kenangan. Setiap masakan selalu memiliki proses yang berbeda. Mulai dari menyiapkan bahan, mengatur kompor, jumlah takaran, dan lain-lain. Memasak harus dilakukan dengan serius dan sepenuh hati agar dapat sampai ke meja makan dengan baik.

Memikirkannya saja kita sudah merasa bahwa memasak merupakan hal yang membutuhkan effort. Namun tidak berlaku bagi mereka yang melakukannya dengan cinta, memasak untuk orang-orang tercinta adalah proses kreasi di mana kita merasa memiliki nilai eksistensial tersendiri.

Itulah sebenarnya alasan mengapa nenek selalu menyibukkan diri di dapur dan merasa suntuk jika ia tak menyentuh kompornya dalam sehari penuh lantaran sakit. Sederhananya, ini juga yang menjadi alasan ia tak begitu suka untuk dibantu karena merasa bahwa hal itu cukup mengganggu.

Seperti itulah yang saya lihat setiap kali menyaksikan nenek menghabiskan hari-harinya sibuk di dapur menjelang lebaran. Ia memastikan setiap anak-anaknya mendapatkan stok makanan lebaran seperti soto, buras, rendang, gami tudai, dan lauk lainnya pendamping buras. Tak hanya sampai di situ saja, dessert es buah dan appetizer empek-empek juga tak lepas dari perhatiannya.

Baca Juga  Menolak Tua

Sederhana namun bermakna, di situlah kemewahan dari masakan lebaran buatan nenek. Anak dan cucunya bahkan rela menabung untuk bisa mudik. Tak hanya untuk bisa bertemu, namun mencicipi hidangan buatan nenek selalu menjadi pelepas rindu.

Mencintai dengan Masakan

Menurut Erich Fromm, cinta adalah suatu kekuatan yang mendorong kita memberi kebaikan tanpa harapan untuk dikembalikan. Cinta ibu kepada anaknya berbeda pula dengan cinta sepasang kekasih. Sepasang kekasih saling mencintai agar tetap terus bersama. Cinta ibu pada anaknya berbeda, segala bentuk kebaikan yang ia lakukan selama hidupnya adalah upaya untuk mempersiapkan sebuah perpisahan.

Cinta. Itulah motif utama ia memasak. Meskipun terkadang banyak sekali nenek yang tidak bisa mengungkapkannya secara verbal, namun kita tetap mampu merasakan betapa dalam cintanya dari setiap suapan.

Barangkali itu juga yang sering kita saksikan dari nenek. Setiap kali ia selesai memasak, kepuasan itu bukan terdapat pada rasa dari masakannya. Tetapi ketika anak dan cucunya berkumpul dan ia menyaksikan makanannya tandas dari meja makan. Terlebih jika ada yang lahap sampai menambah porsi bahkan minta untuk dibungkus. Makanya kadang-kadang ia tersenyum setiap melihat cucunya makan.

Cinta itu sulit ditakar. Mungkin itulah mengapa setiap kali kita bertanya resep masakan nenek, ia akan merasa kerepotan untuk menjelaskannya. Terkadang untuk menyederhanakannya ia hanya menjawab “Nda tahu, pakai perasaanku saja…”. Saya mengira bahwa ini merupakan bentuk paripurna dari cinta.

Sulit untuk diuraikan, namun sangat dapat dirasakan. Masakan nenek selalu meninggalkan begitu banyak makna yang juga susah ketika kita menjelaskannya. Hanya air mata yang mampu menerangkan betapa hal itu sangat dirindukan. Apalagi selepas kepergiannya.

Catatan Penutup: Merekam tidak hanya dalam Memori

Para cendekiawan hampir seluruhnya bersepakat bahwa karya adalah salah satu jalan menuju abadi. Namun beberapa orang cenderung mempersempit makna karya sebatas pada hal-hal yang tangible dan awet; seperti buku, film, lukisan, dan lain-lain. Menurut saya masakan lebaran nenek adalah suatu karya.

Baca Juga  Sebuah Lorong, Dua Nenek dan Panti Jompo (2)

Nampaknya merekam momen memasak adalah jalan paling strategis untuk mengabadikan karya nenek. Jika dibantu ia merasa terganggu, jika ditanya ia akan kesulitan untuk menjelaskan. Ketika kita minta untuk diajari, kadang itu justru hanya membuang waktunya yang sudah padat sejak pagi.

Kepergian nenek menyisakan luka yang cukup dalam bagi saya. Belajar dari pangalaman, sebagai catatan penutup saya punya saran untuk para pembaca yang budiman. Cobalah untuk merekam seluruh kegiatan nenek setiap menjelang lebaran, mulai dari pergi ke pasar membeli bahan, menyiapkannya, dan proses pembuatannya dari awal sampai akhir. Buatlah itu seperti vlog daily-activity, terserah jika Rahmania ingin mempublikasikan atau disimpan untuk koleksi pribadi. Setidaknya Anda dapat melihat, mendengar, dan merasakan kembali ketika kelak momen itu tak dapat terulang lagi.

Andai waktu dapat diputar kembali, dan saya memahami arti mendalam dari sebuah perpisahan, sepertinya saya akan mencoba untuk merekam setiap momen dimana nenek memasak. Selain karena sulit sekali untuk mencatat dan mewawancarainya, sepertinya itu adalah cara terbaik untuk mengabadikan momen yang saat ini sangat saya rindukan.

Namun lebih dari itu, merenungkan kepergian berlarut-larut juga tidak baik. Waktu terus berjalan, usia terus berlanjut. Semua yang terjadi adalah suratan takdir yang telah tertulis. Melanjutkan hidup yang bersahaja adalah tuntutan kehidupan di dunia yang fana. Sebelum menjadi nenek dan kakek, alangkah lebih baik jika kita memperkaya diri dengan pengalaman dan wawasan agar dapat diwariskan bagi generasi penerus anak dan cucu kita kelak.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment