Self Love dari Filosofi Burung Elang
Selesai makan siang seperti biasa aku mengecek whatsapp di telepon selular. Kubaca setiap pesan yang masuk. Salah satu di antaranya mengajak aku bergabung untuk menulis buku antologi cerita inspiratif.
Aku yang tak pernah menulis sebelumnya, merespon dengan spontan, “Apakah aku bisa?”. Aku ragu dengan kemampuanku tapi mencoba menjawab, “Okay siap, yang sabar tapi ya, spesial untuk saya”. Akhirnya aku pun masuk ke grup whatsapp kelas menulis bimbingannya. Kimci adalah nama kelasnya yaitu akronim dari kelas menulis cerita inspiratif.
Dengan perasaan ragu dan penasaran aku mencoba mengikuti kelasnya. Kuikuti setiap sesinya. Begitu materi terbagi melalui voice note aku terkesima takjub, aku yang mengenalnya dengan baik seolah belum pernah mengenalnya sama sekali ketika menyimak materi yang beliau sampaikan.
Ternyata aku belum mengenalnya lebih dalam. Aku hanyalah mengenal potensi beliau pada level permukaanya saja. “Irama suaranya kok jadi berbeda, Masya Allah…” batinku. Aku takjub padanya.
Belajar Menulis
Aku pantau setiap postingan beliau, yang kami beri gelar coach. Dan tibalah masa untuk praktik yang dimulai dengan wajib setor judul. Sebagai pemula, tentu aku merasa bingung padahal sekedar menentukan judul. Selama dua dari tiga hari yang ada akhirnya aku pun mengumpulkan judul dengan rasa kurang percaya diri. Aku malu.
Sebelumnya, aku juga mendapatkan judul yang lainnya. Bahkan sempat aku tuangkan ke beberapa paragraf. Sambil berselancar di google, aku mencari tambahan referensi supaya aku bisa menyelesaikan tugasku. Di youtube, aku baru tahu ternyata itu adalah pelajaran anak gadisku yang menginjak kelas sembilan.
Sementara usiaku sudah empat puluhan, sudah terbiasa di zona nyaman. Rebahan dan scrolling media sosial dari facebook, whatsapp, instagram, hingga youtube, mampu bertahan hingga berjam-jam. Dari mulai konten yang berfaedah hingga yang receh. Lebih buruknya lagi aku tidak punya keberanian untuk mempublikasi tulisanku. Dengan kata lain nyaliku menciut ketika harus mengumpulkan karya pertamaku kepada coach kami.
Tidak disangka-sangka ternyata aku mampu menyelesaikan proyek tulisan perdanaku tanpa hambatan. Di mana ideku mengalir begitu saja karena bisa jadi yang menjadi tokoh dalam ceritaku adalah aku sendiri dari salah satu pengalamanku. Aku bercerita persis seperti apa yang pernah kualami sebelumnya.
Aku mengakui faktor internal turut membantu. Diriku yang selalu berusaha konsisten dengan mottoku yaitu, “lebih cepat lebih baik”. Mengerjakan tugas-tugasku sesegera mungkin agar tidak menjadi beban berkepanjangan karena kalau sudah terselesaikan aku akan segera merasa lega, tanpa beban dan bersiap melakukan tugas lainnya. Aku kurang senang menumpuk banyak pekerjaan.
Buatku menyegerakan menyelesaikan tugas-tugas adalah bagian dari cara menyayangi diri sendiri (self love). Aku sangat menyadari dengan tumpukkan tugas yang ada hanyalah menambah tekanan yang berdampak negatif, membuat stress misalnya.
Berawal dari menulis yang terpublikasi dalam sebuah buku antologi, pelan-pelan aku mulai terbiasa menulis yang aku dokumentasikan secara pribadi dalam catatan handphone. Bagiku menulis saja sudah cukup karena dengan menuangkan apa yang kurasa adalah sebuah cara baru pembiasaan mengapresiasi rasa sayang kepada diri sendiri.
Kejadian – kejadian yang membuatku terkesan kutuang dalam tulisan curhatanku. Beberapa kejadian yang menyenangkan dan sebagian lagi yang mengecewakan. Berterima kasih kepada seorang teman yang sudah bersedia mengajakku untuk mencintai dunia baru ini. Dia juga yang sudah membersamai dalam sharing ilmunya dan motivasi nyatanya yang luar biasa.
Pengalaman dan Pelajaran
Dari pengalaman ini aku belajar sebuah filosofi burung elang di mana elang adalah penerbang yang hebat. Kemampuannya yang tidak lahir dengan sendirinya melainkan terlatih dengan sangat keras oleh induknya sedikit demi sedikit dengan cara melepas komponen sarang tempat anak-anaknya berlindung. Tujuannya agar si anak tidak benar-benar merasa nyaman berada dalam sarang dan segera keluar sarang untuk belajar terbang.
Tidak berhenti sampai di situ, induk elang juga memberikan makan kepada anaknya dengan metode pancingan. Induk elang akan menggigit makanan di paruhnya sambil terbang berkeliling di sekitar sarang. Induk elang mendorong anak-anaknya untuk sedikit bergerak keluar sarang. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk segera membuat anak-anaknya berani keluar dari nyamannya sarang yang mereka tinggali.
Sebagaimana pula aku belajar hal lainnya dari elang, sebagai unggas yang suka terbang tinggi. Semakin tinggi ia terbang, maka semakin kencang pergerakan angin yang ia dapatkan. Kebiasaan ini bisa dimaknai sebagai proses perkembangan diri dalam kehidupan. Tidak merasa takut atau malu untuk selalu memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak merasa lelah untuk selalu berusaha mencapai hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya. Serta tidak merasa jumawa dan sombong saat kita sudah berada di puncak.
Pelajaran selanjutnya yaitu bila ingin mengubah hidup, berani melepaskan kebiasaan lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru. Berani mengambil peluang untuk mengembangkan kemampuan yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh optimis.
Filosof Burung Elang untuk Memperbaiki Diri
Elang di usianya ke-40, ia dihadapkan pada suatu pilihan, apakah dia memilih pasrah dengan kondisinya, atau dia rela men’transformasi’ dirinya. Pada usia tersebut, ia akan mengalami kesulitan hidup yang luar biasa. Paruhnya menjadi panjang hingga hampir mencapai dada, sehingga sulit untuk mencabik mangsa. Kuku cakar yang menjadi andalannya untuk menangkap mangsa dan menyerang musuh, akan menjadi panjang namun rapuh.
Demikian pula bulu-bulu tubuhnya yang semakin tebal dan panjang, menyebabkan tubuhnya menjadi berat, sehingga dia tak mampu terbang dengan bebas. Bila kondisi tersebut dibiarkan, tentu akhirnya elang akan semakin melemah dan akhirnya mati. Hanya ada satu jalan untuk membuatnya menjadi kembali perkasa, yaitu dia harus memaksakan dirinya terbang tinggi hingga ke puncak bukit. Lalu membuat sarang di tepi jurang. Dan di sarang itulah dia harus menjalani proses ’transformasi’ diri.
Tindakan pertama adalah mematukkan paruh sekeras-kerasnya ke bebatuan hingga paruhnya lepas. Dan setelah lepas, dia harus menunggu paruh baru tumbuh selama kurang lebih 5 bulan lamanya sampai paruh menjadi cukup kuat. Setelah paruh tumbuh, penderitaan berikutnya adalah dia harus mencabuti semua kuku-kuku di cakar.
Kemudian dia harus mencabuti bulu-bulu di tubuhnya satu persatu. Sungguh sebuah proses transformasi yang berat. Betapa menderitanya, badan tanpa bulu, tentu sangat merasakan dingin yang amat sangat di atas puncak bukit, apalagi ketika malam tiba. Namun setelah berhasil dilaluinya, dia akan dapat hidup perkasa lagi, hingga 30 tahun mendatang.
Dorongan-dorongan dari filosofi burung elanglah yang menginspirasiku sehingga pada akhirnya belajar memperbaiki diri. Bagaimana aku menyayangi diri sendiri melalui tulisan. Dan ini bermula dari aku menyetujui untuk mengikuti kelas menulis. Semoga aku istiqomah untuk senantiasa tetap belajar dan belajar walaupun aku sekarang bukanlah di fase usia muda.

Guru di Melawi Kalimantan Barat
Instagram : @cucu_dariah
