f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Perempuan Bukan Samsak

Lastri, memunguti kepingan kacamata yang jatuh berantakan di lantai. Dua lensanya lepas dan terlempar ke arah yang berlawanan. Dia tidak bisa menangis meski hatinya nyeri bak tergores tajamnya belati. Tangan kekar yang belum pernah berbuat kasar itu, telah menempeleng kepalanya yang sehari-hari tak lepas dari balutan jilbab.

Lastri tak habis pikir, seingatnya dia hanya mengajukan pertanyaan ringan, ternyata membuat suaminya murka. Belum selesai pertanyaannya, tiba-tiba tangan itu sudah mendarat di kepalanya, dia terhuyung dan kacamatanya jatuh berkeping. 

Spontan muncul genangan air di mata Lastri yang memerah. Bukan kepalanya yang sakit, tetapi dadanya bergemuruh oleh rasa marah. Mulutnya dikunci rapat meski ada keinginan bersumpah serapah, tetapi dia masih bisa menahan tangis agar tidak tumpah. Kisah ini Lastri ceritakan sendiri kepadaku beberapa hari lalu. Saat itu secara tak sengaja kami sama-sama pulang dari membesuk tetangga di RS.

Pemandangan dan peristiwa seperti di atas masih sering terjadi hingga saat ini. Meski sudah ribuan kali digaungkan tentang Tolak KDRT, Stop KDRT, dan Stop Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan, hari ini masih saja terjadi. Baik di kota besar, di daerah-daerah, atau di pelosok desa terpencil sekalipun, kekerasan terhadap perempuan seakan merata.

Dari hal-hal yang sepele bisa memicu terjadinya kekerasan ini. Seperti kisah Lastri di atas, dia hanya bertanya masalah ringan. Namun, karena waktunya yang tidak tepat sehingga pertanyaan ringan pun mampu memantik amarah suami.

Mara tangan yang dalam bahasa Jawa kurang lebih berarti ringan tangan, suka memukul, menempeleng atau kekerasan lainnya yang memakai tangan untuk menyakiti liyan. Dalam hal ini biasa sang suami lakukan terhadap istrinya.

Baca Juga  Puasa dan Kesehatan Mental

Kekerasan fisik tersebut tidak hanya Lastri alami sendiri, tetapi juga perempuan-perempuan di belahan bumi lainnya dengan problem yang beragam. Dari yang umum dan sepele hingga serius dan biasa terjadi dalam kehidupan berumah tangga.

Hari ini kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih sering terjadi dan benar adanya. Pemicunya bermacam-macam. Seperti kisah Lastri, selayaknya tak terjadi. Pertanyaan ringan yang ia ajukan ke suami ternyata mengganggu pikiran suami yang beberapa hari belakangan tengah menghadapi berbagai masalah. Entah masalah pekerjaan, bisnis yang lagi seret, atau masalah-masalah kecil yang kadang butuh penanganan serius.

Masalah KDRT sesungguhnya sudah lama ada. Bahkan sejak penulis masih kecil usia klas 1 SD. Suatu hari, secara tak sengaja menjumpai tetangga yang menghajar habis-habisan istrinya hanya karena cemburu. Mereka bertengkar hebat dan istrinya membela diri karena memang tidak pernah melakukan yang sang suami tuduhkan. Suami murka dan sebuah kursi kayu melayang ke tubuh sang istri dan tidak sempat menghindar. Melihat adegan tersebut aku kecil lari tunggang langgang pulang ke rumah dengan dada yang berdebar-debar. Hingga kini pemandangan seperti itu sangat sulit untuk dilupakan.

Melihat fenomena KDRT, sepanjang usia penulis, seakan tak ada hentinya. Dengan berbagai model yang intinya perempuan berada di pihak yang tersakiti atau teraniaya. KDRT bisa secara fisik yang menyakiti badan dan secara psikis menyakiti hati atau perasaan lewat kata-kata yang tidak menyenangkan. Misalnya, hardikan, hinaan, bahkan cacian.

Tidak bisakah seorang suami sedikit menahan diri meski dalam posisi marah untuk tidak ringan tangan? Seolah ada kewajaran bahwa amarah “harus” dilampiaskan dengan menyakiti liyan. Dan bagi seorang suami, liyan itu ya istrinya, orang terdekat dalam keseharian.

Baca Juga  Ibu, Pahlawan Sejati !

Menyikapi banyaknya kejadian di lapangan tentang KDRT, bimbingan dan sosialisasi kerumahtanggaan untuk para calon pasutri sangatlah penting. Agar ketika sudah memasuki medan, mahligai sebuah pernikahan, tidak akan terkejut dengan hal-hal yang di luar dugaan. Pengenalan calon pasangan juga tak kalah penting. Tidak hanya bermodal cinta dan cinta supaya sebuah pasangan sudah siap ketika menjumpai suatu keadaan yang tidak menyenangkan.

Boleh jadi tidak terlalu salah dengan modal cinta karena dengan saling mencintai dan menyayangi, paling tidak KDRT itu bisa diminimalisir bahkan bisa dihilangkan dalam kamus hidup pasutri. Tentu saja jika masing-masing menyadari bahwa KDRT tidak akan bisa menyelesaikan masalah, tapi justru menambah masalah baru.

Kekerasan bisa terpicu karena lingkungan pergaulan dan luas sempitnya wawasan yang seseorang miliki. Lingkungan yang kurang kondusif dalam jangka lama terbukti mampu mengubah karakter seseorang yang semula lemah lembut menjadi temperamental. Wawasan yang sempit juga ikut memengaruhi tabiat seseorang karena kekurangtahuannya.

KDRT tidak akan terjadi bila masing-masing punya rasa saling menghargai, mencintai, dan sadar bahwa masalah yang timbul dalam rumah tangga adalah hal biasa. Meski tidak semua masalah atau konflik keluarga mampu terselesaikan sesuai harapan. Namun, hendaknya ada keyakinan bahwa Sang Pemberi masalah akan memberi pula solusi jika kita berusaha.

Di hadapan Sang Pencipta, laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama karena yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Demikian pula bagi suami dan istri. Setiap masalah yang hadir dalam kehidupan rumah tangga selayaknya dibicarakan bersama. Tak perlu ada yang merasa superior dan merasa lebih berkuasa di atas lainnya. Toleransi atas keduanya sangat dibutuhkan sehingga tercipta hubungan harmonis saling menghargai dan saling mencintai antar pasangan.

Baca Juga  Perempuan Pintar Bukan untuk Ditakuti Tetapi Dicintai

Sangat penting menanamkan pada anak sejak dini untuk selalu menghargai dan menghormati makhluk yang bernama perempuan. Hal ini diharapkan akan tertanam kuat dalam diri setiap anak untuk tidak mudah meremehkan, tetapi justru muncul perasaan untuk selalu melindungi perempuan. Dengan demikian kelak di kemudian hari kekerasan secara fisik maupun psikis terhadap perempuan tidak akan terjadi.

Perempuan bukanlah samsak tempat pelampiasan emosi negatif bagi laki-laki untuk menyakiti. Perempuan sudah seharusnya dihargai, siapa pun itu. Apakah dia seorang ibu, istri, anak, atau saudari-saudari yang kita punya. Bukankah kita lahir dari seorang perempuan? Jika terlanjur terjadi KDRT dan tak mampu dihindari, diam bukanlah cara yang tepat. Ketika korban diam, tidak menutup kemungkinan hal ini akan berulang dan terus berulang.

Bagikan
Post a Comment