f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Necrophillia

Toxic Parents: You’re Not Alone

Tentang kisah seorang anak yang tak bisa lagi merasakan kehangatan cinta kasih kedua orang tua. Berbagai tekanan batin ia terima, dan baginya, hidup bukan lagi soal bahagia dan nyaman. Ini soal toxic parents yang harus ia pikul sendirian tanpa ada seorang pun yang dapat menguatkannya.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah postingan di timeline twitter melalui perantara akun menfess (akun yang khusus untuk menyampaikan pesan kepada publik tanpa memberitahukan identitas pengirim). Saya tak tahu apakah dia seorang perempuan atau lelaki, yang jelas ia masih duduk di bangku perkuliahan.

Pada postingan itu, ia meng-capture percakapannya dengan kedua orang tuanya. Di percakapan tersebut, tanpa tedeng aling-aling sang ibu merundung dan memakinya tanpa ampun. kata-katanya terdengar sangat nyaring dan tajam jika diucapkan.

“Semua ini gara-gara kau, sial semua gara-gara kau.Anak otak cetek kayak kau kok di kuliahkan, kawan udah pada lulus semua dia belum. Bikin susah aja kau.”

Ia membalasnya dengan sangat hat-hati sekali. Ia pun berjanji kepada sang ibu untuk menuntaskan perkuliahannya dan meminta maaf karena telah membawa sial keluarga.

“Ma, kan kemaren (menyebut nama) cuti waktu sakit tipus, itu jadi lulusnya telat. (Menyebut nama) janji kok bakalan lulus secepatnya dan ini juga (menyebut nama) lagi cari kerjaan biar bisa lunasi semua tunggakan. Maafin (menyebut nama) ya ma udah jadi pembawa sial.”

Percakapan ini terjadi di pagi hari, di mana momen kebersamaan di meja makan sebelum berangkat kerja adalah sebuah kehangatan bagi sebuah keluarga–walau tak semua. setidaknya pagi hari membikin jiwa raga dapat kembali menghirup udara segar yang membuat siapa saja merasa nyaman. Tapi tidak dengannya.

Baca Juga  Wasiat Luqman Al-Hakim; Pendidikan Karakter dalam Al-Qur’an

3 menit berselang, sang ayah menghardiknya teramat pahit, tak kalah tajam dari sang ibu.

“Tau gini dulu nggak perlu dikuliahi kau, bikin omongan orang tua jadi jelek saja kau.Punya anak cuma satu tapi nggak bisa kek anak orang lain. Jangan jadi kek ibu kandungmu lah, jangan turun tabiatnya. Ayah sama mama udah nggak ngerti lagi liat kau.”

Ia–sekali lagi–meminta maaf kepada sang ayah kerena telah menyusahkan kedua orang tuanya dan berjanji untuk tak mengulangi kesalahan yang menyebabkan nama orang tuanya jelek di mata orang lain.

“Maafin (menyebut nama) ya yah. Maafin (menyebut nama) selalu bikin dosa ke ayah. (Menyebut nama) janji akan bahagiakan ayah. (Menyebut nama) janji akan lulus secepatnya, wisuda secepatnya. (Menyebut nama) janji akan jadi sesukses anak temen-temen ayah. Maafin (menyebut nama) ya yah.”

“Maaf kalau (menyebut nama) cuma bisa nyusahin ayah sama mama. (Menyebut nama) mohon jangan salahin ibu atas kelakuan (menyebut nama), Ibu gak tahu apa-apa yah :)). (Menyebut nama) sekarang lagi cari kerjaan baru biar bisa lunasi tunggakan di kampus dan di ibu kos.”

“Maafin (menyebut nama) selalu bikin rumah jadi panas. Maafin (menyebut nama) udah terlahir kedunia ini.”

To be honest, saat menulis ulang percakapan itu, saya dapat merasakan batinnya bagai teriris sembilu. Namun, ia tak lantas diam begitu saja menerima kenyataan pahit. Ia mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. Sebab dengan begitu, ia dapat menenangkan dirinya sendiri, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.

Walau kita tahu hatinya berdarah, jiwanya tertekan, hidupnya seketika ambyar. Karenanya, ia mengaku mengkonsumsi obat depresi dan mengeluarkan biaya untuk berobat ke psikiater.

Baca Juga  Jadikan Kenangan Pahit sebagai Pemantik Perbaikan Diri

“Mereka nggak tau berapa harga obat depresi & biaya ke psikiater. Aku kuat mengadapi kata-kata mereka ini sepagi ini. Everything gonna be ok! Cheer me up,” ujarnya pada caption.

Saya tahu ini berat, tapi percayalah Tuhan menancapkan kepadamu hati yang jauh lebih kuat, jauh lebih hebat dari pada jentikan jari Thanos yang dapat merubah segalanya itu. Dan tolong, jangan lagi mengucapkan permintaan maaf bahwa kamu terlahir di dunia.

Sebab kita semua adalah wayang yang menunggu kapan sang dalang akan memainkan peran kita di dunia ini. Entah esok lusa, 3 tahun lagi, 5, 10 tahun lagi? Kita tak pernah tahu. Namun yang jelas, kita hanya bisa bekerja keras dan berdoa sepanjang usia. Tanpa kenal lelah.

Untuk orang tua, cukupkan perbuatan yang dapat membuat anak semakin tak berdaya itu. Bukankah orang tua yang menghardik anak termasuk perbuatan durhaka kepadanya?

Kendati demikian, seberat apapun bebanmu tolong bertahanlah demi hal-hal kecil nan sederhana. Bertahanlah demi pelangi yang kau temui di puncak gunung, demi indomie yang temanimu di akhir bulan, demi senja yang membuatmu nyaman, demi Tuhan yang jiwamu berada di genggamannya.

Dan kepada siapa pun kamu, saya di sini turut mendukungmu dengan sepenuh sukma.

Cause…
You’re worthy
You’re important
You’re unique
You’re special
You’re talented
You’re irreplaceable
You’re never alone
Virtual hug for you, we love you till the end…

Bagikan
Post a Comment