f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kehilangan ibu

Seribu Hari Setelah Ditinggalkan Seorang Ibu: Sebuah Catatan Singkat Tentang Kehilangan

Kalau dipikir-pikir, waktu cepat banget berlalu. Perasaan kemarin baru saja lho merayakan tahun baru, eh sekarang udah pertengahan tahun saja. Mana hidup masih gini-gini aja yakan? Sialan.
Sedikit cerita, tahun 2021 kemarin bagi saya adalah tahun yang penuh dengan cita rasa. Iya, di tahun tersebut saya mendapatkan beberapa hal yang saya anggap sebagai pencapaian. Di sisi lain, saya juga merasakan titik terendah dalam hidup, tepatnya di bulan juni. Saya kehilangan ibu, seseorang yang paling saya sayangi.

“Ketika ibumu masih tersenyum, dunia akan baik-baik saja”. Saya selalu percaya dengan kalimat tersebut. Alhasil, ketika kehilangan, saya merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Butuh waktu agak lama sampai saya dapat agak menerima keadaan ini.

Ada satu kutipan menarik dari buku Dunia Sophie, kurang lebih seperti ini “kita memang dibiarkan memasuki dunia yang indah, kita bertemu satu sama lain di sini, saling menyapa dan berkenalan bersama sejenak. Lalu kita akan kehilangan dan lenyap dengan cara yang sama tidak masuk akalnya seperti kita datang”.

Kutipan tersebut cukup dalam, setidaknya bagi saya. Dan dari sana, saya cukup bersyukur bisa terus hidup, membuka cukup banyak lembaran baru, memulai kehidupan baru. Dan tentu saja menerima hal-hal baru juga.

Kehilangan memang selalu memuakkan. Apalagi kehilangan seorang ibu. Setelah kehilangan Ibu, tentu banyak hal yang terjadi. Selain sedih, ada banyak hal yang berubah dalam hidup. Iya, setelah kehilangan Ibu, aku belajar baaanyak sekali hal baru. Mulai dari beragam sudut pandang baru, cara melakukan ini-itu, sampai dengan pemaknaan dalam tiap aktivitas. Semua itu berpengaruh pada cara berpikir dan berperilaku.

Kehilangan memang cukup menyedihkan. Tapi lambat laun, kita akan semakin menerima, dan akhirnya menyadari secara utuh bahwa ia adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat diubah. Iya, bukan harusnya gimana, tapi setelah ini harus bagaimana. Susah sih, tapi pelan-pelan tetap harus dicoba untuk diikhlaskan.

Baca Juga  Yang Terdampak Pandemi Covid-19 Bisa Menjadi Donatur, Why Not? (2)

Dulu, aku agak kesusahan untuk mengerjakan tugas rumahan, pergi ke pasar, serta mengatur jadwal buat nugas Sekarang, aku amat menikmatinya. Pagi hari masak-masak sambil dengerin podcast. Setelah itu nyapu-nyapu, dan dilanjutkan mencintaimu. Haishhh, hidup memang cuma butuh adaptasi.

***

Saya masih ingat, betapa beratnya Ramadan pertama tanpa seorang ibuk. Alarm terbaik untuk bangunin sahur adalah ibu, karena itu saya sering telat sahur. Pun lebaran pertama tanpa seorang Ibu juga menyusahkan.

Aku agak kesusahan untuk menggambarkan bagaimana rasanya. Aku hanya bisa mengatakan setelah ibuk nggak ada, mengunjungi keluarga seperti berkunjung pada ingatan. Iya, selalu ada jejak ibuk dalam tiap sudut obrolan.

Dulu, saat mendengar suara takbir hari raya, aku sering merasa haru. Tapi sekarang beda, rasanya berubah menjadi sesak, hambar, dan tak lagi sumringah.

Meski sudah sekuat tenaga mengelak dan menghibur diri dengan banyak hal. Tetap saja tak bisa. Kesedihan adalah sebuah emosi yang tidak ada tombol on/off nya. Artinya hal tersebut hanya bisa diterima, diakui, dan dimaafkan saja.

“Maafkan semua yang lalu, ampuni hati kecilmu”. Sepenggal lirik lagu dari Tulus, entah kenapa begitu sentosa didengarkan saat sedang kehilangan. Yah, aku percaya, segala hal cuma butuh adaptasi aja kok. Sisanya bakal baik-baik saja.

Untuk yang masih ada ibu, rawat ia baik-baik. Ingatlah, di telapak kakinya saja ada surga, apalagi di senyumannya.

Yah, apapun yang akan terjadi, doaku akan tetap untukmu. Btw anakmu kangen buk. Sering-sering mampir njeh.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment