Belasan Tahun Mimpi Mantan – Talbis Iblis?
Mimpi adalah bunga tidur yang bisa berasal dari dua arah. Pertama, mimpi yang datangnya dari Allah. Biasanya berisikan mimpi-mimpi indah, yang patut disyukuri. Adapula sekadar mimpi yang mudah terlupa ketika terbangun. Seperti misalnya bermimpi azan, salat jamaah, baca Alquran, berkumpul orang salih, ketemu teman-teman masa kecil, dan hal-hal indah lainnya berasal dari Allah.
Kedua, mimpi itu bisa datang dari musuh manusia, musuh sejak zaman nabi Adam. Mimpi dari setan biasanya membawa kegelisahan, angan-angan dan keburukan. Termasuk bermimpi ketemu hantu.
Sebagai guru ngaji, saya tak sesalih yang orang kira selama ini. Saya yang telah menjenama diri sebagai guru berbau spiritual, tak selayaknya memimpikan istrinya orang. Namun itulah yang saya alami. Saya tak membanggakannya. Terus terang saya sebagai guru ngaji sering memimpikan wanita, istri orang, padahal ia cuma mantan pujaan hati. Bukan mantan pacar, bukan pula pernah jadi tunangan. Murni hanya pujaan hati saja, cinta pertama semasa SMP.
Parahnya lagi, mimpi bersua dengannya itu seringkali terjadi bahkan selama belasan tahun. Padahal saya istiqomah berdoa sebelum tidur. Namun tetap saja ia muncul. “Itu istri orang!!” Kata saya yang pernah berteriak demikian, di suatu momen terbangun. Entah tahun ke berapa kejadian tepatnya.
***
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. Dalam hadits riwayat Bukhari no. 6995 yang tertera dalam kitab Hadits Sahih Bukhari, yang berbunyi,
“Mimpi yang baik itu datangnya dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka hendaklah ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca taawuz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalikkan badannya ke sisi yang lain. Dengan demikian, tidak ada lagi yang membahayakan dan jangan ceritakan kepada seorang pun mimpi tersebut.”
Kendati sang junjungan, Rasulullah, melarang untuk menceritakan, ada beberapa ulama yang membolehkan. Bila ada manfaatnya untuk dapat menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Selain itu, saya berbagi kisah ini barangkali ada juga yang penasaran, apa makna dan penyebab bermimpi buruk yang serupa mimpi saya. Sebetulnya empat tahun terakhir ini ada penurunan intensitas pertemuan di alam bawah sadar dengannya. Hal ini lantaran saya sudah menikah. Sudah punya anak pula.
Cinta saya rasanya telah sepenuhnya untuk keluarga kecil saya, untuk istri dan si buah hati. Semoga ke depannya, makin jarang bermimpi mantan. Bahkan saya berharap ia tak akan muncul lagi. Hal yang paling jelas makna mimpi itu setahu saya, hanyalah permainan setan belaka. Talbis (bisikan) iblis yang mengelabuhi saya agar iman kian goyah. Gelisah, berandai-andai, dan tak realistis menghadapi bahtera kehidupan. Secara agama pula, ternyata mimpi bertemu istri orang itu, baru saya ketahui tak termasuk perkara dosa. Di sini ada rasa lega di dada saya, setelah mendengar ceramah Buya Yahya tempo hari, perihal pertanyaan jamaah yang tak sengaja bermimpi berduaan dengan istri orang.
***
Saya menonton ceramahnya di sebuah kanal Youtube. Buya Yahya juga memberikan wejangan agar orang yang seperti saya, sering merapal istighfar. Tetap istiqomah menjalankan sunah membaca taawuz dan tindakan lainnya. Tujuannya agar tak mudah diganggu berahi dan setan di kemudian hari. Saya sendiri tak tahu bagaimana reaksi istri setelah membaca curhatan ini. Cemburu atau abai, biarlah. Saya pasrah, dan semoga kisah ini bermanfaat bagi khalayak.
Sebagai lulusan psikologi saya juga penganut setia Freud. Tulisan yang seperti ini, telah menjadi terapi mental bagi diri saya sendiri. Saya juga setuju dengan teori Bapak Psikoanalisa ini, bahwa mimpi terkadang mempunyai pesan tersembunyi. Bertemu dengan mantan atau orang yang meninggal misalnya. Sepemahaman saya, mimpi bertemu orang yang telah meninggal bukan berarti akan segera dipanggil juga. Bukan berarti wafat terjadi tak lama lagi, yang menyebabkan was-was dalam hati. Begitu pula mimpi bertemu mantan, bukan berarti akan balikan atau pertanda bakal selingkuh dengannya dalam waktu dekat.
Freud juga acapkali menganalisa mimpi-mimpi pasien yang berkunjung ke tempat praktiknya. Mimpi yang sejenis dengan mimpi saya itu, menurutnya mengejawantahkan bahwa ada masalah psikis yang mengendap di alam bawah sadar. Penyebab bertemu mantan atau yang telah wafat adalah bisa jadi lantaran rindu, atau belum ikhlas akan kepergiannya. Kalau dari sudut pandang seksualitas, katanya, mimpi seperti selingkuh itu menandakan adanya ketidakpuasan seksualitas maupun emosional terhadap pasangan.
***
Terus terang, perkara emosional saya rasa cukup terpuaskan oleh jalinan komunikasi dengan istri saya sendiri. Namun kalau ditinjau segi traumatik masa lalu mungkin iya. Trauma yang membuat alam bawah sadar saya mengekang wajah mantan itu. Berarti, saya belum begitu ikhlas meninggalkan dirinya hingga kini. Di mana 10 tahun memendam perasaan yang sama dengannya, tapi berujung tragedi akibat saya ditolak oleh orang tuanya. Saya melamar dirinya saat masih kuliah.
Dilihat dari sudu pandang agama, saya bisa-bisa tergolong guru ngaji yang munafik. Lisan ini berkata ikhlas dengan takdir Allah, tapi hati tak 100% melepas. Ingin sebetulnya melepas tuntas, si mantan cinta pertama yang bertahta 10 tahun di dada itu. Melepaskannya agar berbahagia dengan suami yang menjadi takdirnya. Sebab selama lima tahun dari pernikahannya itu, saya pribadi juga telah menemukan banyak peristiwa bahagia.
Sungguh, saya tak mengharapkan ia akan kembali lagi dalam kehidupan saya. Apalagi sebagai bunga tidur esok hari dan seterusnya. Bagaimanapun, selain istigfar dan menulis sebagai terapi diri, masih saja ia mampir. Padahal saya tak memikirkan dia sedikitpun. Inilah cara saya mengikhlaskan- jika memang ‘ikhlas’ adalah penyebabnya ia kerap hadir-, yakni dengan berulang kali mengatakan hal positif kepada diri sendiri.
Oleh karena itu, saya terkadang berkata sebelum tidur, “Saya sangat bersyukur sudah menikah. Istri yang tak sempurna tapi ia menerima saya apa adanya. Bersyukur sudah diberkahi buah hati. Jadi tak malu lagi sama ilahi. Kelak bisa mati di usia senja dengan mewarisi bani. Semoga bani saya ini tergolong salih kelak.”
Ketika bangun, usai doa bangun tidur terkadang saya tambahkan kalimat positif. “Saya benar-benar bersyukur telah menikah, ketimbang menestapakan diri. Terimakasih, ya Rabb.”

Guru ngaji. Tinggal di Bondowoso. Aktif menulis fiksi dan nonfiksi.
IG: mustofa_psikologi
