Terima Kasih, Anosmia
“Kamu kekurangan sel darah merah?” tanya seorang teman. “Itu Anemia!” ungkap saya kesal walaupun dalam hati tertawa. “Ini anosmia! Dan ini bukan lupa ingatan ya!” tukas saya cepat sebelum dia menganggap sama dengan amnesia.
Penyakit akibat infeksi virus COVID-19 adalah penyakit yang bisa diderita oleh siapa pun. Gejala yang dialami setiap orang biasanya berbeda-beda. Salah satu gejala yang umumnya dialami oleh pasien COVID-19 adalah anosmia. Anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau dan biasanya diikuti kehilangan indera perasa.
Qadarullah, bulan Juli 2021, saat disebut-sebut badai COVID-19 memasuki gelombang ke-2 di Indonesia, saya pun tak luput dari virus itu. Saya mengalami anosmia tepat di hari ke-2 setelah dinyatakan positif COVID-19. Ceritanya hari itu saya makan buah naga. Tidak manis sama sekali.
“Kok ga manis?” Saya sedikit protes ke istri. “Ya iyalah udah anak 2,” jawabnya ketus. Dulu aja muji-muji terus. “Wait, ini lho buah naganya ga manis!”, jawab saya hati-hati. Mungkin karena lelah mengurus pasien COVID-19, istri jadi agak sensitif. “Itu manis banget lho” katanya. Spontan (uhuy!) saya jawab terima kasih. “Bukan Abah tapi buah,” jawabnya sedikit ngegas.
Bergegas saya langsung mencium parfum hadiah ulang tahun pemberian istri. Tadinya parfum itu wangi sekali. Bahkan di baju yang sudah dicuci sekalipun wanginya masih suka tertinggal. Sama seperti kenangan manis dengan mantan. (Eh!). Kembali ke parfum. Kali ini saya tidak bisa mencium wanginya sama sekali. Tak salah lagi, saya mengalami anosmia.
Saya mencoba beberapa terapi agar bisa segera sembuh dari anosmia. Tapi cukup repot juga. Seperti tes seleksi untuk menjadi panelis uji sensori di industri makanan. Mesti menyiapkan bahan-bahan beraroma seperti lemon, mawar, cengkeh, jahe. Masing-masing aroma dihirup dalam-dalam selama 15-20 detik dan dilakukan beberapa kali setiap hari.
Sepuluh HAri Anosmia
Saya lakukan yang lebih sederhana: menghirup aroma minyak kayu putih sesering mungkin untuk mengembalikan indera penciuman. Alhamdulillah berhasil. Cukup lama. 10 hari. Kalau saja saya disiplin mempraktekkan latihan menghirup beberapa aroma seperti disebut di atas mungkin bisa pulih lebih cepat.
Tapi saya tidak cukup disiplin. Suka fokus ke hal lain. Seperti telponan dengan keluarga atau teman, baca buku, dan nonton Netflix. Walaupun tetap sambil menghirup aroma minyak kayu putih sesering mungkin. Kalau seperti ini kan bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Bukan menjalin dua hubungan dalam waktu bersamaan ya! (Ups!)
Selama 10 hari mengalami Anosmia cukup menderita. Makanan enak menjadi tidak ada rasa. Tidak bisa mencium apa-apa. Jam makan menjadi momok yang menakutkan. Tidak enak makan tapi harus makan, biar tetap survive. Teknik satu kali suap langsung “dorong” dengan air putih pun menjadi pilihan.
Filosofi Jawa yang dipopulerkan Slank “makan ga makan asal kumpul” tidak berlaku saat itu. Enak tidak enak harus makan. Karena masih sayang badan. Belum lagi kalau gejala lain muncul. Seperti mual, sakit kepala, flu sampai nafas kadang tersengal. Ditambah rasa bosan terkungkung sendirian. Rasanya ingin “protes” kepada Tuhan.
Berita PHK di mana-dimana. Antrian pasien di rumah sakit bikin geleng-geleng kepala. Berita orang meninggal dunia begitu banyaknya. Mulai dari berita di televisi, sosial media, grup WA sampai dari pengurus masjid yang diumukan lewat toa. Sampai suatu momen saya merenung. Pantaskah saya mengeluhkan ini? Hey, kamu cuma anosmia!
Saya masih mempunyai pekerjaan di saat orang-orang banyak terkena PHK. Dan saya masih bisa melihat mentari pagi dan mendengar kicauan burung kenari di saat orang-orang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Saya memang sakit tapi gejalanya tergolong ringan. Masih isolasi di rumah. Sedangkan masih banyak orang-orang harus diisolasi di tempat yang mungkin tidak layak sehingga akhirnya meninggal karena kurang penanganan.
Sakit Menjadi Pengingat Nikmat yang Banyak
Saya mengalami anosmia hanya sementara. 10 hari saja. Bandingkan dengan kenikmatan yang sudah saya dapat selama puluhan tahun. Saya seperti ditampar. Malu. Padahal Allah masih menegur dengan cara yang lembut.
Saya baru mengerti hikmah Firman Allah dalam surat An-Nahl 18 yang artinya “Dan jika kamu menghitung Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Selama ini saya hanya bersyukur di saat mendapatkan rezeki berupa uang, perhiasan, pekerjaan, kendaraan dan benda lain yang bersifat materi. Padahal kalaupun tidak mendapatkan itu semua, Allah telah banyak memberikan nikmat.
Tidak sakit itu nikmat. Berkumpul bersama keluarga itu nikmat. Bisa beribadah tanpa takut terkena serangan bom itu nikmat. Bisa merasakan hangatnya matahari pagi itu nikmat. Punya indera penciuman itu nikmat. Bisa merasakan makanan, enak atau tidak enak, itu nikmat.
Anosmia ini memberikan saya pengalaman lain. Pengalaman spiritual luar biasa yang membuat saya sadar untuk selalu bersyukur. Dalam keadaaan apa pun. Saya senang sekali saat indera penciuman dan perasa itu “dikembalikan”. Saya memanjatkan syukur yang luar biasa. Berbeda dari sebelumnya.
Rasa syukur kali ini lebih berasa. Semoga saya dan kita semua termasuk orang-orang yang selalu bersyukur. Bukan bersyukur di saat mendapatkan rezeki saja, tetapi bersyukur terhadap apa yang kita sudah punya. Kita bisa saja mengalami anosmia tetapi seharusnya tidak amnesia terhadap nikmat Allah yang tidak terbilang jumlahnya. Terima kasih, anosmia.
Seorang suami dengan 2 anak
