f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hubungan saya dengan bapak

Hubungan Saya dengan Bapak Adalah Kisah Cinta yang Paling Rumit

Beberapa waktu lalu ketika ada keperluan perkuliahan yang berhubungan dengan keuangan, saya harus banget untuk bercakap-cakap secara virtual dengan bapak saya. Seperti biasa, percakapan kami tidak lama, dan hanya berisi hal-hal formal saja.

Jujur, pada saat itu saya ingin sekali menanyakan banyak hal yang sederhana, misalnya, “Gimana kabarnya?” “Sudah makan atau belum?” “Lagi sibuk apa?” Serta pertanyaan lainnya yang masuk dalam kategori basa-basi. Namun ekspektasi memang sering tidak sejalan dengan realita. Saat itu alih-alih bertanya kabar, lidah saya jadi kelu, seakan mematung, dan saya hanya bisa diam. Kata-kata sederhana tersebut menjadi susah untuk diucapkan.

Setelah pembicaraan formal tersebut terpenuhi, saya pun diam. Bapak juga diam. Waktu pun terdiam. Dan kami hanya bisa mengakhiri pembicaraan yang seharusnya sangat bisa untuk diperpanjang durasinya.

Momen yang rumit seperti ini tidak terjadi sekali atau dua kali saja. Melainkan sering. Bahkan hampir selalu. Iya, ketika melakukan obrolan dengan bapak, seakan kalimat-kalimat sederhana tersebut menjadi tertahan cukup kuat. Tak bisa lepas. Dan tak mau keluar dengan merdeka.

***

Awalnya saya menduga kalau hubungan rumit ini hanya dirasakan oleh saya sendiri. Namun, setelah bercerita dengan beberapa teman sejawat, dugaan tersebut sangat muskil untuk terbukti. Iya, teman-teman saya juga demikian. Mereka juga sering merasa canggung ketika berbicara dengan bapaknya.

Teman saya sempat cerita kalau ia bahkan tak pernah meminta doa pada bapaknya. Tentu bukan karena ada masalah. Bukan juga karena tidak percaya keajaiban doa bapak, tapi meminta doa, mengutarakan rasa sayang, atau bahkan sampai memeluk bapak adalah hal yang susah sekali dilakukan. Kira-kira seperti itu pengakuan dari teman saya.

Baca Juga  Di Sekolah, Anak Nggak Harus Pintar!

Hal ini tentu berbeda cukup jauh dengan hubungan antara seorang anak dengan ibunya. Sering saya menjumpai berbagai macam pelukan dan ciuman hangat dari seorang anak yang mendarat begitu saja pada ibunya. Seakan tak ada sesuatu yang menahan dan membuat momen tersebut gagal untuk diwujudkan.

Dulu, ketika ibu saya masih hidup, saya sering bersandar di bahunya, tidur di pangkuannya, bahkan memijat pundaknya ketika ia terlihat kelelahan. Dalam keseharian, cerita tentang apa saja terasa sangat biasa dilakukan, apalagi hanya menanyakan seputar kabar. Tapi ketika obrolan ringan ini dilempar kepada bapak, hasilnya malah rumit dan susah sekali terjadi.

Entahlah, tapi rasa canggung dan kaku terhadap bapak adalah hal sering terjadi pada saya. Tapi bukan berarti saya membenci bapak. Saya sayang. Hanya saja ini rumit untuk diucapkan.

***

Kisah-kisah tentang bapak memang tak seheroik ibu. Disadari atau tidak, seorang anak yang baru pulang ke rumah, yang ia cari pertama selalu saja ibu. Tebakan saya, ini terjadi karena dalam rumah tangga kebanyakan bapak memang berperan sebagai orang yang tegas dan tak mudah berkeluh kesah. Rasa segan pun akhirnya hinggap dan bersarang dengan nyaman pada pola pikir seorang anak.

Ini bisa dilihat ketika kita tidak mendapat izin dari bapak untuk melakukan sesuatu, tentu saja kita hanya bisa mengangguk perlahan, kemudian masuk kamar secepat-cepatnya, bahkan bisa saja malah menangis secara diam-diam. Berbeda jika yang tidak memberi izin adalah ibu, respons kita adalah menawarkan kesepakatan baru dengan berbagai cara, misalnya merengek, merayu, atau bahkan merajuk.

Coba kita menelisik lagi, ketika hari ibu, hampir semua anak mengucapkan atau merayaknnya. Tapi berapa banyak anak yang mengucapkan atau merayakan hari ayah? Saya sendiri juga jarang melakukannya. Bukan karena ada kebencian. Saya sangat mencintai bapak saya, tapi sekali lagi, menunjukkan cinta kepada seorang bapak adalah hal yang rumit.

Baca Juga  Catatan Sang Penyintas Stroke

Ada satu kutipan dalam serial anime Boku no Hero. Kurang lebih begini, “Bagaimana caranya agar kita bisa selalu melindungi anak-anak ketika ia ada masalah? Tentu saja dengan membuatnya semakin kuat.”

Mungkin kutipan itu cocok dengan bapak, karena tugas beliau adalah selalu melindungi anak-anaknya. Dan untuk selalu dapat melindunginya, bapak sering menunjukkan ketegasan, sehingga anak bisa menjadi semakin kuat, meski hal ini berdampak pada rasa canggung dalam berhubungan.

***

Saya kira seorang bapak sudah sangat paham akan resiko dari persona tegas yang ia pilih dalam mendidik anak. Iya, bapak sepertinya paham jika ketegasan yang ia lakukan akan membuatnya tak mendapat perlakuan istimewa seperti seorang ibu.

Oh, iya, satu lagi, meski ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Tapi jangan lupa kalau kepala sekolahnya adalah bapak. Iya, bapak bertugas memimpin, membimbing, serta mengevaluasi pelaksanaan pendidikan keluarga.

Ketika mulai memahami ini, saya lebih hormat dengan bapak. Ia adalah salah satu alasan krusial yang membuat saya hari ini bisa lebih kuat dari saya yang kemarin.

***

Bapak, kayuhnya memang sudah ringkih. Tapi pundaknya selalu terlihat kuat untuk menampung anak-anaknya yang mulai tumbuh dewasa. Semoga seluruh bapak di dunia tetap sehat dan baik-baik saja.

Bagikan
Post a Comment