Tarhim
Dalam kabut pagi yang hening
sepasang daun bercinta melepas rindu
ibu-ibu pasar melanglang resah
aku menyeru namamu, wahai embun yang meninggalkan malam.
Gema suara yang menemu dadaku
menyeruak bimbang pekat
pelan-pelan memudar pilu
Aku bertemu denganmu, wahai sungai yang mengalir sunyi.
langkah kaki sepanjang cinta
tetes air mata Yusuf menatap Zulaikha
diam-diam engkau bisikkan ketenangan
aku menuju rumahmu, wahai langit yang berdansa mesra.
lorong-lorong itu menyambut
semerbak bunga dalam hembusan napas
semakin dekat, semakin resah
ku kecup keningmu, wahai angin yang menyibak dendam.
awan menari manja di sela-sela jari Maryam
dalam dekapan cinta yang menggoda
selembut kasih burung-burung Sulaiman
memancarkan harapan, menjemput firdaus
bumi menangkap jejak-jejak Musa
menumbuhkan kurma sepanjang kasih
taman warna-warni menyambut tarhim
tiada lagi sangsi, bagi mereka yang merindu
setetes air di penghujung peluh
cahaya Sarah membuka cakrawala
bunga mawar lumpuh, kupu-kupu mencari sayapnya
inikah cinta?
demi jari telunjuk yang penuh ketegasan
gempuran ombak seperti kertas melayang
engkau tetap bersamaku, wahai kumbang yang menghisap waktu
demi mantra yang menghapus lara
puisi-puisi itu kehilangan makna
jika suaramu nyaring berselimut damai
pohon-pohon menunduk, bersimpuh di hadapmu
dalam pasrah menyeluruh
kedua tangan menengadah rindu
basuh wajahku yang penuh luka
sebab, ke mana lagi aku mengadu?
dalam bimbang Yakub menanti matahari
bibirku merapal namamu
sungguh, air mata tiada arti
saat tubuhku menyatu bersamamu.
Gunungkidul, 9 Februari 2022
Founder Sanggar Ori Gunungkidul
