Seember Air Mukjizat dari Langit
Cahaya Allah dan Hidayah Islam telah tersebar luas di kalangan kabilah Daus, dengan ketua kabilah At-Thufail bin Hakim.
Kabilah ini tinggal di sebuah daerah yang terletak di sebelah selatan kota Mekah, sebagai kaum pagan, penyembah berhala yang bernama Dzu Al-Khalashah.
Melalui Ath-Thufail Islam telah tersebar ke beberapa warganya. Salah satu dari warga tersebut terdapat seorang bernama Al-Akr dan istrinya, Ummu Syarik.
Nama lengkap Ummu Syarik adalah Ghaziyah binti jabir bin Hakim. Dia termasuk perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah selain Laila binti Hathim, Ummu Hani’ binti Abi Thalib, Khaulah bin Hakim dan Umamah binti Hamzah. Ummu Syarik adalah perempuan cantik, teguh pendirian, mandiri, tegar.
Ketegaran dan kemandiriannya semakin nampak ketika ia suaminya hijrah ke Madinah bersama Abu Hurairah, juga seorang warga kabilah Daus yang akhirnya menjadi perawi hadits ternama.
Keteguhan hati Ummu Syarik ini ditunjukkan dengan ketegasannya menjawab ancaman dari kaumnya yang belum menerima sinar cahaya Islam, yang akan menyiksanya jika mengikuti agama Rasulullah. “Demi Allah, aku akan mengikuti agama suamiku. Itulah agama yang benar dan jujur. Aku tidak lagi menyembah Dzu al-Khalashah, lambang angkara murka dan kerusakan kaumnya.”
Mendengar apa yang diucapkan Ummu Syarik ini, semakin membuat pemuka Daus naik pitam. “jika engkau menemui suamimu, kami akan menyiksamu dengan siksaan yang berat, hingga kamu kembali dari agama Muhammad pada agama kaummu. “
Apalagi melihat Ummu Syarik tinggal seorang diri, kesempatan bagi kabilah Daus, penyembah berhala ini untuk menghabisi Ummu Syarik. Para pemuka kabilah Daus tidak terima jika ada warganya yang memeluk agama baru dan meninggalkan agama nenek moyangnya. Mereka berupaya sekuat tenaga menghalangi Ummu syarik agar tidak menyusul suaminya ke Madinah dan mengikuti agama Muhammad.
Siksaan dari kabilah Daus
Suatu hari di bulan Ramadan. Beberapa orang dari kaum Daus membawa Ummu syarik ke suatu tempat, di tengah padang sahara yang luas dan jauh dari rumahnya. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah hamparan pasir. Mereka menaikkan Syarik ke atas punggung unta besar yang lambat jalannya, tanpa pijakan kaki (pelana) dan sangat membahayakan keselamatan Syarik jika menunggangi. Mereka memberinya roti dan madu, tapi tidak memberinya air minum walaupun setetes, sampai tengah hari saat matahari sedang terik-teriknya.
Di tengah keadaan menahan dahaga yang tiada terkira, mereka justru berteduh di dalam tenda sembari mengamati apa yang terjadi pada Ummu Syarik. Mereka memang ingin mencelakakan Syarik. Kalau tidak celaka karena unta itu tiba-tiba liar lalu melukai dan membunuhnya, mereka berharap Ummu Syarik akan meregang nyawa karena menahan haus tak terkira.
Mereka membiarkan Ummu Syarik dalam keadaan ini sampai tiga hari tiga malam. Setiap hari ketika sore menjelang, mereka keluar dari tenda dan kembali mendatanginya. Berharap Ummu Syarik akan berubah pikiran. “Mudah-mudahan kamu bisa mengambil pelajaran. Apakah kamu akan meninggalkan agamamu dan kembali pada agama kaummu?”, berulang kali itu yang ditanyakan oleh kaumnya pada Ummu Syarik.
Karena sudah sangat menderita dengan apa yang dialami, Syarik tak dapat lagi menjawab apa yang ditanyakan oleh kaumnya. Pikiran, pendengaran dan penglihatan Ummu Syarik seolah-olah hilang. Ia kehilangan energi. Lidahnya kelu, seakan lengket dengan kerongkongan. Air liurnya telah kering menahan haus. Dalam keadaan yang teramat lelah ini, Syarik hanya bisa memberi isyarat dengan menunjuk jarinya ke atas langit. Sepertinya ia ingin mengatakan tentang tauhid dan mengesakan Allah. Hal itu terus dilakukan Syarik sampai puncak keletihan dan datanglah pertolongan Allah.
Air Mukjizat dari Langit
Pada hari keempat, panas matahari mencapai puncaknya. Angin berhembus sangat kencang, merobohkan tenda kabilah hingga beterbangan ke angkasa. Mereka heran dan bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi. Apakah ini hukuman Tuhan pada mereka atas perlakuan mereka pada Ummu Syarik.
Dalam waktu bersamaan itu, Ummu Syarik melihat seember air tergantung di langit. Perlahan-lahan air itu mendekati mulutnya. Ummu Syarik meraihnya sehingga ia dapat merasakan nikmatnya meneguk air. Basahlah kerongkongan dan lenyaplah dahaganya. Yang menakjubkan, tak lama setelah itu, ember berisi air tadi terangkat lagi ke atas. Seakan ada yang menariknya. Sesudah itu ember turun lagi menyirami wajah dan membasahi bajunya. Dengan begitu, panas tubuhnya juga mereda.
Menyaksikan hal ini, Kabilah Daus terbengong-bengoong dan penasaran. Mereka saling bertanya satu sama lain. Dari mana gerangan air ini berasal. “Mungkin ia berhasil menjangkau ember air kita?”, kilah yang lain. “tetapi dia terikat tangan dan kakinya.”, seru yang lain lagi. Beberapa orang melihat ember air masing-masing yang mereka punya. Ternyata ember atau gentong air yang mereka miliki masih tertutup rapat seperti semula.
Masih tidak bisa menerima kenyataan apa yang dilihatnya, datanglah seorang dengan suara keras membentak Ummu Syarik. “Dari mana kamu mendapatkan air ini, wahai perempuan kafir pada tuhan kami? Saat ini, lidah Ummu Syarik tidak lagi kelu. Dia menjawab, “ semua ini adalah rizki dari Allah Tuhanku, sebagaimana Dia meberi rizki kepada Maryam putri Imran yang sedang beribadah di Mihrab.”
Mendengar jawaban ini, gemetarlah badan si penanya. Bersama rombongannya mereka saling pandang. Mereka berkata, “kalau demikian, Tuhanmu memang lebih baik daripada Tuhan yang kami sembah, Dzu al-Khalashah.” Pada saat itulah serombongan kabilah Daus tadi bersyahadat dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Lailatul Fithriyah Azzakiyah, S.H.I, M.Pd.I adalah Founder Metode Tahfizh Qur’an Tematik
