f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ainun

Melihat Cinta di Mata Ainun

Membaca newsfeed seorang teman di facebook sore tadi. Dia bercerita tentang seorang gadis bernama Ainun Jamilah Al Aidid. Perempuan keturunan Arab yang tampil bernyanyi bersama di konser online dengan menyanyikan lagu gubahan seorang pastor, Ryo Immanuel. Yang mengherankan, bagi teman saya ini adalah gadis itu bukan saja berjilbab tapi juga bercadar. Singkat cerita, mereka berkomunikasi dan bertanya jawab seputar kegiatan itu.

Ainun yang seorang aktifis JALIN (Jaringan Lintas Iman) ini kemudian bercerita bagaimana awalnya ia mengenakan cadar dan stigma-stigma yang ia dapatkan atas pilihannya. Bagaimana ia menepis tatapan-tatapan sinis dan ucapan-ucapan dengan nada mengejek yang sering ia terima dari orang-orang disekitarnya. Itu semua karena kostum yang dikenakannya. Bagaimana ia sampai di titik balik bahwa untuk menepis prasangka itu ia juga harus berhenti untuk bersyakwasangka pada orang lain.

Tak bisa dipungkiri, stigma yang melekat pada perempuan bercadar pastilah seorang yang sangat dalam pengetahuan agamanya. Atau, ia yang dianggap memiliki pemahaman ekstrim bahkan radikal. Ada juga yang mengatakan, mereka yang bercadar tidak akan mau bergaul dengan orang yang tidak mengenakan cadar. Dengan kata lain mereka eksklusif dan pilih-pilih teman.

Melepaskan Prasangka Diri

Ainun mematahkan semua stigma itu. Ia ingin menyatakan pada dunia bahwa ia adalah perempuan yang merdeka atas tubuhnya dan berhak memilih apa yang ingin ia kenakan. Ia berjabat tangan dengan siapa saja, laki-laki ataupun perempuan. Ia bergaul dengan siapa saja, Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan itu ternyata menyenangkan baginya. Ia berpendapat bahwa agama adalah tentang perbuatan bukan simbol. Agama akan terpancar dari tingkah laku kita, dari bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Baca Juga  Pagi Menghilang Ketika Malam Datang

Ia awalnya mengira bahwa dengan cadar  ia telah sampai pada puncak dari ketaatannya kepada Tuhan. Dengan mengenakan cadar ia dapat melindungi dirinya dari pandangan mengandung nafsu dari lawan jenisnya. Tanpa ia sadari muncul rasa dalam hatinya bahwa ia lebih mampu menjaga diri. Tapi ternyata pada akhirnya juga, ia sadar bahwa cadar sama sekali tak mampu melindunginya dari pandangan penuh pelecehan dari lawan jenisnya.  

Ainun memulainya dengan melepaskan semua prasangka yang ada dalam dirinya. Ia kemudian menyadari bahwa apa yang ia kenakan adalah model berbusana yang juga dikenakan oleh penganut agama lain. Dari pergumulan belajarnya, akhirnya ia memutuskan akan terus mengenakan cadar tetapi dengan mindset yang berbeda. Ia ingin perempuan-perempuan lain yang bercadar tetap memiliki pemikiran seperti dirinya.

Ainun menyadari akan ada yang menganggapnya telah menyalahi aturan bercadar karena tidak mensakralkannya. Tetapi ia sudah siap dengan itu. Ainun merasa berhak mengenakan cadar sebagai jalan dakwahnya. Ia berharap dengan cadarnya ia bisa memanusiakan manusia lain yang berbeda iman dengannya pun dengan yang berbeda pakaian dengannya. Memandang semua makhluk sebagai percikan cahaya Tuhan di bumi dan semua manusia yang menghuninya adalah saudara baginya.

Ainun, Memahami Pilihan Cinta

Bagi saya, menjadi Ainun adalah bagaimana memahami cinta. Mencintai tanpa sekat dan batas. Meskipun, dengan kesadaran bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang akan terus ada. Perdebatan tentang apakah cadar adalah bagian dari perintah agama ataukah hanya sebagai pilihan berbusana akan terus mengemuka. Perbedaan pendapat tentang batas-batas aurat pun akan terus menjadi bahan diskusi di ruang-ruang publik atau di lembaga-lembaga akademik. Tetapi satu hal yang harusnya tetap kita kedepankan adalah bahwa apapun yang menjadi pilihan seseorang dalam berbusana harus bisa kita hargai.

Baca Juga  Berkah Ramadan, Gara-Gara Ngabuburit Jadi Guru TPA Dadakan

Tidak bisa kita pungkiri bahwa perempuan bercadar yang berpikiran seperti Ainun masih sangat jarang di negeri kita. Kebanyakan mereka memang terlihat eksklusif dan tertutup bagi komunitas lain. Beberapa orang malah terang-terangan mengakui bahwa suami-suami mereka tidak membolehkan mereka bergaul dengan perempuan yang tidak bercadar apalagi yang tidak berjilbab. Suami mereka takut kalau istrinya terpengaruh dengan pendapat teman-temannya tentang cadar dan kembali “kafir”.

Stigma tentang perempuan bercadar yang ekstrem dan radikal  seharusnya bisa kita hilangkan dari pikiran kita. Bahwa ternyata ada begitu banyak perempuan-perempuan bercadar yang juga cinta Indonesia seperti kita yang tidak bercadar. Mereka yang bangga menjadikan Pancasila sebagai dasar negaranya.

Menjadikan Indonesia bukan hanya tentang slogan dengan tagar. Tetapi mampu menampilkan Indonesia dengan keragaman yang penuh welas asih dari pada semua slogan itu. Memastikan bahwa kita akan terus menjadi pembawa pesan damai dan melaksanakan nilai-nilai luhur dari keyakinan yang kita anut. Mendalami satu agama seharusnya tak menghentikan kita untuk memanusiakan manusia.

Selarik bait lagu “ Mendamba Indonesia” berbunyi “sapa tanpa prasangka, yang alihkan benci jadi cinta,” dinyanyikan oleh peserta lintas iman di mana Ainun ikut menjadi pesertanya. Mereka, seperti juga kita yang mendamba Indonesia hidup penuh cinta dan harmoni dalam perbedaan.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment