f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Realitas Jilbab dan Stigma Keshalehan Muslimah

Oleh: Anindita Rahma Firdausya*

Jilbab selalu menjadi bahasan yang menarik, perbincangannya masih ditemukan di banyak organisasi, seolah menjadi bahasan yang tidak pernah selesai.

Lalu saya berpikir, sepertinya bukan jilbabnya yang tidak selesai, namun sosial budaya yang kemudian selalu menyoalkan dan menyebabkan perbincangan mengenai jilbab ini tidak selesai, belum lagi jika dikaitkan dengan cadar.

Padahal, banyak urgensi yang kemudian harus dipikirkan umat Islam selain membahas mengenai jilbab.

Terlepas dari penafsiran kata “Jilbab” oleh ulama, jilbab yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kain yang biasa digunakan oleh perempuan muslim untuk menutup kepala, atau biasanya juga dikenal dengan “ Kerudung“.

Penggunaan jilbab oleh perempuan muslim ini dapat difungsikan sebagai penanda dari identitas seorang perempuan muslimah.

Namun, belakangan ini realitas di masyarakat sekitar selalu memberikan doktrinasi penggunaan “Jilbab“ sebagai parameter tingkat keshalehan seorang perempuan. Padahal tingkat keshalehan seseorang siapa yang tahu?

Realitas Jilbab di Masyarakat

Saya pernah berada di tengah-tengah euforia mengenai jilbab syar’i dan tidak syar’i yang selalu hangat didengungkan hingga sekarang. Istilah “ syar’i“ versi mereka adalah penggunaan jilbab dengan warna tidak mencolok, panjang, dan benar-benar longgar.

Kemudian muncul stigma bahwa yang berjilbab besar dan panjang dianggap memiliki tingkat keimanan yang lebih dibandingkan dengan mereka yang mengenakan jilbab lebih kecil. Sedangkan tingkatan keimanan seseorang siapa yang tahu?

Maka muncul pengusaha jilbab yang harus menandai beberapa produk jilbabnya dengan label syar’i dan tidak syar’i, heran juga.

Lalu, pernah suatu ketika membuka story whatssapp teman yaitu berupa gambar dengan tulisan seperti ini: “ Jilbab kami syar’i dibilang islam garis keras, lha situ tidak berjilbab islam bukan ?” Yaa Rabb, sampai seperti itu.

Baca Juga  Hari Kartini: Refleksi Pejuang Ekologis

Saya jadi teringat nenek moyang yang rajin Ibadah tetapi belum mengenakan jilbab secara istiqomah, kira-kira islam bukan ya? Lupakan, karena itu bukan pertanyaan penting. Panjang atau tidaknya penggunaan jilbab bukan parameter ukuran keshalehan perempuan.

Berbicara soal hijrah, artis-artis yang mulai menggunakan jilbab baru-baru ini disebut dengan artis hijrah. Mereka hadir dalam suatu seminar, talkshow, atau siaran infotainment yang memuat wajah mereka hingga terkesan jilbab adalah satu-satunya simbol hijrah.

Jika pemaknaan hijrah oleh masyarakat awam hanya sampai pada simbol keagamaan yang melekat pada diri perempuan dalam hal ini jilbab misalnya. Maka bagaimana dengan tataran ruh, akal sehat, dan qalb (hati nurani)?

Kemudian yang dekat dengan realita adalah penggunaan jilbab karena tuntutan suatu Instansi, saya ambil contoh di tempat saya kuliah yaitu di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mahasiswi yang tidak berjilbab saat duduk di bangku sekolah kemudian memutuskan untuk kuliah di tempat ini, secara otomatis harus mengikuti aturan Pendidikan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Universitas, salah satunya penggunaan jilbab untuk Mahasiswi yang beragama Islam. 

Trend mode, ya benar sekali. Sulit memang berada di tengah-tengah zaman yang sangat memperhatikan bagaimana model berpakaian para ukhtyfillah, salah satunya mode jilbab yang sudah sangat banyak kita temui di toko-toko.

Kemudian tidak dapat dipungkiri lagi fitrah dari seorang perempuan adalah senang berhias. Lalu membeli berbagai macam mode jilbab yang sedang trend era sekarang. Belum lagi jika ada perempuan Muslim yang awalnya tidak berjilbab, karena ingin mengikuti trend zaman sekarang kemudian memutuskan untuk berjilbab, tentu perubahan ini baik bukan? Hanya saja niatnya harus diluruskan, Lillahita’ala.

Penggunaan jilbab sebagai perangkat dalam bermain film. Jika teman-teman sering melihat sinetron Indonesia atau film Indonesia, coba perhatikan baik-baik figure perempuan yang menggunakan jilbab lebih menunjukkan perempuan yang berlawanan arah dengan nilai kemajuan.

Baca Juga  Tiga Hal yang Sulit Ditemui pada Anak Muda

Mereka yang mengenakan jilbab memainkan peran mereka yang shalehah tapi lemah dan tidak dapat mengambil keputusan. Benar seperti itu? Memang tidak semua, tapi kemudian masyarakat Indonesia terseret arus doktrin semacam itu.

Di berita televisi juga dapat kita lihat, politikus perempuan berstatus tersangka korupsi atau kasus lain yang menyeret namanya, tiba-tiba hadir di meja persidangan dengan menangis dan lengkap menggunakan kain yang ada di kepalanya.

Pada titik inilah, teks agama sebagai sumber utama dan rujukan shahih tentang perdebatan pemaknaan jilbab yang pada mulanya bersifat fungsional sebagai symbol harga diri dan pembebasan perempuan budak dalam ruang budaya Arab mulai bergeser sehingga memuat pula nilai-nilai politik, dan pada perkembangannya kepada hal yang lebih spesifik yaitu politik identitas.

Pernah melihat politikus yang tiba-tiba berjilbab? Terlepas dari apa motifnya, kemudiaan muncul komentar masyarakat mengenai politikus yang berjilbab, kira-kira seperti ini komentarnya “ Pilih ini saja, sholehah karena berjilbab“ Sampai seperti itu.

Sepertinya jilbab mulai menjelma menjadi bahasa komunikasi publik. Negara yang masih kuat dengan norma agamanya sering berfikir bahwa simbol-simbol agama yang dikenakan seseorang membuatnya menjadi lebih shalih.

Fenomena yang seperti ini juga terjadi dengan politikus laki-laki yang tiba-tiba menggunakan baju koko, peci di baliho kampanye yang lengkap dengan foto kunjungan ke pesantren.

Jilbab Bukan Ukuran Parameter Tingkat Keshalehan Perempuan

Beberapa realita diatas menunjukkan bahwa ukuran keshalehan perempuan tidak cukup jika hanya dilihat pada symbol agama yang menempel pada diri seorang perempuan muslim, ukuran parameter shaleh juga tidak mudah ditentukan, sebab masing-masing memiliki parameter shaleh sendiri.

Kemudian jika kita dapati perempuan  berjilbab dan melakukan kecacatan yang langsung menjadi perhatian adalah jilbab yang menempel pada diri seorang perempuan muslim. Seakan perempuan yang berjilbab tidak boleh luput dari kesalahan.

Baca Juga  Memahami Tauhid Sosial

Dalam pandangan subjektif, baiknya jilbab dipandang dalam bentuknya yang paling fungsional sebagai pakaian kesopanan misalnya. Sehingga kemudian orang-orang tidak kaget lagi pada berita lanjutan yang menyangkut perempuan berjilbab. Jika perempuan berjilbab menyumbang kiprah bagi kemajuan Negara, maka itu disebabkan mereka mampu mengambil peran dan bukan sebab dari jilbabnya.

Sebaliknya, jika seorang muslimah melakukan kesalahan, itu merupakan kecacatan dari karakter, dan bukan sebab jilbabnya.

Kita tidak dapat merubah realitas-realitas yang ada disekitar kita dengan cepat, yang patut kita rubah adalah bagaimana pola pikir kita, worldview kita.

Jika memang menurut perspektif banyak orang jilbab diartikan sebagai simbol keshalihah-an perempuan, harusnya dapat meningkatkan semangat perempuan berjilbab untuk memperbaiki diri, meningkatkan iman juga ilmu namun tetap dekat dengan nilai kemajuan.

Menjadi seorang muslimah yang produktif, progresif bukan malah dengan penggunaan jilbab tersebut membatasi diri untuk bergerak, seakan ruang geraknya menjadi sempit dan hanya fokus menjalin hubungan dengan Allah kemudian melupakan urusan bermuamalah dengan sesama manusia. Ingat, peran perempuan juga sangat dibutuhkan ya untuk masyarakat sekitar.

*Penulis adalah Kader Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Averroes Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bagikan
Post a Comment