f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
terapi puisi

Seni Memahami Diri Melalui Terapi Puisi

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra dan karya seni yang memiliki potensi untuk terapi tersendiri secara unik. Meskipun hal ini belum terkenal dalam masyarakat Indonesia, puisi sebenarnya sudah banyak manfaatnya. Salah satunya sebagai sarana penyembuhan oleh masyarakat dari berbagai negara.

Terapi Puisi

Meskipun puisi sudah lama bermanfaat sebagai sarana penyembuhan, namun terapi puisi ini adalah bentuk psikoterapi yang relatif baru. Terapi dengan menggunakan puisi sebagai media untuk berjalannya suatu diskusi terhadap isu-isu personal akan memudahkan jalannya penyembuhan dalam proses memahami diri. Istilah terapi puisi sering disebut sebagai biblioterapi; hal ini karena untuk mewadahi genre yang lebih luas dari media dalam permasalahan ini.

Biblioterapi memiliki jaringan aplikasi luas dengan semua rentang usia. Biblioterapi berguna sebagai alat perawatan dan penyembuhan kesehatan individu dalam berbagai macam kondisi dan penyakit. Misalnya terapi puisi dapat digunakan untuk veteran perang, pengguna narkoba, remaja, keluarga dengan masalah narapidana, orang-orang yang selamat dari bencana, atau kasus kekerasan dan pelecehan seksual.

Dari tradisi sastra atau asusmis yang mendasari pandangan terhadap terapi puisi adalah bentuk tidak mengatasi isi atau fungsi dari puisi itu sendiri. Emosi tinggi dan makna yang padat merupakan sentral dari seni berpuisi. Konsisten dengan tradisi romantik, bentuk sajak tidaklah suatu keharusan dalam menciptakan puisi.

Seorang sastrawan yang merujuk pada romantisme mengatakan bahwa; “Berpuisilah dengan baik, dalam bentuk sajak, prosa, atau bahkan di atas panggung sekali pun buktikan bahwa puisi merupakan medium kuat untuk melakukan respon terhadap modernitas. Puisi juga memiliki berbagai jenis indeterminitas, kekayaan, dan fleksibelitas yang mampu membuatnya berpijak, berekperimentasi dengan potensialitas dan respon mausia, mempertimbangkan masa lampau, asimilasi masa kini, dan memproyeksikan masa depan.”

Baca Juga  Corona, Kan Berlalu
Sejarah Terapi Puisi

Sejarah mengindikasikan bahwa penggunaan puisi tepat untuk kepentingann kesehatan mental. Biblioterapis mencatat bahwa Benjamin Rush asal Amerika Serikat yang merekomendasikan bacaan untuk orang yang sakit dan sakit mental. Kemudian, beliau juga menemukan dukungan untuk fungsi kuratif dari puisi dengan merujuk sastrawan Robert Graves yang mengatakan bahwa;“Antologi yang baik merupakan sebuah rumah obat yang lengkap bagi gangguan mental dan dapat digunakan untuk pencegahan maupun penyembuhan”.

Robert Hauven Schauffler penulis buku The Poetry Cure: A Pocket Medicine Chest of verse mengungkapkan dalam bukunya “puisi disediakan untuk mood dan gangguan tertentu”. Dalam bab (koleksi puisi) diberi judul “Sedatives for Impatience (Poem of Reassurance)”. Schauffler juga menyediakan bagian “Directions (Read Well Before Using)” ; beliau memperingatkan para pembaca bahwa puisi tidak mempengaruhi setiap orang dengan cara yang sama sehingga perlu menggunakannya secara berhati-hati. Bahasan menarik lain dalam bukunya adalah; “setiap puisi yang memiliki obat pada sayapnya biasanya memulai karier medisnya pada saat dianggap menyembuhkan penciptanya”.

Hal penting dalam buku karya Schauffler ini adalah pada poin yang membahas tentang nilai baik membaca dan menulis. Kemudian kepeloporannya dalam menunjukkan bahaya potensial dari penggunaan puisi secara sembarangan. Dia juga menjadi pelopor dalam menyediakan klasifikasi puisi menurut 14 keluhan umum dari pasien-pasiennya. Tahun 1931, beliau menerbitkan buku The Junior Poetry Cure: A First Aid Kit of Verse for The Young of All Ages.

Perspektif Terapi Puisi dan Sistem Psikoterapi

Bagian ini akan mengupas mengenai terapi puisi dalam perspektif dunia psikoterapi. Menurut Malchiodi mengungkapkan bahwa terapi puisi sebagai salah satu genre dari intervensi kreatif; seiring dengan terapi menggambar, terapi musik, terapi menari/gerak, terapi drama atau psikodrama, dan terapi bermain (play therapy) termasuk sandtray therapy. Setiap disiplin tersebut telah mempraktekkan dalam psikoterapi dan konseling selama lebih dari 50 tahun dengan individu beragam usia terutama anak-anak.

Baca Juga  Masih tentang Kamu

Mengutip National Coalition of Creative Art Therapies Association, Malchiodi juga mengungkapkan bahwa terapi menggambar, musik, drama, tari, dan puisi mengacu pada “creative art therapy” karena akarnya dalam seni dan teori kreativitas. Terapi-terapi tersebut dan terapi lain yang menggunakan ekspresi diri (self-expression) dalam treatment juga disebut terapi ekspresif (expressive therapies).

Definisi terapi ekspresif adalah sebagai penggunaan menggambar, musik, drama, tari/gerak, puisi/menulis kreatif, biblioterapi, bermain, dan bermain pasir (sandplay) dalam konteks psikoterapi, konseling, rehabilitasi, maupun pengobatan. Sebagai tambahan, terapi ekspresif seringkali disebut sebagai integratif manakala digunakan dalam kombinasi dengan treatment.

Selanjutnya beliau juga mengklarifikasi ungkapan beberapa praktisi yang menganggap terapi menggambar, tari/gerak, musik, atau drama sebagai terapi bermain (play therapy); bahwa terapi seni kreatif dan terapi ekspresif bukanlah sebagai bagian dari terapi bermain sebagaimana anggapan tadi dan memiliki sejarah panjang dalam kesehatan mental dengan pendekatan yang berbeda. Meski seni terkadang menjadi bentuk dari bermain, menguatkan anak untuk mengekspresikan diri melalui melukis, musik atau menari; memerlukan pemahaman atas media tersebut melampaui skup dari bermain. Secara singkat, terapi seni berbeda dari terapi bermain karena mengintegrasikan pengetahuan atas seni dengan prinsip-prinsip psikoterapi dan konseling.

Tujuan Terapi Puisi

Terapi puisi memiliki tujuan yang beragam tergantung dari seting penggunaan terapi tersebut, namun beberapa tujuan umum dari terapi puisi adalah; (1) untuk mengembangkan ketepatan dan pemahaman dalam mempersepsikan diri dan orang lain; (2) untuk mengembangkan kreativitas, ekspresi diri, dan harga diri (self-esteem) yang lebih tinggi; (3) untuk menguatkan keterampilan interpersonal dan keterampilan komunikasi; (4) menjadi ventilasi bagi emosi yang berlebih dan untuk melepas ketegangan; (5) untuk menemukan makna-makna baru melalui ide-ide baru, pengertian, dan informasi-informasi baru; (6) untuk menguatkan perubahan dan meningkatkan keterampilan koping dan fungsi adaptif.

Baca Juga  Setulus Cinta Bumi

Terkait dengan proses pada praktikkan, praktek terapi puisi biasanya menggunakan tiga komponen. (1) Komponen reseptif/preskriptif, termasuk pengenalan karya sastra dalam terapi; (2) Komponen ekspresif/kreatif termasuk penggunaan tulisan atau aktivitas menulis oleh klien; (3) Komponen simbolik/seremonial termasuk penggunaan metafora, ritual dan mendongeng.

“Puisi lebih baik dan lebih filosofis dari sejarah, karena puisi mencurahkan seluruh alam semesta, di mana sejarah hanya menceritakan sebagian.” -Aristotales

Bagikan
Post a Comment