Indahnya Dibina dan Membina
Manusia adalah makhluk yang butuh makanan, minuman dan interaksi sosial. Sebuah kodrat alami seorang manusia yang butuh energi untuk melanjutkan hidup. Hhal ini sejalan dengan iman yang ada dalam diri setiap hamba. Sama halnya dengan makan dan minum, iman juga butuh vitamin untuk membuatnya semakin kuat dan terjaga. Tapi untuk vitamin iman ini tidak butuh biaya yang berlimpah; cukup dengan menjaga diri dari melakukan hal yang tidak baik, mendengar nasihat atau duduk di majelis ilmu.
Berbicara tentang iman tidak terlepas dari sekitar yang juga menjadi support system dalam berbuat kebaikan. Duduk di majelis ilmu dengan kawan-kawan pilihan yang sama-sama ingin berbuat dalam kebaikan merupakan satu hal yang amat sangat menggembirakan dan menyenangkan. Bagaimana tidak, dalam suatu forum atau lingkaran itu kita mendapatkan asupan-asupan terbaik yang dapat menenangkan hati yang tadinya gelisah; kita menemukan arah untuk berjalan kembali yang mungkin tadinya sempat tersesat; kita menemukan rumah yang di dalamnya memberi kehangatan dan segala nasehat baik yang diberi oleh sang murabiah. “Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan”. Bahkan Nabi Saw. bersabda kepada Ibnu Mas’ud r.a.
“Wahai Ibnu Mas’ud dudukmu sesaat di dalam suatu majelis ilmu tanpa memegang pena, tanpa menulis satu huruf pun lebih baik bagimu dari pada memerdekakan seribu budak. “
Dari hadis tersebut menjelaskan bahwa betapa mulianya seorang murid seorang mutarabi, seorang yang dibina dalam suatu majelis ilmu. Seperti yang kita ketahui bahwa ilmu adalah investasi dunia dan akhirat; tanpa ilmu kita seperti berjalan dalam kegelapan atau bahkan dalam keadaan buta. Bahwasannya ilmu adalah suatu amalan yang akan terus mengalir manfaatnya sampai kapanpun, maka penting untuk kita yang sudah memiliki pengetahuan yang sudah memiliki ilmu untuk mengamalkan dan mengajarkannya pula.
***
Kita dibina untuk menjadi seorang pembina di masa depan, kita diajarkan bahwasannya agar nanti kita juga dapat menjadi pengajar untuk mereka yang masih belum memiliki pengetahuan akan sesuatu hal ini yang biasa disebut dengan keberkahan suatu ilmu. Ketika kita mendapatkannya lalu kita mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain; kemudian orang tersebut mengamalkannya dan mengajarkannya pula maka itulah sebuah pahala yang terus mengalir.
Jangan merasa belum mampu dan belum cukup baik untuk mengajarkan kebaikan ketika kita sudah memiliki ilmu hendaklah mengajarkannya kepada orang lain. Sebab jika bukan kita yang membina dan memulai maka siapa lagi? Jika harus menunggu kita terbilang sempurna; maka sampai kapan kita butuh waktu untuk menjadi sempurna hingga memutuskan untuk mengajarkan ilmu sedang manusia bukanlah tempat kesempurnaan.
Dalam Al-Qur’an surat An-nisa ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.“
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita perlu mengambil peran untuk mengajarkan suatu kebaikan kepada generasi setelah kita. Kita punya tanggung jawab untuk selalu menjaga sikap diri dan sekitar begitupun orang-orang setelah kita agar memiliki adab dan pengetahuan yang baik; harapannya adalah untuk menjaga bumi kehancuran sebab kebodohan dan kelalaian manusia yang menempatinya.
***
Dalam dibina dan membina kita tidak bisa semena-mena bahkan dalam membina juga memerlukan ilmu; bagaimana nanti apa yang kita ajarkan sampai pada hati-hati mereka yang kita bina; bukan sekedar untuk mereka catat tapi untuk mereka amalkan pula. Bagaimana kita mengajarkan dengan sabar, menuntun dengan ikhlas agar yang tadinya mungkin sedikit keras untuk berjalan ke arah yang benar nantinya dengan senang hati berlari menuju kebaikan. Maka dari itu kita membutuhkan ilmu tarbiah sebuah cara paling ideal untuk berinteraksi dengan fitrah manusia dengan menyentuh hatinya.
Kenapa tidak kita ajarkan dulu tentang aqidah dan menanamkannya kepada diri sebelum kita ajarkan apa yang menjadi halal dan haram, salah satu cara untuk menyentuh hati dengan menanamkan aqidah dalam diri setiap orang, apa yang menjadi kewajiban mereka, apa yang harus mereka kerjakan, semua butuh proses dalam kebaikan sama halnya. Ketika baru membina kita tidak bisa mengatakan semena-mena bahwa ini salah dan ini yang harus dilakukan, perlu kita dekati hatinya bagaimana reaksinya.
Bahkan Allah swt ketika hendak mengharamkan khamar bukan lantas langsung menurunkan ayat keharaman khamar. Bukankah semuanya berangsur-angsur dimulai dari penjelasan bahwa khamar memiliki keburukan dan beberapa manfaat tapi lebih banyak keburukan yang terdapat di dalamnya. Lalu larangan meminum khamar di waktu tertentu yang di mana membuat sebuah kaum berpikir untuk mengurangi waktu meminum khamar. Kemudian turunlah ayat larangan salat sambil mabuk dan hal tersebut membuat suatu kaum perlahan meninggalkan minuman keras tersebut.
Bisa kita lihat bahwa Allah Swt dalam memberi peringatan bukan lantas memberi secara spontan; tapi menggunakan tahap. Sebab Allah Swt mengerti bahwa sebuah kebiasaan buruk lantas tidak bisa diganti dengan cepat melainkan butuh proses. Semoga kita selalu menjadi proses itu, sebuah proses menuju kebaikan dan mengaja kepada kebaikan pula.
