f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sains

Tak Perlu Menjadi Ateis untuk Menjadi Saintis

Sumbangsih agama dan sains (ilmu pengetahuan) dalam struktur dan pola kehidupan manusia sangatlah banyak. Dua entitas inilah yang mendorong pada kemajuan manusia. Agama dengan doktrin dan ajaran budi luhur yang mendorong manusia berbuat baik, ber-tatakrama, berhubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Sedangkan sains mendorong manusia untuk mengetahui rahasia dan tabir alam semesta yang belakangan ini mempermudah manusia dalam segala lini kehidupan.  

Sayangnya benturan antara dua entitas ini sering kali terjadi dalam sejarah ummat manusia. Bahkan kerap kali banyak memakan korban jiwa. Misalnya, peristiwa lama yang tercatat dalam sejarah ummat manusia; seorang tokoh astronomi dan matematikawan Galileo Galilei harus dipenjara seumur hidup karena mempertahankan gagasannya tentang heliosentris –bahwa bumi berputar mengelilingi matahari–terhadap otoritas gereja. Kisah tragis juga dialami oleh Bashar Ibnu Burd yang dihukum mati karena dituduh menyebarkan ajaran sesat pada tahun 783 M ketika ke-Khalifahan Abbasyiah.

Fenomena Ateisme Baru

Belakangan ini muncul adanya fenomena New Atheisme atau Ateisme baru di ruang publik, terutama di Eropa. Para pelopor New Atheisme ini disebut sebagai The Four Horsemen, tokoh-tokohnya adalah; Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennett dan Cristopher Hitchens. Fenomena New Atheisme ini, nampaknya ingin memicu kembali ketegangan antara sains dan agama. Sebab argumentasi yang dikemukakan ke ruang publik sangat jelas, lantang menolak keberadaan agama. Bagi mereka agama adalah sumber masalah.

Dawkins misalnya mengatakan “saya menentang agama karena agama tidak mengajarkan kita cara memahami dunia, agama menjadi penghalang bagi kita untuk memahami bagaimana dunia bekerja secara saintifik,”koleganya Daniel Dennett juga serupa mengatakan “satu-satunya hal yang layak menjadi perhatian kita adalah sesuatu yang bisa kita uji, agama bukan sesuatu yang harus diperhatikan” (Lihat: New Atheisme, IbTimes, 2020).

Argumentasi arogan yang dikemukakan oleh para New Atheisme ini tentu bukan tanpa sebuah landasan. Dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda mereka dengan keras mengkritik eksistensi agama lewat karya-karya fenomenal seperti; Richard Dawkins ahli biologi evolusi lewat karyanya Outgrowing God. Bagi Dawkins dalam karyanya ini, meninggalkan agama adalah jalan menuju kepada kedewasaan –outgrowing (Bagir & Abdalla, 2020). Karya lainnya Sam Harris dengan  The End of Faith, Letter to Christian Nation, dan  Cristopher Hitchens dengan God Is Not Great (Darmawan, Alif.id, 2020).

Baca Juga  Keberadaan Sains, Bebas Nilai atau Terikat Nilai?
Sains, Agama Baru

Kemunculan fenomena ateisme baru ini tak terlepas dari tradisi sains yang melekat dalam kehidupan orang Eropa pada umumnya, khususnya para pengikut New Atheisme. Sains identik dengan penemuan-penemuan baru yang berlandaskan pada sebuah proses penelitian empiris. Kepercayaan mereka hanya pada ilmu pengetahuan. Bagi mereka ilmu pengetahuan telah cukup menjelaskan segala fenomena alam semesta. Bak agama baru dengan konsep baru. Bukan agama dalam pengertian terminologi para antropolog tentunya.

Pertanyaannya, dari mana asal keyakinan mereka ini ? Dalam tradisi filsafat Yunani paling tidak kita mengenal dua tradisi besar filsafat. Yang pertama adalah tradisi filsafat Yunani Aristotelian, yang kemudian diteruskan oleh para filusuf muslim kalsik abad pertengahan. Yang kedua, adalah tradisi filsafat Demokratian yang merupakan ajaran Demokritus.

Ada perbedaan yang signifikan dari kedua aliran ini. Aliran Aristotelian menganggap bahwa dibalik peristiwa alam semesta ini ada penggerak yang menggerakan semua peristiwa alam, dalam istilah mereka adalah al-muharik al-awwal atau Prima Causa, para filusuf muslim menyebutnya aliran Al-ilahiyun yaitu yang mempercayai Tuhan. Sedangkan aliran Demokritus ini yang tidak mempercayai Tuhan, mereka menganggap alam semesta terbentuk secara naturalistik, ilmu pengetahuan manusia cukup menjelaskan seluruh fenomena alam, secara singkat paling tidak gambarannya seperti itu (Bagir & Abdalla, 2020).

Ilmu Pengetahuan adalah Segalanya

Nah, yang belakangan inilah yang hampir mirip dengan keyakinannya para New Atheisme sekarang. Ilmu pengetahuan bagi mereka adalah segalanya. Semua kebenaran yang datang dari selain metode sains –pengujian secara empirisme– maka, bisa dipastikan salah menurut mereka. Oleh sebab itu belakangan tak hanya menolak konsep ketuhanan agama, mereka juga menolak filsafat sebagai sumber kebenaran.

Bagi mereka agama dan filsafat adalah produk imajinasi, anggapan ini biasanya merujuk pada ketidakmungkinan dilakukannya tiga kriteria pengujian kebenaran –logico, heypotetico, verifikasi. Padahal ada banyak penemuan-penemuan sains juga yang sebetulnya produk imajinasi manusia bahkan terilhami lewat mimpi.

Baca Juga  Siti Baroroh Baried, Pelopor Perdamaian Intelektual Perempuan

Misalnya, penemuan gelombang elektro magnetik oleh Michael Faraday, penemuan konsep tentang Chemical Neurotransmission dalam bidang Farmakologi oleh Otto Loewi, tabel  periodik oleh Dmitri Mendeleev (Tobing, Okezone.com, 2019). Dan yang tak kalah menarik adalah penemuan yang dilakukan oleh Srinivasa Ramanujan Matematikiawan asal India dengan ratusan gagasan matematika yang konon diilhami oleh dewa-dewi dalam agama Hindu. 

Mendialogkan Agama dan Sains

Menurut Ian G. Barbour setidaknya ada  4 pola yang menggambarkan hubungan antara agama dan sains; Konflik (bertentangan), Independen (berdiri sendiri), Dialog (komunikasi) dan Integrasi (menyatu dan bersinergi). Menggunakan yang pertama dan kedua tentu tidak akan mungkin, sebab yang akan terjadi adalah inferioritas kebenaran antara sains dan agama. Benturan inilah yang kerap kali banyak memakan korban jiwa pada era kegelapan. Oleh sebab itu, yang paling mungkin dilakukan adalah berdialog atau integrasi.

Barbour menjelaskan, 3 kunci utama dalam menggambarkan hubungan agama dan sains yang bercorak dialogis dan integratif; Semipermeable, Intersubjektive Testability dan Creative Imagination (Abdullah, 2020).

Yang pertama, Semipermeable artinya antara disiplin ilmu pengetahuan dengan ilmu-ilmu agama keduanya saling menembus, berkomunikasi, memberikan masukan antar disiplin ilmu. terjadinya benturan atau konflik antara penafsiran agama dan penafsiran ilmu pengetahuan karena keduanya tidak saling berdialogis, sehingga berimplikasi pada pola dan prilaku masyarakat.

Kedua, Intersubjektive Testability, ini semacam menguji kebenaran lewat proses penelitian-penelitian, hanya dengan upaya menguji kembali apa yang dulu dikatakan sebagai suatu yang objektif kita dapat menemukan hal-hal yang baru untuk kemaslahatan kehidupan manusia, sehingga kita tidak akan menemukan inferioritas kebenaran baik dalam tafsir agama dan tafsir ilmu pengetahuan.

Yang ketiga, Creative Imagination, ini bukan berarti khayalan yang diartikan orang pada umumnya seperti delusi atau halusinasi. Imajinasi Kreatif melibatkan kedalaman ilmu pengetahuan dan pengalaman, serta perenungan yang mendalam. Jadi, tidak asal berimajinasi perlu melibatkan unsur-unsur sebelumnya yang berhubungan. Seperti Newton yang menghubungkan  dua fakta jatuhnya buah apel dan gerak edar rotasi bulan, Darwin melihat adanya tekanan pertumbuhan penduduk dan daya tahan hidup species binatang dan penemuan-penemuan lainnya (Abdullah, 2020).

Baca Juga  Seni Komunikasi Suami Istri dalam Menciptakan Keluarga Sesurga
***

Jadi, sebetulnya upaya mendialogkan agama dan sains itu sangat mungkin jika antara kedua belah pihak memiliki keterbukaan (inklusifitas) dalam memandang berbagai permasalahan. Yang dikemukakan oleh para New Atheisme adalah kepongahan intelektual, memandang kebenaran dengan kaca mata kuda, sehingga kadang kala argumentasinya merendahkan bahkan menafikan kebenaran lainnya.

Saya tidak memungkiri bahwa mereka yang disebut New Atheisme ini adalah orang dengan kecerdasan  begitu hebat. Tingkat intelektualnya di atas rata-rata orang pada umumnya. Toh, orang zaman jahaliyah sebelum datangnya nabi juga bukan orang-orang bodoh dalam kapasitas intelektualnya, begitu banyak para penyair Arab yang mashur kerena tulisan-tulisannya, bahkan syair-syairnya melampaui zaman pada masanya. Jadi tak perlu terlalu takjub dengan argumentasi mereka apalagi sampai putus asa dan meninggalkan agama.

Sampai sini saya berkesimpulan, untuk menjadi seorang saintis, untuk apa menjadi seorang yang tak mengenal Tuhan (Atheis). Jika ada pilihan untuk mendialogkan agama dan sains ? Ketidakmungkinan itu terjadi karena kita tidak mau berbuat apa-apa, arogan, pongah dan cenderung memandang rendah kebenaran lainnya.

Bagikan
Post a Comment