Pola Pengasuhan Lama di Zaman Now?
Dalam buku modul pelatihan “Teman Anak; Internet Aman Untuk Anak” keluaran dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI tahun 2019, dijelaskan tentang pola pengasuhan lama yang menjadi sebab anak lebih memilih gadgednya daripada bersama orang tuanya.
Yang dimaksud pola pengasuhan di dalam buku tersebut adalah masih banyak orang tua yang mengasuh dengan “warisan turun temurun orang tuanya terdahulu”. Mereka mengasuh dengan cara bagaimana mereka dibesarkan oleh orang tuanya. Pola tidak berubah, baik atau buruk mereka hanya mengetahui “pola” tertentu yang dilakukan orang tuanya.
Padahal, Rasulullah Saw pernah bersabda: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.
Sebagai contoh, kita ambil sebuah kasus di mana seorang orang tua dulu dibesarkan dengan kata; “jangan pernah main keluar, hati hati nanti ada penculik, di rumah aja mending!”. Nah seringkali di era internet ini, masih banyak orang tua yang berpikiran: “biarin aja anak main gadged biar anteng diam di rumah, di banding keluyuran kemana-mana”.
Tidakkah ayah bunda tidak tau? Ketika anak di depan gadged dan menggunakan internet, dia bisa kemana saja yang dia mau, dia bisa berpotensi terpapar resiko berinternet.
Zaman sekarang sudah berbeda, kita tidak lagi bisa menggunakan pola pengasuhan lama, sebab perilaku dan tantangannya pun sudah berbeda.
Ini Pola Pengasuhan Lain Perlu Dihindari!
Selain pola pengasuhan lama di atas, ada juga pola pengasuhan anak lainnya yang perlu diperhatikan. Pola pengasuhan lainnya yang perlu diperhatikan menurut Kemen PPPA adalah bagaimana selama ini orang tua berkomunikasi kepada anak.
Seringkali gaya komunikasi yang masih digunakan membuat anak jengkel, jangankan anak, saya sendiri atau mungkin rahmania juga nggak suka dengan gaya komunikasi ini. Gaya komunikasi yang dimaksud sebagai berikut:
Membandingkan: “kok adik ga bisa kayak kakak sih, kakak bisa rangking 1 dan juga jago olahraga, berprestasi di sekolah. Kamu dapat nilai matematika 100 aja susah!”. Oh ayah dan bunda, atau siapapun yang mengasuh anak, sesungguhnya kita sebenarnya tau, bakat orang berbeda beda. Sama halnya dengan anak, mereka berbeda satu sama lain.
Menyalahkan: “kan ayah bilang apa, main game itu bikin kamu lupa waktu”. Anak memang bisa salah, bukan anak saja, sebuah pepatah bilang, manusia itu memang tempatnya salah. Yuk ajari dengan hati hati, biar masuk ke hati anak. Salah itu biasa bukan? Tapi menyalahkan bukan solusi untuk kebaikan.
Meremehkan: “masak kakak gitu aja ga bisa, kan udah bunda ajarin beberapa kali”. Yuk hargai apapun usaha anak, mungkin mereka perlu berproses lagi dan lagi. Berikan apresiasi kepada pencapaian anak walaupun itu sedikit sekali.
Mengancam: “kamu sekarang gak mau sekolah, bunda ambil handphonenya!”. Seperti layaknya kita di ancam preman, pilihannya melawan, kabur atau menyerah. Kalo anak jaman now bilang sama temennya “ga asik banget si lo”.
Pola-pola komunikasi tersebut, sering kali membuat anak tidak nyaman sehingga anak lebih suka tertutup di banding bercerita kepada orang tua.
Dalam hal resiko bahaya internet, anak bisa saja mencari pihak lain dari dunia internet misalkan media sosial untuk membicarakan ketidaknyamanan kepada orang asing. Di sisi lain, pihak tersebut belum tentu bisa memberikan solusi yang tepat atau bisa menjaga rahasia.
Mengenal B.L.A.S.T sebagai Efek Pengasuhan Lama
Blast adalah kondisi psikologi anak yang bosan, kesepian, marah, stress, kelelahan, dan rentan terkena dampak negatif internet yang diakibatkan karena lemahnya sistem sosial yang paling utama yaitu keluarga. Apa itu B.L.A.S.T?
Bored, perasaaan bosan dengan rutinitas sehari-hari dan rutinitas sekolah juga tidak adanya support system dalam menyalurkan hobinya ke kegiatan yang lebih positif menjadikan anak lebih mudah beralih ke internet. Bermain internet adalah satu satunya kegiatan yang menjadikan anak senang.
Lonely, perasaan kesepian karena anak tidak dekat dengan orang tuanya secara kuantitas dan kualitas.
Angry afraid, perasaan marah karena situasi, berakar dari ketidak puasan serta takut cerita kepada orang tua.
Strees, perasaan tertekan karena situasi yang dihadapi.
Tired, kelelahan karena akumulasi masalah.
Dari B.LA.S.T itulah pengasuhan lama perlu diganti dengan pengasuhan yang lebih menyenangkan. Dengan mencoba menjadi teman dan menjalin hubungan yang lebih baik lagi dalam keluarga, bisa menjadi pilihan. Psikologi anak tentu perlu diperhatikan. Orang tua jangan egois, mari saling mendengar.
Maka perlu diketahui Rahmania semua, orang tua harusnya mengajari anak dengan kreatif, sebab tantangan zaman dulu dan zaman sekarang itu berbeda. Ayah bunda harus mampu membaca suasana dan kondisi zaman untuk pola pengasuhan yang lebih menyenangkan.

Aktif di LAPSI PP IPM, Ketua Umum PK IMM Ushuluddin Ciputat
