Anti Kalah: Metode Penyelesaian Konflik Pada Anak
Dewasa ini, orang tua merasa kewalahan meladenidengan tingkah laku sang anak, ditambah lagi perkembangan zaman dan teknologi yang ikut masif. Keadaan ini menuntut orang tua menerapkan kesepakatan-kesepakatan baru dalam rumah tangga, tentunya tetap melibatkan sang anak. Dalam merumuskan kesepakatan-kesepakan ini, orang tua setidaknya mempunyai tiga perbedaan gaya kepemimpinan, yakni orang tua yang menang, yang kalah dan yang menang- kalah .
Tipe pertama, orang tua pada kelompok ini lebih cenderung gigih mempertahankan dan membenarkan argumennya untuk menggunakan otoritas ataupun kekuasaan atas anak. Mereka masih melanggengkan ancaman, memberikan batasan, dan melaksanakan hukuman apabila sang anak tidak mendengar apa kata orang tuanya. Umumnya para orang tua merasionalisasikan “kemenangan” mereka dengan paradigma stereotip seperti “semua demi kebaikan si anak, orang tualah yang paling mengetahui mana yang benar dan mana yang salah”.
Tipe Orang Tua
Kelompok orang tua yang kedua biasanya lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok orang tua otoriter. Mereka lebih cenderung memberikan keleluasaan kepada anak-anak mereka. Apabila terjadi konflik dan memungkinkan untuk terjadinya pengambilan keputusan berkaitan dengan kebutuhan anak, orang tua lebih baik mengalah dan anak-anaklah yang menang. Orang tua pada tipe ini percaya bahwa sang anak mampu bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Orang tua juga yakin bahwa menghambat kebutuhan anak akan berakhir kurang baik.
Kelompok terakhir adalah orang tua yang “ragu-ragu”. Mungkin para orang tua jenis ini adalah orang tua yang paling bingung dan ragu dalam menentukan sebuah keputusan bersama anaknya antara menang ataupun kalah. Sebenanrnya, pada kelompok ini justru sang anaklah yang paling banyak mengalami gangguan karena ketidakpastian dari orang tuanya.
Pemikiran Thomas Gordon
Sejalan dengan berbagai metode yang orang tua terapkan, terjadi reaksi ketimpangan dari sang anak. Banyak asumsi dari mereka yang menganggap bahwa orang tua tidak sejalan dengan pikiran dan perkembangan seusianya. Sehingga mereka enggan bercerita atau berdiskusi bersama orang tua untuk menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Dalam peristiwa seperti ini, siapa yang sebernarnya harus belajar dan berlatih? Disamping sang anak yang harus memahami keadaan orang tuanya, sebagai orang tua juga harus banyak berlatih untuk menjadi orang tua yang lebih efektif.
Dilansir dari bukunya Dr. Thomas Gordon yang berjudul “Parent Effectiveness Training (Menjadi Orang tua Efektif/ MOE)”. Thomas Gordon adalah seorang expert dalam Psikologi Klinis dari Amerika Serikat. Banyak penelitian yang dilakukannya, khususnya mengenai pendidikan orang dewasa. Pengetahuan ini sangat penting bagi orang tua di Indonesia, mengingat belum banyak buku tentang pendidikan orang dewasa yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
Gordon menuturkan bahwa konsep MOE merupakan metode yang dapat membantu agar nasihat orang tua lebih di dengar. Selain itu, mencegah permusuhan dalam rumah, dan lebih mendekatkan orang tua dengan anak-anak bukan sebagai dua kelompok yang saling bertentagan. Ditambah lagi, metode ini mendorong untuk terjalinnya kolaborasi antara aspek kecerdasan emosional dan sosial pada orang tua dan anak. Sebenarnya, kecerdasan semacam ini yang lebih menentukan mengantarkan kepada kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan IQ.
Menyalahkan Orang Tua ?
Dalam mendidik tentunya harus didasarkan pada metode-metode yang total dan komperhensif. Metode itu dapat membuat sang anak tidak mengeluhkan karena mendapat feedback yang berlawanan dari orang tuanya. Pada akhirnya sang anak berubah menjadi lebih menutup diri dan enggan untuk bercerita kepada orang tua karena ia merasa orang tua mereka yang tidak bisa memahami apa yang diinginkannya.
Keadaan inilah yang akan melahirkan pandangan bahwa orang tua selalu salah, ditambah lagi sang anak yang enggan untuk mengalah. Dan akhirnya munculah celotehan sang anak yang tidak lagi mendengarkan orang tua meraka dengan alasan:
“Ibu saya sudah tidak bisa lagi memahami keinginan anak seusia saya.”
“Saya benci ketika pulang sekolah agak telat, dan selalu diceramahi berlebihan.”
“Saya tidak pernah menceritakan apapun kepada orang tua saya, apabila hal itu saya lakukan, mereka tidak akan memahaminya.”
“Saya ingin ayah tidak memberikan beban berlebihan kepada saya.”
“Jika saya bisa pergi dari rumah, saya akan meninggalkan rumah karena tidak tahan dimarahi terus-menerus oleh orang tua saya.
Keluhan Anak
Banyak yang dikeluhkan oleh anak-anak karena timbal balik dan metode kememimpinan orang tua. Spekulasi yang bermunculan seputar teratment yang orang tua berikan kepada anak yang dianggap kurang mengetahui kebutuhan dan perasaan sang anak. Orang tua dengan keadaan anak seperti ini biasanya sadar bahwa mereka sedang tidak didengarkan lagi, dan menyampaikan beberapa pernyataan di bawah ini:
“Saya sama sekali tidak mempunyai pengaruh lagi terhadap putra saya yang berumur 17 tahun.”
“Kami telah putus asa dengan perilaku Sinta.”
“Tomi tidak pernah pulang kerumah. Ia tidak pernah memberitahu kemana ia pergi atau apa yang dilakukannya. Apabila saya bertanya, ia menjawab bahwa itu bukan menjadi urusan saya.”
“Boby tidak pernah mau makan bersama kami lagi, dan dia hampir tidak pernah bicara dengan kami. Akhir-akhir ini dia lebih memilih mengurung diri di kamarnya.”
Keadaan ini menyebebkan orang tua berfikir untuk menyerah dan pada akhirnya acuh terhadap perilaku sang anak. Sebagai solusi, pada titik ini orang tua harus memhami konsep penerimaan terhadap tingkah laku anak. Harus selalu disadari bahwa dari waktu ke waktu orang tua mempunyai dua macam perasaan berbeda terhadap anak, yakni menerima atau tidak menerima tingkah lakunya. Sehingga pada kondisi ini, keduanya mempunyai peran dalam menyelesaikan masalah.
Metode “Anti Kalah”
Metode ini sangat bereda dengan tiga metode yang telah dijabarkan sebelumnya. Tidak ada cara untuk menjadi orang tua efektif, tetapi metode “anti kalah” ini menuntut suatu perubahan sikap mendasar dari para orang tua terhadap anak-anaknya. Cara ini tidak bisa langsung diarasakan efeknya, diperlukan waktu untuk dapat menerapkannya di rumah. Dalam hal ini, sikap orang tua yang harus dilatih terlebih dahulu untuk mempelajari keterampilan-keterampilan. Hal itu agar orang tua dapat mendengarkan tanpa memberi penilaian dan membuka komunikasi yang jujur tentang perasaan-perasaan anak-anaknya.
Langkah awal dalam menjalankan metode ini adalah berikan ruang bagi sang anak untuk mengemukakan permasalahan yang mengganggu mereka. Sisi positif bagi anak adalah mereka merasa lebih senang karena cara baru itu menimbulkan keuntungan pada mereka. Setelah menyampaikan apa yang dikeluhkannya, mereka akan lebih menerima keluhan-keluhan orang tua tentang tingkah laku mereka.
Pada akhirnya, keduanya saling mendengarkan, saling menerima, dan berdiskusi untuk menemukan jalan penyelesaian masalah yang ada. Orang tua menawarkan untuk menyelesaikan masalah sang anak oleh dirinya sendiri, atau opsi pilihan yang lain adalah orang tua ikut terlibat langsung dalam proses penyelesaian masalah yang dialami anaknya.
Contoh Masalah
Sebagai contoh ada dua bersaudara, kakak dan adik saling memperebutkan mainan. Salah satu dari mereka menarik mainan di bagian depan dan satunya menarik bagian belakangnya. Keduanya menjerit dan berteriak, salah satu bahkan sampai menangis. Apabila orang tua tidak ikurt campur konflik ini, anak-anak mungkin akan menemukan pemecahannya sendiri, keputusan ini sangat baik sekali. Mereka mendapat kesempatan untuk memecahkan masalahnya sendiri.
Begitupun sebaliknya, ketika sang anak enggan menemukan titik temu, orang tua hadir membantu kedua anaknya dan bertindak sebagai “pembuka jalan”. Pada konflik tertentu mungkin menghendaki peran aktif orang tua. Kedaan seperti ini orang tua dapat mendorong memecahkan permasalahan dengan cara mendengar aktif dan menjadi mediator (transmission belt), dan bukan sebagai wasit.
Lakukan beberapa perjanjian dengan keduanya. Jika yang satu anak memberikan usulan solusi, maka konsekuensi apa yang akan di dapat oleh anak lainnya, begitupun sebaliknya. Secara sederhananya adalah “Aku mengusulkan solusi ini dan konsekuensi yang akan saya dapatkan seperti ini, lalu bagaimana denganmu, apa yang akan kamu tawarkan dan perbuat.”
Jurus Jitu Penyelesaian Konflik
Kebanyakan orang tua menganggap metode ini mampu menyelesaikan konflik antar anak. Cara ini efektif karena hampir semua orang tua mempunyai kemampuan buruk dalam rangka menyelesaikan suatu konflik. Beberapa anak mendapat perlakukan tidak adil karena keputusan yang diberikan oleh orang tua. Pada akhirnya sang anak tidak dapat merasakan apa yang ia inginkan karena peranan yang lebih dominan dari orang tuanya. Melalui implementasi pendeketan ini, orang tua mampu membebankan tanggung jawab kepada anaknya dalam rangka penyelesaian konflik yang dialami.
Hasil yang dapat dirasakan adalah lambat laun anak-anak akan berhenti bertegkar dan mampu menemukan solusi atas masalah yang ada. Mereka menyadari bahwasanya, melibatkan orang tua dalam penyelesaian masalah pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri selaku pemegang kebijakan dalam memutuskan jalan keluar, karena orang tua sifatnya sebagai perantara saja. Akibatnya, mereka meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dan beralih untuk memulai menyelesaikan konflik-konflik mereka dengan metode “antikalah” tanpa bergantung kepada orang lain.
Pendidik di Madrasah Mualimat Yogyakarta, Anggota Nasyiatul Aisyiyah Yogyakarta, Agggota di LSO LSMernissi Bidang Immawati DPD IMM DIY
