f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
domestik anak

Membiasakan Anak Melakukan Pekerjaan Domestik, Mendidik Mandiri atau Eksploitasi?

Tak ada rumusan baku dalam mendidik dan membesarkan anak; karena ukuran sukses atau tidaknya proses pembentukan manusia baru itu pun tidak ada standard bakunya. Ada orang tua yang merasa sukses dalam membesarkan anak ketika sang anak yang digadang-gadangnya sejak kecil, tumbuh dewasa dengan karier yang mapan atau menjadi pengusaha sukses.

Namun ada juga orang tua yang merasa puas hanya dengan melihat kehidupan anaknya yang damai dan harmonis, berkarakter baik meskipun serba kekurangan dalam hal sarana pemenuhan kebutuhan jasmani. Standar sukses atau tidaknya kehidupan manusia memang tak pernah sama, tergantung ekosistem di mana manusia itu berada.

Memiliki gaji UMR mungkin menyedihkan di mata konglomerat yang tak pernah melarat. Namun di tengah masyarakat dengan pekerjaan serabutan, gaji UMR ibarat surga dunia karena memiliki penghasilan tetap, berapapun nilainya; menjadi pertanda kemapanan dan stabilitas hidup, berbeda dengan pekerja harian yang penghasilannya tidak menentu itu.

Karena tak ada rumusan baku dalam membesarkan anak, banyak orangtua yang kemudian menjadi gamang mengenai bagaimana mereka memperlakukan anak-anaknya. Apakah melatih anak melakukan pekerjaan rumah tangga sejak kecil merupakan bentuk eksploitasi atau justru mendidik anak hidup mandiri?

Seorang kenalan saya, sebut saja Mawar, ternyata diam-diam menyimpan dendam dalam hatinya karena orang tuanya dulu memaksanya melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga sejak ia kecil. Ia kini melampiaskan dendamnya dengan membebaskan anak-anaknya dari berbagai jenis pekerjaan domestik.

Alhasil hingga remaja anak-anak itu tak pernah tahu cara menyapu dan mengepel lantai dengan baik, mencuci dan menyeterika baju dengan rapi atau memasak hidangan yang enak. Mawar melakukan semua pekerjaan itu sendiri; sehingga ia selalu merasa letih setiap hari dan karenanya menjadi sering marah tanpa alasan.

Baca Juga  Pandemi Masih Berlangsung, Apa Kabar Kesejahteraan Anak?

Sementara kenalan saya yang lain, sebut saja Melati; justru mensyukuri kondisi orang tuanya yang serba kekurangan semasa ia kecil sehingga ia mendapat kesempatan melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga sejak dini. Ia tak pernah merasa terbebani sebanyak apapun pekerjaan domestik yang harus ia lakukan untuk membuat rumahnya menjadi hunian yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga.

Karena itulah setelah menikah dan memiliki anak, Melati juga mengajarkan anak-anaknya untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Sehingga di penghujung hari ia tak menjadi terlalu letih untuk bercengkerama dengan keluarganya meskipun tidak memiliki pembantu rumah tangga. Anak-anaknya pun terampil dalam berbagai pekerjaan domestik.

Apakah yang Melati lakukan itu adalah bentuk eksploitasi terhadap anak? Menurut saya tidak, selama jenis pekerjaan yang ia berikan kepada anak-anaknya sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan masing-masing anak. Anak justru dilatih mandiri sebagai bekal kehidupannya di masa depan.

Belum lama berselang, sebelum pandemi; anak sulung Melati mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar di luar negeri sehingga harus hidup sendiri di lingkungan yang asing. Namun karena sudah terbiasa melakukan pekerjaan domestik sejak kecil; dia tak gamang hidup sendirian dalam waktu yang cukup lama karena tak bisa pulang ke tanah air gara-gara pandemi.

Dengan membebaskan anak-anaknya dari berbagai pekerjaan domestik dan memanjakan anak, apakah Mawar sedang memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Menurut saya juga tidak, karena anak-anak yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan domestik pasti akan kesulitan bila berhadapan dengan situasi di mana mereka harus mengerjakan semuanya sendiri.

Sejak Mawar meninggal karena kanker payudara dan suaminya pindah ke rumah istri baru karena menikah lagi; anak-anak Mawar yang sudah beranjak remaja bagai anak ayam kehilangan induk. Mereka tak berdaya ketika berhadapan dengan tumpukan pakaian kotor, lantai rumah yang berdebu dan bahan makanan mentah yang perlu mereka masak; sehingga rumah mereka selalu kotor, pakaian tak pernah rapi dan hampir setiap hari terpaksa makan di warteg karena tak bisa memasak.

Baca Juga  New Normal di Tempat Bermain

Mawar dan Melati sebenarnya masih berkerabat; namun perbedaan sudut pandang menyisakan jurang yang sangat lebar dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Kasihan anak-anak Mawar yang terbiasa hidup nyaman dan dimanja orang tua sejak kecil menjadi gagap menghadapi kenyataan hidup. Meskipun bukan sepenuhnya salah mereka hingga tumbuh menjadi pribadi yang tak terbiasa hidup mandiri.

Jadi, Rahmania memilih yang mana? Mau mendidik anak dengan cara seperti yang dilakukan Mawar atau seperti Melati?

Bagikan
Post a Comment