f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
merawat fitrah

Merawat Fitrah Iman di Usia Dini

Setiap anak lahir dalam keadaan telah membawa potensi fitrah keimanan. Setiap kita pernah bersaksi bahwa Allah Swt sebagai Rabb kita. Sejatinya tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan dan kebenaran, kecuali karena telah mengalami penyimpangan, kerusakan di sepanjang kehidupannya.

Di dalam Al Qur’an Surat Al a’raf ayat 172, Allah Swt telah mengabarkan pristiwa persaksian ruhaniyah kita sebagai fitrah insani tentang adanya Tuhan.

“Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas nafs mereka: ‘Bukankah Aku Tuhan kamu?, mereka berkata: ‘ Betul! Kami menyaksikan.’ Hal ini agar kamu tidak dapat berkata di hari kiamat:’ Sungguh kami lalai dari perjanjian ini.’

Ini menunjukkan bahwa  ruh manusia sudah bersaksi, Allah Swt adalah Rabbnya dan siap untuk patuh atas segala apapun yang ditetapkan Rabbnya. Inilah fitrah yang sudah ditanamkan  oleh Allah SWT sebagai bekal manusia saat menjalani kehidupan di dunia untuk menerima keimanan akan ketuhanan.

Apa Saja Fitrah Keimanan itu?

Merawat fitrah keimanan meliputi fitrah beragama, fitrah bertuhan, fitrah kesucian, fitrah ‘malu’ dan ‘harga diri’, fitrah moral dan spriritual, fitrah berbuat baik, dan lain sebagainya yang terkait dengan akhlakul karimah seorang manusia.

Lalu pertanyaannya, mengapa selama menjalani fase-fase kehidupan. Ada yang hidupnya seolah tidak mengenal Tuhan? Ada yang menyimpang dari ajaran yang sudah ditetapkan oleh Tuhannya? Padahal mereka mengaku bahwa mereka beragama Islam semenjak lahir.

Apalagi kalau kita saksikan pergaulan hari ini, muda-mudi, remaja-remaja islam yang masih banyak menganggap pacaran adalah hal biasa. Merokok adalah lambang pergaulan. Bahkan banyak yang terjerumus ke dalam seks bebas.

Di kalangan politisi misalnya, hari ini, kita sama-sama menyaksikan. Ada yang mengaku Islam tetapi terjerat kasus korupsi. Apakah mereka itu tidak mengetahui bahwa agama telah melarang hal seperti ini? Sungguh mereka mengetahui, tetapi telah gagal menjadikan agama sebagai komitmen dalam kehidupan. Dan hal ini disebabkan karena fitrah keimanannya tidak tumbuh atau tidak terawat atau bahkan rapuh seiring fase usia kehidupan manusia.

Merawat Fitrah Keimanan di Sepanjang Usia

Memang, merawat fitrah keimanan sejatinya harus dilakukan di sepanjang usia manusia, di setiap fase usianya. Dimulai dari fase dalam kandungan, fase usia dini (anak-anak), fase remaja (aqil baligh), sampai fase dewasa. Kegagalan di fase awal akan berpengaruh besar terhadap kegagalan di fase selanjutnya.

Usia emas bagi fitrah keimanan adalah pada saat usia 0 – 7 tahun. Karena secara fitrah, perkembangan anak pada saat usia 0 – 7 tahun berada pada masa di mana imajinasi dan abstraksi berada pada puncaknya. Alam bawah sadar masih terbuka lebar. Sehingga imaji-imaji tentang Allah Swt, tentang Rasulullah, tentang kebajikan, tentang ciptaan-Nya.

Namun, tentu saja dalam penyampaiannya, bukan dilakukan dengan doktrin-doktrin ataupun formalitas kognitif. Melainkan melaui imaji-imaji positif yang indah. Hal ini dikarenakan yang paling berkembang di usia dini adalah pusat perasaan. Maka harus dibangun dengan cara menciptakan perasaan bahagia bukan dengan pembebanan.

Lalu, Bagaimana Cara Merawat Iman Sejak Usia Dini?

Pertama, pesonakan si kecil pada kisah-kisah inspiratif

Orang tua atau pendidik bisa melakukannya dengan membacakan kisah-kisah inspiratif tentang gairah kemuliaan budi pekerti; cinta keluarga dan lingkungan; semangat saling menolong dan persaudaraan antar manusia; semangat kepahlawanan; tentang indahnya akhlak Rosulullah dan para sahabat; indahnya surga dan kisah-kisah penuh kebaikan lainnya, baik melalui buku, atau internet

Hindari membacakan kisah yang mengandung kekejaman dan kengerian di fase usia ini, misalnya cerita tentang peperangan, dajjal, neraka, orang – orang jahat dan sebagainya.

Kedua, pesonakan si kecil pada ketauladanan Ayah Bunda

Selain itu juga, dalam mengajarkan nilai-nilai agama, orang tua haruslah memberikan ketauladanan. Kenalkan nilai- nilai agama dengan cara yang rileks, santai, santun dan membahagiakan pada si usia dini. Ajak dan perlihatkan penerapan nilai-nilai akhlak islami dengan senyuman dan keramahan pada si usia dini.

Misalnya saat mengenalkan kewajiban salat. Orang tua memperlihatkan  wajah berseri saat mendengar azan berkumandang lalu mengajak si kecil dengan penuh bujukan dan kasih sayang. Beri pelukan dan ciuman saat mengajak si usia dini untuk mau ikut salat. Hal itu akan meninggalkan jejak dalam memori otaknya bahwa salat itu membahagiakan dan penuh kasih.

Membuat anak mau mengikuti salat, tidak perlu dipaksakan untuk tertib gerakan ataupun bacaan, tetapi tumbuhkan saja dulu semangatnya untuk cinta kepada Allah melalui salatnya. Perlihatkan pula bagiamana ramahnya ayah bunda saat memberi sodaqoh kepada dhuafa. Dan bagaimana suka citanya ayah bunda menyambut bulan ramadan dengan segala aktivitas ibadahnya. Kemudian kenalkan Allah di setiap momen. Kaitkan setiap peristiwa yang terjadi sehari-hari kepada sifat Rabb Allah sebagai pencipta, pemberi rizki, pengabul do’a, pelindung dan perawat, atau sifat-sifat lainnya.

Pada prinsipnya, Jangan ada pemaksaan, jangan ada hardikan atau kemarahan yang muncul dari ayah bunda saat mengenalkan nilai Islam pada rentang usia ini. Penuhkan jiwa si usia dini dengan pengalaman-pengalaman penerapan nilai Islam dengan gembira. Pengalaman yang di dapatnya dari tauladan ayah bundanya.

Bagikan
Post a Comment