Sebuah Lagu Rohani yang Meningkatkan Iman dan Takwa
Seorang alumni mahasiwa akidah filsafat di salah satu kampus negeri di Surabaya bercerita tentang pengalaman spiritualnya dalam meningkatkan keimanan, keislaman, dan ketakwaannya melalui sebuah lagu rohani. Terdengar konyol, tapi ini nyata adanya.
Di saat umat muslim berlomba-lomba meningkatkan keislaman dan ketakwaannya dengan cara membaca Al Qur’an, bersedekah, hingga menyantuni anak yatim saat bulan Ramadan. Andre (24) justru sebaliknya, ia dapat merasakan Tuhan benar-benar teramat dekat dengannya serta seolah-olah membimbingnya ke jalan-Nya bukan dengan kegiatan spiritual Islami di atas. Namun kedekatan antara dirinya dan Tuhannya itu melalui medium terlebih dahulu, dan medium itu bernama lagu rohani.
***
Seorang lelaki yang telah lulus dari bangku kuliah yang namanya saya samarkan ini sudah dua minggu menemukan “titik terang”. Ia mengaku bahwa keimanan dan ketakwaan kepada Tuhannya dapat meningkat drastis seiring dengan seringnya ia mendengar salah satu lagu rohani. Dari sana, Andre dapat melaksanakan salat dengan sangat rajin, ia pun mengaku menjadi rajin membaca Al Qur’an yang ia lakukan setiap usai tarawih; usai salat shubuh; di waktu duha. Sebuah laku hidup yang sama sekali belum pernah ia lakukan.
Bagi mayoritas orang, tatkala mengetahui akan hal ini, mungkin tak mengira dan menganggapnya sebagai mahasiswa yang akidahnya memang baik. Namun memang cara berfikir dan berfilsafatnya benar-benar rancu dan nggak masuk akal. Maka tak heran ada sebagian kaum yang mengatakan bahwa filsafat itu haram jadah untuk dipelajari.
Ia lantas memutarkan lagu itu kepada saya dengan ponsel miliknya. “Pake earphone biar merasuk ke dalam sanubarimu, juga biar bass dan komponen musiknya kedengaran jelas,” Katanya. Maka dengan mengucapkan “bismillah” dalam hati, saya pun mencoba untuk mendengarkan lagu rohani itu. Benar-benar kali pertama mendengarkan lagu rohani. Sebenarnya saya agak ragu dan takut kalau-kalau saya tertular dengan kebiasaan barunya itu.
***
Saat musik sudah mengalun, mula-mula terdengar suara orang-orang berteriak dan gemuruh tepuk tangan pertanda sambutan akan dinyanyikannya lagu ini. Kemudian suara seorang perempuan yang mulai masuk kedalam intro lagu sembari diiringi violin dan keyboard, seluruh penonton terdengar mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan.
Lagu berjudul Oceans yang dipopulerkan oleh Hillsong United ini awalnya benar-benar mengalun syahdu, semakin ke tengah perlahan mulai menunjukkan tempo yang taktis. Harmoni antara bass, drum, keyboard, serta suara penonton yang juga menyanyikan lagu itu terasa cukup mewah, saling mengisi, dan tentu saja sound system yang tersetting sedemikian rupa membuat konser dalam format MP3 ini terdengar cukup berkelas. “Saat konser, mereka mungkin pake sound mereka JBL,” Candanya diikuti tawa.
Sesudah memutarkan lagu, ia bilang bahwa sebenarnya lagu itu kebanyakan dinyanyikan dalam sebuah konser, “Jadi lagu ini sebenarnya ada juga di Youtube, malah dinyanyikan di panggung-panggung besar, yaa seperti konser gitu.” Dan benar saja, setelah saya cek, lagu yang barusan saya dengar itu ternyata kebanyakan di nyanyikan dalam sebuah konser akbar, dengan penonton yang semuanya berdiri sembari mengangkat kedua tangannya.
Ia berkata, “Ya itu untuk merasakan kehadiran Tuhannya saja.” “Bagaimana kamu bisa tahu itu?” Tanya saya. Kemudian ia menjelaskan panjang lebar mengenai ibadah orang Kristen seperti apa.
***
“Apakah akan ada tanda-tanda bahwa kamu akan meninggalkan agama yang kamu anut selama ini?” Tanya saya tiba-tiba. “Hah? Murtad maksudmu? Hahaha! Bagaimana mungkin aku meninggalkan agama yang sudah aku peluk sedari orok? Yang benar aja! Tak kasih tau, ya. Keluarga besarku itu keturanan ulama salaf yang kamu tahu laah. Mereka sangat menjaga sunnah Kanjeng Nabi Saw. juga sangat disiplin dalam beribadah. Jadi mana mungkin aku berpaling dari ajaran agama yang menurut saya paling benar dan paling Tuhan ridhai ini?” Jelasnya sambil mengisap rokok kreteknya yang tersisa setengah di tangan kirinya.
Perihal makna dalam lagu tersebut, saya lalu menanyakan pada Andre tentang satu kata pada bait reff lagu itu. “Kata ‘savior’ di sini bermakna Jerusalemku, saat kamu mendengar lagu itu dengan khusyuk, itu berarti kamu juga bisa-bisa mengimani akan hal itu?” Tanya saya.
“Semua tergantung dengan keyakinan dalam hati saja. Kalau aku meyakini kuat bahwa kata ‘savior’ dalam lagu itu bermakna ‘penyelamat’ bukan ‘Jerussalem yang mana itu sesuai dengan kamus bahasa Inggris; ya aku hanya meyakini itu saja, sesimpel itu, nggak usah dibikin ribet,” Ujar lelaki yang bekerja sebagai guru agama itu.“Tapi ada nggak keinginan sampai menyetel lagu ini di kelas-kelas yang nantinya juga di dengarkan murid-muridmu, mengingat guru kan tauladan yang baik, begitu?” Tanyaku.
Dan ia pun menjawab, “Sekarang begini, mana ada materi yang meningkatkan iman dan takwa melalui lagu-lagu rohani, hah? ‘Anak-anak hari ini kita akan meningkatkan iman dan takwa dengan mendengar lagu-lagu rohani, ya’. Kan ngga masuk akal! Bisa-bisa aku dijadikan headline berita, ‘Seorang Guru Agama Didepak Karena Menyetel Lagu Rohani di Kelas’. Jadi tolong, jangan ngada-ngada Anda!” Ujarnya dengan penuh penjiwaan. Saya pun tertawa cukup lama.
*) R Fauzi Fuadi

Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
