f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Soup Rasa Laboratorium

Oleh: Ali Audah

Sahabat Rahmania, hingga saat ini situasi dunia masih dihebohkan oleh tingginya angka kematian akibat Covid 19, terutama di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Spanyol dan Italia.

Jika melihat data yang dikeluarkan oleh Worldometers, jumlah penderita Covid-19 telah mencapai angka 1.991.275 sampai Rabu (15/4/2020) pagi kemarin. Ini bukan angka yang kecil, sekalipun di Indonesia jumlah PDP (5.136) yang meninggal ‘hanya’ sekitar 500 jiwa.

Secara praktis, banyak warga Indonesia yang terpaksa ataupun sukarela harus bertahan di rumah. Ini jelas membuat banyak gaya dan pola hidup berubah. Salah satunya adalah ‘kembalinya’ para isteri dan anak-anak gadis di dapur, termasuk puteri kami, Putri Sulhana yang biasa dipanggil Fiesha.

Malam tadi Fiesha membuatkan sup sosis untuk kami. Fiesha adalah mahasiswa mikrobiologi tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada. Sebelum merebak kasus Corona ini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di laboratorium. Ibunya selalu mendorong agar ia segera menyelesaikan kuliahnya.

Harap maklum, kakak Fiesha juga sedang koas di Kedokteran Hewan, dan adiknya sebentar lagi akan masuk SMP. Sebagai keluarga guru, kami tidak mempunyai cukup banyak sumber pemasukan, kecuali dari kos-kosan yang kadang penuh kadang sepi.

Lupakan soal kehidupan kami. Kembali kepada ritme yang selama ini dijalani oleh Fiesha. Kebiasaan membuat eksperimen di laboratorium agaknya berpengaruh pada Standard of Procedure (SOP) di dapur. Ketika Fiesha menanyakan saya apa rasa sup yang ia masak, saya menjawab,”enak sekali. Inj adalah sup rasa laboratorium.”

Ibunya yang duduk di depan saya spontan terbahak. Fiesha tidak tersinggung. Matanya justru berbinar. “Papih benar sekali. Aku membuat supnya dengan ukuran persis seperti yang ditulis oleh Google.” Tawa ibunya semakin menjadi.

Baca Juga  Tetap Membahagiakan Anak Sekolah di Masa Pandemi

Saya membayangkan bagaimana jika pendidikan kita dipandang sebagai sebuah laboratorium. Anak-anak didik adalah ibarat spesimen tanaman yang mempunyai ukuran masing-masing. Kadar perhatian, kasih sayang, ketegasan, bahkan mungkin sedikit perlakuan fisik yang keras, hendaklah benar-benar terukur.

Katakanlah satu kelas ada 20 atau 30 anak didik. Semestinya seorang guru terutama wali kelasnya mempunyai catatan harian yang menunjukkan tingkat perkembangan psikomotorik, kognitif dan afektif setiap anak.

Gagasan ini saya duga akan serta merta ditolak oleh hampir semua guru. Aturan pengajaran saat ini telah membebani guru dengan banyak tugas-tugas administratif. Ini merupakan masalah tersendiri, karena waktu yang dimilii oleh seorang guru adalah ‘sangat terbatas’.

Mendidik tidak sekedar persoalan catatan di atas kertas, yang sangat mudah dimanipulasi. Ia adalah hasil dari sebuah tanggungjawab yang dilandasi oleh cinta dan profesionalisme.

Memang pendidikan tidak sama dengan dunia dapur. Fiesha dapat saja membuat sup dengan ukuran yang sudah pasti seperti yang dilihatnya di Google, tetapi jiwa anak didik berada pada wilayah yang sangat dinamis dan terkadang juga misteri.

Apabila sistem pendidikan kita berhasil membuat sebuah buku induk tentang bagaimana anak-anak didik ini dipandang sebagai bibit-bibit kepribadian yang dikelola dengan beberapa metode efektif, terutama dalam situasi saat ini yang memaksa kita semua memberlakukan pembelajaran jarak jauh secara online, tentu guru akan lebih mudah menyesuaikan ‘treatment’ bagi anak didiknya.

Saya kira para penyelenggara pendidikan dapat menyerap apa yang diberlakukan oleh sekolah laboratorium (laboratory schools). Ada beberapa istilah untuk sekolah ini: sekolah demonstrasi, sekolah percontohan (model), sekolah kampus, University Affiliated Schools, Child Development Schools, dan sebagainya.

Dalam bentuk sekolah seperti ini, guru tidak harus ada di dalam ruangan. Kamera CCTV ditempatkan di beberapa sudut ruangan. Anak-anak didik diberi banyak stimulus untuk mengembangkan daya psikomotorik, kognitif dan afektif mereka.

Baca Juga  Menunggui Ibu di Ruang Isolasi

Guru berada di ruangan lain mengamati apa yang terjadi, lalu membuat catatan dan analisis. Dari sini guru akan dapat mengetahui apa saja perlakuan yang tepat untuk diberikan kepada setiap anak didik di kelasnya.

Secara tehnis, saya masih belum dapat membayangkan bagaimana caranya model pengamatan ini dapat diterapkan pada model e-learning saat ini. Zoom meeting adalah aplikasi paling populer saat ini.

Setelah berkali-kali menggunakannya untuk kepentingan mengajar, saya justru merasakan apa yang juga dirasakan oleh anak-anak didik saya: kerinduan untuk bertemu. Ini berarti model pembelajaran online ini masih belum ideal. Saya meragukan jika sekolah atau kampus akan tergusur oleh model belajar jarak jauh seperti saat ini.


Ngemplak, 16 April 2020

Bagikan
Comments
Post a Comment