f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pulang tanpa sambutan

Pulang Tanpa Sambutan (1)

Mentari telah berada tepat di atas kepala, sebentar lagi azan Zuhur dikumandangkan. Namun, hal tersebut tak mampu memaksa Azmi segera beranjak dari sawah. Meski panas matahari tanpa ampun membakar kulit, Azmi masih melanjutkan pekerjaannya menanam jagung. Bukan tanpa alasan, keengganan Azmi pulang disebabkan oleh perintah dari Pak Rozi supaya menuntaskan tanam jagung hari itu pula. Sebagai buruh, Azmi tentu tak mampu menyanggah perintah tersebut.

Bekal air minum Azmi tersisa satu tegukan. Beruntung pekerjaannya hari itu hampir tuntas. Sebagai manusia, Azmi tentu tak bisa terus-terusan bekerja tanpa henti. Ia pun berteduh sejenak untuk menghela napas sambil menikmati embusan angin yang mengusir gerah. Azmi tak sempat merebahkan badan, ia dengan segera kembali melanjutkan pekerjaannya. Apabila pekerjaan tanam jagungnya hari ini tak tuntas, upahnya akan dipotong separuh. Azmi berupaya menolak hal itu terjadi dengan bekerja secepat yang ia mampu.

“Alhamdulillah! Akhirnya selesai,” ujar Azmi yang napasnya terengah-engah, “Sekarang aku harus segera pulang”.

Segera Azmi mandi lalu sholat setibanya di rumah. Tak lupa ia memanjatkan doa dan berharap penuh supaya Allah swt segera memberinya jalan keluar dari problematika ekonomi yang tengah di hadapinya. Seusai salat Azmi mengambil piring, membuka tudung saji. Melihat apa yang ada di meja makan, Azmi kembali menutup tudung saji. Dalam hati ia tak tega jika nanti salah satu dari istri atau anaknya tak dapat jatah nasi. Azmi pun meneguk dua gelas air putih untuk sedikit meredakan perutnya yang keroncongan.

Pekerjaan Azmi belum benar-benar berakhir. Sekitar dua jam lagi ia harus kembali berangkat ke sawah. Kali ini bukan untuk menanam jagung, melainkan mencari rumput sebagai pakan ternak. Sama seperti pekerjaan sebelumnya, Azmi di sini bukan berperan sebagai pemilik, melainkan buruh. Kali ini ia mencarikan rumput untuk ternak Pak Yusuf. Sebelum berangkat mencari rumput, Azmi selalu sholat asar terlebih dahulu. Rutinitas tersebut dilakoninya mengingat ia selalu kembali pulang ke rumah menjelang maghrib.

Baca Juga  Sisi Lain dari Makna Romantis
***

Di satu malam, Azmi tiba-tiba terbangun tanpa tahu penyebabnya. Meski telah berusaha keras memejamkan mata, tetap saja ia tak dapat kembali terlelap. Azmi lantas mengambil air wudlu lalu melaksanakan sholat malam. Seusai salat dan melantunkan bait-bait doa, Azmi mendongak, menatap kosong pada atap rumahnya. Sejenak kemudian ia tenggelam dalam dialog dengan diri sendiri.

“Sudah hampir tujuh tahun aku melakoni segala pekerjaan yang ada di depanku. Namun, mengapa kondisi perekonomian keluargaku seolah tak ada perubahan?. Ya Allah! Jika terus seperti ini, aku takut keluargaku kian kesulitan untuk sekadar makan,” rintih Azmi dalam hati.

Azmi lantas menutup mata, menurunkan kepalanya. Kini tempat sujud yang ia pandang. Hatinya belum kembali berucap, sementara pikirannya berlarian mencari solusi dari apa yang tengah menimpanya. Tak ada suara sedikit pun malam itu, benar-benar hening. Burung hantu, jangkrik, dan angin malam seolah bungkam. Rembulan seolah berjalan sangat lambat, membuat Azmi ingin mengakhiri diskusinya dengan diri sendiri dan kembali melanjutkan tidurnya.

Namun, ketika telah meletakkan tubuh di atas tempat tidur dan memejamkan mata, Azmi justru tak dapat segera terlelap. Pikirannya sungguh kusut, seolah di dalamnya terdapat labirin yang jalan keluarnya hampir tidak mungkin ditemukan. Azmi mencoba menenangkan diri. Ia terus menutup mata, tapi kali ini bibirnya tak berhenti berzikir. Perlahan tingkat kesadarannya mulai menurun, pertanda Azmi hampir memasuki alam mimpi. Tepat sebelum benar-benar terlelap, terlintas dalam pikiran Azmi untuk merantau.

***

“Mas! Bangun! Sudah pagi!” Ujar istri Azmi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Azmi pelan. Tak berselang lama, Azmi pun membuka mata, mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Ia lantas berdiri, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Baca Juga  Geliat Pekerja Seni dan Penjual Jasa di Era Pandemi

Selesai sholat Shubuh, Azmi dan istrinya berangkat ke kebun milik pak Madi yang tak jauh dari rumah mereka untuk mencari kayu bakar. Hal tersebut telah menjadi rutinitas mereka. Pak Madi pun tak keberatan dengan apa yang dilakukan Azmi dan istrinya tiap pagi itu.

Aktivitas pagi mereka berdua kala itu mulanya tak dihiasi obrolan sama sekali. Dalam hati, Azmi berdebat dengan diri sendiri. Ia merasa sangat berat untuk mengutarakan ‘jalan keluar’ yang tebersit dalam pikirannya semalam. Tanpa disadari, istri Azmi ternyata melihat kegelisahan suaminya dari raut wajahnya yang pagi itu tampak tak melempar senyum sedikit pun.

Selepas kayu bakar yang terkumpul dirasa cukup, Azmi pun mengikatnya. Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, istri Azmi pun melontarkan pertanyaan. “Mas! Sebenarnya ada masalah apa? Aku perhatiin dari tadi kamu sama sekali tak tersenyum. Kalau ada yang mengganjal, cerita aja”.

“Jadi, kamu menyadari ya kalau aku menyembunyikan sesuatu!?” Jawab Azmi yang telah selesai mengikat kayu bakar. Ia lantas duduk meluruskan kaki, menghela napas berat.

“Iya, mas. Kalau mau cerita, cerita aja sekarang. Toh, di sini tak ada orang lain selain kita.”

Bagikan
Post a Comment