Ketika Ibuku Dilamar
Aku bertamu ke kuburan ayah. Memohon doa restu. "Kemarin kemiskinan datang ke rumah", kataku. Ia melamar ibu .
Sejak dan tiap kali membaca kutipan puisi Beni Satryo itu, aku teringat hari, kala menjadi yatim di usia 11 tahun.
Hari itu, ayahku pulang diantar ambulans. Aku memanggilnya Abah. Ia benar-benar berpulang mendadak. Berdesakan pelayat datang. Di antara kerumunan, terdengar lantunan surah Yasin, isak tangis dan pemandangan wajah-wajah bermata sembab.
Sebagian tamu berkisah pelan ihwal insiden. Aku mencuri dengar. Vespa hijaunya ringsek. Abahku meninggal di tempat, di sebuah kelokan tajam. Sesaat berpapasan dengan truk gandeng. Vespanya kesabet ekor truk gandeng. Tetapi wajahnya masih bisa terlihat tidak cedera. Agaknya, luka dalam. Anehnya, kacamatanya masih utuh. Hanya ada bekas darah bingkainya. Apalah daya, aku terlalu kecil untuk dizinkan melihat jenazahnya.
****
Hari itu banyak orang yang kukenal menangis. Sebagian sering kulihat, ibu-ibu jamaah pengajian yang rajin mendengarkan pengajian tafsir Jalalaian, tiap Rabu oleh abahku. Aku tidak banyak memperhatikan pelayat bapak-bapak. Karena selalu bersembunyi di balik tubuh ibu. Anehnya, hari itu entah aku tidak juga menangis.
Aku tak terlalu tertarik, bagaimana kisah kepergiaan Abah. Dan, sempat-sempatnya di tengah kerumunan, dengan lugu saya bertanya kepada ibuku. “Aku nanti masih bisa sekolah, Bu?”.
Pertanyaan itu membuat beberapa ibu pelayat terisak. Seseorang yang lain lalu memelukku dengan mata sembab.
Tetapi tidak pada esok harinya. Ketika Pak Subadi, mengusap kepalaku. Di belakang guru kelasku itu, teman-teman satu kelas datang. Semua masih dengan atribut seragam merah putih. Menyalamiku, tanpa satu seorangpun berani bercanda. Senyap tanpa kata. Bahkan Slamet, temanku yang pandai melucu, terlihat kaku. Lagi pula, setahuku tidak pernah ada sesi pelajaran bagi anak-anak sekolah bagaimana cara menyampaikan kalimat belasungkawa.
Tanpa diduga, meleleh deras air mataku. Melihat barisan teman-teman berseragam membuatku faham akan panjang perjalanan saya. Sampai di titik manakah saya akan berseragam seperti mereka?
***
Yah, sejak Ibu dilamar kemiskinan. Berkali-kali dalam tahun-tahun saya bersekolah, dipanggil wali kelas. “Kenapa nunggak uang SPP?“.
Meskipun, ada saja nasib tetangga yang ekonominya lebih miris dari kami, tentu saja. Tetapi yang paling terasa saat tumbuh remaja adalah fakirnya peran seorang ayah dalam hidupku. Para ahli bilang, seorang ayah adalah model peran bagi anak laki-laki. Bagaimana cara menampilkan simbol keberanian dan berani bersaing. Dan bagi anak perempuan, akan tergantung bagaimana seorang ayah memperlakukan istrinya, ibu dari anak perempuan. Jika memperlakukan dengan tidak dengan cara hormat, begitulah juga anak perempuan tidak akan menaruh harapan yang tinggi kepada calon suaminya.
Ah, banyak anak yatim yang baik-baik saja. Ibuku berjuang memastikan diriku, kakak dan adikku di golongan yang pertama. Entah bagaimana seorang perempuan tak kehabisan keberanian.
Ibuku seorang ibu rumah tangga. Berani menyekolahkanku. Memangku enam anak-anaknya. Ibuku berani tidak menikah lagi. Entah bagaimana memadukannya dengan kesabaran. Nyaris tidak pernah, ada uang jajan untukku ketika bersekolah. Tetap berkali-kali ketika harus ikut lomba ini itu. Ibu selalu menyelipkan uang di saku atas bajuku. “Biar jadi anak berani”.
Setelah aku menyelesaikan tugas, uang itu pun seringnya, terpaksa kukembalikan. Sebab sangat berguna untuk membeli keperluan ibu. Yang pasti untuk keperluanku jua.
Tiap kali ingat strategi Ibu. Keberanianku ternyata bersumber dari iming-iming. Hadiah. Keberanian itu ternyata kepunyaan Ibu yang dititipkan padaku.Seakan dia ingin bilang, uang adalah cuma benda, yang lewat begitu saja. Sementara, keberanian itu ada pada dirimu sendiri.
Keberanian itu kepunyaaan ibuku.
Saat aku kerap berkeluh kesah, hanya makan dengan sayur lompong, yang dipetik karena terhampar liar di pekarangan. Aku teringat kata-kata azimat, “Abah memang sudah mati. Tetapi seandainya setiap hari harus makan sayur lompong pun tidak bikin kamu mati”.
Mengapa ini mirip dengan kata-kata Nietzsche: “Was mich nicht umbringt, macht mich starker“. Segala sesuatu yang yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat. Nasihat yang membuatku bisa melewati episode menuntut ilmu, di sebuah kota besar. Melampaui hari, sering dengan makan satu kali sehari.
Buktinya benar. Aku masih diberi kesempatan. Bahkan, kini aku telah menjadi ayah. Saat Hefiza, anak perempuanku tidur pulas. Diam-diam aku cemas. Aku takut tidak mampu mengajarkan keberanian. Bagaimana caraku mengajarkan keberanian kepadanya? Menghadapi kenyataan dan masa depan.
Aku ingin berkata, “Yang Ayah punya adalah kecemasan. Yang tertinggal, hanya kacamata Abah. Dia kakekmu yang Ayah sendiri tak lama mengenalnya. Dan, tak sempat kamu melihatnya. Hanya kacamata dengan darah di bingkainya yang kini masih tersimpan di laci meja jati. Bagaimana kebahagaian dan kekuatan pergi begitu tiba-tiba. Bagaimana kenyataan harus dihadapi bertahun-tahun, puluhan tahun? Tanyalah pada nenekmu. Belajarlah pada ibumu. Carilah dalam dirimu”
Mungkin lelaki lebih kuat. tetapi seorang perempuan lebih mampu bertahan. Berkali melihat kacamata itu, dengan bercak darah yang telah berpuluh tahun mengering. Aku memang terkenang kepergian Abah. tetapi lebih teringat keberanian ibuku.
Abah, jika hari ini aku ke makammu. Aku ingin berduka secara khusuk. Bukan duka seperti yang dibilang Seno Gumira Ajidarma, duka sambil lalu, seperti mengisi presensi. Tetapi di nisanmu, kulihat wajah Ibu.
Alfatihah.

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.

Miftach R
Teringat lagu berjudul “Bunda”