Kepada Allah Tempat Kembali
Wabah pandemi Covid-19 sampai saat ini masih meliputi kita semua. Sempat hampir mereda pada bulan Ramadan lalu, kini virus mematikan ini kembali mewabah dengan lebih ganas. Muncul varian-varian baru yang menurut para ahli lebih mematikan dan lebih cepat penyebarannya ketimbang varian-varian sebelumnya.
Angka yang terpapar dan meninggal hari demi hari terus bertambah dan mencatatkan rekor yang mencengangkan. Rumah-rumah sakit sampai kekurangan kamar dan kewalahan melayani pasien. Berita kematian tak putus-putusnya kita dengar dari sekeliling kita, atau kita baca di grup-grup whatsapp kita. Belum usai ucapan belasungkawa untuk seseorang, berita kematian berikutnya sudah datang menyusul.
Seiring dengan itu, kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un) kini menjadi begitu sering kita ucapkan dan begitu sering kita posting di HP kita. Kalimat ini sambung-menyambung mengiringi berita duka yang muncul hampir tiap saat. Mewakili sekaligus mengiringi rasa sedih dan duka serta harapan dan doa terbaik kita untuk keluarga, sahabat, dan teman sejawat yang dipanggil Allah di tengah wabah Covid-19 ini.
***
Karena begitu seringnya kita dengar, kita baca, kita ucapkan dan kita tuliskan, kalimat istirja’ ini mungkin kini sudah menjadi sesuatu yang terasa biasa buat kita. Sekedar lontaran spontan setiap kali kita mendengar berita kematian. Sekedar basa-basi atau ekspresi empati sesaat kita di media sosial. Bahkan mungkin kita tak benar-benar mengucapkannya, melainkan hanya menuliskannya di layar HP.
Atau bahkan kita tidak benar-benar menuliskannya, melainkan hanya men-copy atau mem-forward-nya dalam bentuk stiker berbagai bentuk dan warna. Bisa jadi, kalimat istirja’ ini hanya sekadar terucap di bibir dan tertulis layar HP kita, bukan lahir dari hati dan perasaan kita.
Tapi, semoga saja tidak. Sekali lagi, semoga saja tidak. Sebab kalimat istirja’ bukan kalimat biasa. Ia adalah verbalisasi dari salah satu aspek penting dari ketauhidan kita. Yaitu keyakinan bahwa semua adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Proses kita lahir ke dunia ini dan proses kita meninggalkan dunia ini mutlak berada dalam kuasa dan kehendak-Nya. Kapan, di mana, dan dengan cara apa kita kembali kepada-Nya semua adalah suratan takdir-Nya.
Maka, mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun adalah ungkapan tauhid kita, ekspressi pengakuan dan kepasrahan kita atas kehendak-Nya. Oleh karena itu, sudah semestinya ungkapan ketauhidan ini tidak terucap dan terulis sebagai basa-basi atau spontanitas, tapi lahir dari keyakinan da keridaan yang mendalam.
***
Salah satu hikmah agung dari mengucapkan kalimat istirja’ adalah tertuntunnya kita untuk memposisikan musibah kematian yang hari-hari ini begitu sering kita dengar pada posisinya yang benar, yaitu sebagai cobaan dari Allah SWT.
Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Baqarah: 155-156, ketakutan, kelaparan, berkurangnya harta benda, kematian sanak famili, dan berkurangnya hasil pertanian dan perkebunan adalah bentuk-bentuk cobaan yang pasti akan menimpa kita. Namun tidak semua orang mampu melihat musibah-musibah ini sebagai cobaan Allah. Hanya orang-orang yang mengambil sikap istirja’ yang mampu melakukannya, yaitu mereka yang mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun ketika musibah itu datang menimpa mereka.
Kalimat istirja’ bukan kalimat biasa, maka mereka yang mengucapkannya juga bukan orang-orang biasa. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang istimewa. Apa keistimewaan mereka? Dalam ayat 155 dari surat Al-Baqarah tersebut, Allah mengabarkan bahwa mereka tercatat sebagai hamba-Nya yang sabar. Dan tercatat oleh Allah sebagai hamba-Nya yang sabar adalah salah satu bentuk pencapaian spiritual tertinggi seorang hamba.
Karena Allah berkali-kali menegaskan, salah satunya dalam surat Al-Anfal: 46, bahwa Ia bersama hamba-hamba-Nya yang sabar. Adakah orang yang lebih istimewa dari mereka yang selalu dibersamai oleh Allah?
***
Tidak hanya itu. Allah mengistimewakan hamba-hamba-Nya yang sabar dengan mengirimkan kabar gembira buat mereka. Wa Bassyir As-Shaabiriin. Melalui Rasul-Nya, Allah menitip pesan kepada mereka agar mereka bergembira di tengah musibah dan cobaan yang mereka hadapi.
Lihatlah, Subhanallah, di saat cobaan terasa menyedihkan, Allah justru mengirim pesan agar mereka bergembira. Ini bukti bahwa cobaan itu sesungguhnya didatangkan Allah kepada mereka agar pada akhirnya mereka bergembira.
Kenapa hamba-hamba-Nya yang bersabar disuruh bergembira padahal musibah dan cobaan menimpa mereka? Karena Allah memberikan tiga hadiah terindah sebagai buah dari kesabaran mereka, yaitu ampunan-Nya, rahmat-Nya, dan hidayah-Nya. Ullaika ‘alaihim shalawaatun mirrabbihim wa rahmah waulaaika humul muhtaduun. Mereka itulah orang yang mendapat ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan meraka pulalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-Baqarah: 156). Adakah yang lebih menggembirakan bagi seorang hamba dari jaminan ampunan, rahmat, dan hidayah dari Tuhannya?
***
Ini semua adalah pesan agung buat kita, bahwa kalimat istirja’ adalah kalimat agung yang merupakan verbalisasi ketauhidan kita. Ia menuntun kita memandang musibah dengan tepat, yaitu sebagai cobaan-Nya. Ia menuntun kita menjadi hamba yang bersikap benar di hadapan cobaan-Nya, yaitu hamba yang bersabar. Ia membukakan untuk kita tiga pintu istimewa sebagai buah kesabaran kita, yaitu ampunan-Nya, rahmat-Nya dan Hidayah-Nya. Ia adalah pelipur lara terbaik setiap kali cobaan datang mengahmpiri kita.
Semoga kalimat istirja’ yang hari-hari ini hampir tiada hentinya kita ucapkan benar-benar lahir dari hati dan keyakinan kita: bahwa segalanya dari dan milik Allah, dan atas kuasa dan kehendak-Nya segalanya pasti akan kembali kepada-Nya. Semoga dengan itu kita tergolong ke dalam hamba-hamba-Nya yang sabar. Yaitu hamba-hamba yang dihibur oleh-Nya saat musibah, dan hamba-hamba yang berhak mendapat ampunan, rahmat, serta hidayah-Nya. Aamiin.
Wallahu A’lam.
