f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kesabaran

Membaca dan Menulis: Seni Melatih Kesabaran

Buku-buku itu masih tertumpuk juga. Masih termenung, belum tergerak dari deretan raknya. Mereka senantiasa bersabar, seakan-akan mengantri menunggu giliran untuk dibaca. Tidak pernah mengeluh dan melenguh. Menaruh keyakinan pasti terhadap pemiliknya, bahwa suatu saat akan meluangkan waktu untuk menyapanya dan membuka lembar demi lembar halaman mereka.

Buku yang dibeli tahun lalu, bisa jadi baru dibaca tahun ini. Dan buku yang baru dibeli tahun ini, roman-romannya berpotensi juga untuk dibaca tahun depan. Kolektor dan penikmat buku sering kali membeli buku dan membacanya di kemudian hari (kemudian yang entah kapan). Membeli buku, merobek sampul plastiknya, dan meletakkannya di rak bersama tumpukan buku-buku lainnya yang juga belum dibaca bagai siklus yang absolut terjadi.

Bukan tanpa sebab, buku-buku itu tercenung bersama tumpukan buku lain yang belum terbaca karena proses membaca bagi sebagian orang memanglah membutuhkan waktu yang relatif lama. Mengingat buku-buku populer pada umumnya berisi 200 hingga 500 halaman, dan tentu durasi membacanya tergantung kecepatan pembacanya pula. Apalagi jika mengutamakan pemahaman akan keseluruhan isi buku, seseorang bisa dua sampai tiga kali membaca satu buku dengan berbagai teknik yang ia rasa sesuai untuk mendapat pemahaman yang paripurna.

Terlepas dari berbagai teknik membaca yang digunakan, baik membaca secara literal maupun skimming, baik membaca kritis ataupun kreatif. Tujuan membaca biasanya adalah untuk memperoleh kepingan informasi serta memahami gagasan yang ingin disampaikan penulisnya. Dan pada akhirnya, membaca dengan teknik apapun tetaplah membutuhkan waktu.

***

Jadi, mari kita sepakati dahulu, bahwa membaca sebuah buku (dan selain buku) memang membutuhkan waktu, dan karenanya, membutuhkan kesabaran pula. Ketika seseorang membaca, setidaknya ia meluangkan waktunya untuk diam sejenak, mengamati, mencerna, serta menafsirkan makna dari bacaannya.

Baca Juga  Bagaimana Cara Mendidik Anak Menurut Pandangan Islam?

Kesabaran merupakan salah satu instrumen vital saat membaca. Seseorang yang tidak bersabar dalam membaca, kemungkinan besar tidak akan menyelesaikan buku yang ia baca. Atau, ia akan membaca dengan tidak sabaran, melewati beberapa paragraf, halaman, bahkan tidak sedikit yang langsung beranjak ke halaman terakhir.

Rugikah? Tentu, jika ia sedang membaca novel, ia berpotensi melewatkan berbagai cerita dan dialog penting, plot yang ditunggu-tunggu, dan peristiwa yang tak terduga. Jika ia melewatkan beberapa paragraf atau halaman saat membaca buku akademik untuk ujian, kemungkinan juga ia akan melewatkan paragraf yang justru keluar sebagai soal dalam ujian.

Di sinilah keunikan membaca. Tanpa kita sadari, membaca merupakan latihan bersabar yang baik dan efektif. Secara tidak langsung, para pembaca buku tengah melatih diri mereka untuk tetap konsisten menamatkan kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman, yang kemudian akan berimplikasi pada intensitas kesabarannya dalam banyak hal.

Kesabaran dalam membaca, saya rasa dapat memberi implikasi positif yang sangat luar biasa pada tatanan kehidupan yang lebih kompleks. Saya mengamati, beberapa teman dan rekan saya yang suka membaca, umumnya jauh lebih bersabar di segala situasi.

Mereka bersabar ketika mendapati sebuah isu, tidak tergesa-gesa (mengklarifikasi) berita hoaks dengan mengeceknya melalui sumber, kanal pengetahuan, ataupun buku. Lebih jauh lagi, mereka juga lebih bersabar saat mengantre di tempat umum, saat mengalami kemacetan parah, bahkan saat menghadapi orang yang menyebalkan.

Ya, karena mereka sudah “well-trained” sebagai atlet bersabar yang rutin berlatih dengan membaca jutaan hingga milyaran aksara.

***

Kegiatan membaca tentu juga lekat dengan menulis. Bagai kakak beradik yang saling bersinergi dalam kegiatan literasi dan pastinya sama-sama membutuhkan kesabaran. Seorang penulis pasti juga seorang pembaca. Karena untuk menuliskan sesuatu, ia harus membaca.

Baca Juga  Takzim: Antara Penghormatan dan Pengkultusan, Benarkah?

Membaca, baik sebagai bahan baku tulisan ataupun sebagai pemicu untuk mengkritisi suatu hal. Menulis tidak bisa asal-asalan tanpa berdasar dan tanpa membaca. Terutama jika konten tulisannya berkaitan dengan ilmu pengetahuan.

Pada dasarnya, menulis membutuhkan kesabaran karena harus menuturkan tulisan melalui sistematika yang tepat dan alur yang logis, sehingga ketergesa-gesaan akan menuntunnya kepada jurang kepongahan dan sistematika yang berantakan.

Dan pada gilirannya, menulis membutuhkan fokus dan kesabaran untuk dapat memberikan premis-premis yang sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Maka, seorang penulis harus menekan egonya untuk tidak menuliskan semua yang ia ketahui dan apa-apa yang ingin ia sampaikan belaka. Semata-mata, agar tulisan dapat bernilai dan bermanfaat bagi pembacanya.

***

Terlepas dari banyaknya manfaat yang didapatkan dari membaca dan menulis, yang telah dipaparkan oleh berbagai penelitian, seperti meredakan stres, meningkatkan kemampuan komunikasi, melatih daya pikir, dan masih banyak lagi. Kegiatan membaca merupakan seni melatih kesabaran yang juga merupakan perintah Tuhan. Makna wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Saw yakni “Iqra” sering kita abaikan, yang ternyata memiliki manfaat yang begitu luas dan melimpah.

Sampai sini, terima kasih karena kalian, para pembaca, telah bersabar membaca hingga paragraf terakhir. Saya sendiri bukanlah orang yang paling banyak membaca apalagi menulis, tapi mari kita bersama-sama membiasakan diri untuk membaca dan menulis sebagai latihan bersabar dan mencegah diri dari perbuatan-perbuatan yang kurang bermanfaat.

Bagikan
Post a Comment