f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masa sensitif wanita

Masa Sensitif Wanita, Adakah Solusinya?

Masa-masa sensitif wanita diakui keberadaannya secara medis. Di masa haid, masa kehamilan, menopause, hingga hormon akibat pemasangan KB misalnya, dan lain-lain. Pada waktu-waktu tersebut wanita dinilai cendrung lebih sensitif, atau lebih dikenal dengan mood swing. Tentang masalah kewanitaan ini, terkadang tak bisa terkendali.

Faktor hormon inilah yang seringkali mendominasi kaum hawa hingga menjadikan suasana hati mereka yang mudah tersinggung dan sensitif. Apalagi, bila dilengkapi dengan kondisi stres seputar pekerjaan ibu rumah tangga yang tak pernah ada habisnya maupun masalah lain.

Kondisi mood swing ini merupakan hal yang wajar dan normal. Dengan catatan, tidak terjadi secara intens sampai mengganggu kehidupan pribadi. Artinya, bila terjadi sesekali, apalagi dilatarbelakangi hormon, maka apalah daya wanita tersebut bila sampai mengubah suasana hatinya. Tentunya sifat sensitif ini semacam hal yang tidak diinginkan, namun harus dialami.

Dalam realitanya, seringkali dalam kehidupan sesama wanita bila terjadi badmood diantara mereka, maka yang satunya lagi sangat memaklumi hingga mengatakan: “Mungkin dia sedang badmood/sensitif”. Hal yang sangat ingin dipertanyakan penulis adalah, bolehkah badmood dijadikan pembenaran, hingga kita bisa sesuka hati mengatasnamakan bad mood sebagai sesuatu yang harus dimaklumi siapapun.

Sesungguhnya dalam Islam, sebisa mungkin kita harus mampu untuk tetap berbuat baik, dalam keadaan apapun, di situasi yang serumit apapun. Namun sebagai manusia, apalagi wanita di masa sensitif, sangat mungkin untuk melontarkan kata-kata yang melukai, pengaruh mood ini memang susah sekali dikendalikannya.

Sebagai seorang wanita, penulis merasakan betul rumitnya sifat sensitif wanita hingga upaya dari suasana yang tak bisa dikendalikan. Betapa beruntungnya para muslimah yang masih mampu menahan lisan dan prilakunya dari hal buruk di masa-masa tersebut. Beruntunglah bagi mereka yang masih mampu mengatur emosinya di masa rawan tersebut.

Baca Juga  Menjadi Orang Tua Asyik dalam Mengasuh Anak

Lantas, apakah Islam memahami situasi perempuan yang seperti ini? Dan bagaimana solusi mengatasinya? Dan bagaimana pula pandangan medis menyikapinya?

Tips Mengatasi Mood Swing

Banyak sekali artikel bertajuk kesehatan yang menganjurkan pola hidup sehat sebagai solusi mengatasi mood swing. Makan makanan yang bergizi, tidur yang cukup, dan rutin berolahraga. Semua itu dalam rangka mengelola mood agar lebih baik.

Dari sisi spiritual, kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati menjadi tenang.” (Q.S. ar-Ra’du ayat 28).

Kita butuh mendekat kepada Allah, karena itulah healing batin kita yang sesungguhnya.

Seberapapun upaya pengelolaan stres dilakukan, tanpa sentuhan spiritual, hati kita tetap akan hampa.

Adapun perkara masa sensitif, upayakan agar kita menjauh sebelum melukai. Atau bila kita sudah terlanjur melukai, jangan sungkan meminta maaf. Wanita, sesungguhnya meminta maaf adalah jalan terbaik saat kita tak bisa melewatkan masa sensitif dengan baik.

Namun, bagaimana bila kita tidak menyadarinya? Semoga Allah memaafkan kita semua. Teruslah berbuat baik selama kita hidup, siapa tahu kesalahan kita di masa tersebut dapat terhapus.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يذْْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan dapat menghapus kesalahan-kesalahan.” (Q.S. Hud ayat 11)

Islam Menyikapi Wanita Sensitif

Kita tentu tidak asing dengan hadis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam berikut:

“Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (H.R. Bukhari Muslim)

Hadis ini mengindikasikan lemahnya keadaan hati wanita, yang membuatnya rawan bila sampai diperlakukan tanpa kelemahlembutan.

Baca Juga  Dengan Membaca, Kita Menjadi Orang yang Tidak Merugi

Dalam hadis lain, Rasul mengumpamakan wanita dengan gelas-gelas kaca:

‎ارفق با القوارير

“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).” (H.R. Bukhari Muslim)

Ibnu Hajar Rahimahullah mengutip pendapat ulama bahwa para wanita disamakan dengan gelas kaca karena cepatnya mereka berubah dari rida menjadi tidak rida, mudah pikirannya berubah. Layaknya gelas kaca mereka sangat cepat pecah dan tidak dapat menerima perlakuan kasar dan keras. (Fathul Bari, 14/18-19)

Wanita mudah dan cepat berubah hati dan pikirannya, itu semua menandakan bahwa sejak dahulu memang Islam telah memahami karakteristik wanita yang moody. Tentu dalam hal ini termasuk pula sifat sensitif yang mengubah suasana hati wanita dengan cepatnya.

Artinya, Islam sudah dari jauh-jauh hari menghimbau para lelaki khususnya, agar memperlakukan wanita dengan lemah lembut. Atau hatinya mudah pecah bak gelas-gelas kaca maupun patah bak tulang rusuk yang bengkok.

Adapun di masa sensitif tersebut, sangat mungkin wanita mengeluarkan kalimat-kalimat yang melukai. Maka Rasulullah bersabda:

“Wahai para perempuan, bersedekahlah, dan perbanyak istighfar. Aku melihat kalian kebanyakan penghuni neraka.” Lalu salah seorang diantara mereka  bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa kebanyakan dari kami menjadi penghuni neraka?” Rasulullah menjawab: “Kalian banyak melaknat dan kufur pada suami…dst” (H.R. Bukhari Muslim)

Perhatikan jawaban di atas, banyak melaknat dan kufur. Melaknat itu adalah caci maki, dan itu hal yang sangat mungkin terjadi di masa sensitif. Tidak hanya pada suami, tapi orang terdekat lainnya.

Rupanya Rasulullah telah memberikan solusinya sejak dahulu kala, bahwa kita, kaum wanita, diperintah bersedekah dan banyak beristighfar.

Mengapa harus bersedekah? Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. (H.R. Tirmidzi)

Dan mengapa kita harus banyak beristighfar? Beristighfarlah (mohon ampunlah) kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun. (Q.S. Nuh ayat 10)

Baca Juga  Politikus Perempuan Indonesia di Pemilu 1955 (1)

Keduanya, sama-sama upaya yang dapat menghapus dosa. Itulah mengapa Rasulullah menyuruh kita mengamalkannya sebagai upaya mengimbangi tabiat kita yang sudah bak gelas-gelas kaca, apalagi di masa sensitif yang rentan khilaf. Dan jangan lupa untuk terus berbuat baik. Di samping sedekah, banyak istighfar, setiap kebaikan pun dapat menghapus kesalahan.

Maka teruslah berbuat baik, banyak istighfar, dan bersedekah.

Wallahu a’lam

Bagikan
Post a Comment