f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ramadan dan kesalehan

Ramadan dan Kesalehan Artifisial

Bulan Ramadan nyaris selalu memunculkan suasana yang khas dan berbeda dibandingkan dengan bulan selainnya. Statusnya sebagai bulan yang spesial sukar untuk dibantah, bahkan hanya dari nuansa yang menyertainya. Seketika saat Ramadan datang, bahkan sejak sepekan menjelang, sejuk bayunya sudah terasa. Tidak dapat dijelaskan, tetapi saya yakin kita semua mengalaminya. Terlebih selama kurun bulan Ramadan berjalan. Sekali lagi, hal ini terjadi, tidak lain karena kedudukan bulan ini yang memang spesial. Suasana yang tidak didapati di bulan selain Ramadan.

Selain kudapan seperti kurma dan kolak yang menjamur di tepi ruas-ruas jalan atau pementasan bernuansa Ramadan, baik di layar kaca, media sosial maupun tatap muka yang bertebaran, kalau kita cermati lagi, ada fenomena lain yang juga sangat identik dengan bulan ini. Fenomena tersebut adalah mendadak ramainya surau-surau dan masjid oleh muslimin yang beribadah. Orang menjadi sangat saleh dan dermawan saat Ramadan tiba. Tak hanya amalan fardu, tetapi yang sunah pun turut ditegakkan setegak mungkin. Padahal, tidak sedikit yang di luar Ramadan, salat wajib pun “Senin-Kamis”. Berkunjung ke masjid hanya sepekan sekali, yaitu untuk salat Jumat saja serta pijar filantropinya pun biasanya redup. Tetapi saat Ramadan datang, banyak yang mendadak bersalin muka, berubah laku seketika. Sesuatu yang sebenarnya lebih kuat aroma artifisialnya.

Fenomena yang khas dengan Ramadan tersebut sejujurnya bagus. Perbuatan baik tetaplah perbuatan baik. Apalagi fenomena itu setidaknya menunjukkan satu sinyal positif. Orang berarti menangkap dengan baik pesan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Dalam sabdanya Nabi mengatakan: “Celakalah seorang yang berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian Ramadan itu berakhir dalam keadaan Allah Swt. belum mengampuni dosa-dosanya…” Dalam hadis yang lain Rasul Saw. juga menyampaikan: “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah Swt. pada bulan Ramadan.” Selain kedua sabda Nabi tersebut, ada banyak sekali isyarat dan petunjuk Allah serta pesan Nabi lainnya yang mengungkapkan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan, beserta amalan-amalan yang di lakukan di dalamnya. Sehingga orang berbondong-bondong menjadi dan berperilaku baik.

Baca Juga  Kesehatan Mental Fondasi Membangun Ketahanan Keluarga

Meskipun dalam spektrum motif yang lain, mungkin saja mereka yang “mendadak saleh” tadi dilatarbelakangi oleh alasan yang lebih pragmatis. Misalnya saja, bahwa yang patut dan pantas dilakukan di bulan Ramadan adalah rajin beribadah dan dermawan, sebagaimana dilakukannya oleh keluarga dan tetangganya. Jika tidak dilakukan, akan tampak berbeda dan terasa tidak sedang di bulan Ramadan. Orang sering bilang dengan istilah: “rasanya kurang afdhol”. Sehingga, yang dilakukan tidak sungguh-sungguh dijiwai atau berangkat dari hati.

Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, ada kesalahpahaman kita terhadap bulan Ramadan. Ternyata tidak sedikit yang beranggapan bahwa Ramadan adalah waktu menjadi saleh dan taat, sementara di masa sebelum dan setelahnya, ketaatan dan kesalehan bukanlah suatu keharusan. Sebuah anggapan yang jadi sepenggal bukti bahwa Ramadan perlu reposisi dalam konsepsi yang tepat. Makna Ramadan seolah didegradasi menjadi hanya sekadar bulan yang riuh dengan “selebrasi” islami yang sangat simbolis, tidak lagi substantif. Kedatangannya disambut dengan gegap gempita, kolak dan kurma, komodifikasi segala yang berbau agama, berganti kostum islami, setumpuk agenda buka bersama dan semacamnya. Bulan mulia ini menjadi seolah datang hanya selewat, tidak ada hikmah yang melekat.

Padahal sejatinya, Ramadan layaknya puncak dari kurva kesalehan kita selama 11 bulan sebelumnya. Ia  juga sekaligus sebagai madrasah untuk melatih diri agar fondasi kesalehan dan ketaatan kita kian kokoh, sekurang-kurangnya untuk setahun mendatang. Ramadan bukanlah 4 pekan dengan agenda-agenda simbolis yang secara “sim-salabim” mampu membuat seseorang yang salatnya jarang menjadi saleh dan taqwa. Meskipun, hidayah tetaplah menjadi hak prerogatif Allah, Ia bisa memberikannya kepada siapapun, kapanpun dan untuk alasan apapun. Tetapi kesalehan, ketaatan dan ketaqwaan yang sejati adalah hasil dari latihan, bukan artifisial, dikarbit dalam waktu sebulan.

Baca Juga  Fast Fashion: Jebakan Nyata Eksploitasi Perempuan

Maka, penceramah sering berpesan pada pekan-pekan sebelum Ramadan datang, agar kita mempersiapkan diri. Membiasakan mengakrabi amal-amal saleh, dan mengasingkan diri dari larangan-laranganNya. Setahap demi setahap hingga akhirnya terbiasa dan nyaman dalam ketaatan. Sehingga saat Ramadan tiba, kita tidak lagi terkaget tetapi justru terstimulus untuk menaikkan kualitas dan kuantitas kesalehan dan ketaatan kita sebelumnya. Dampaknya, setelah bulan ini berlalu, standar ketaatan dan kesalehan kita meningkat, kebaikan terus berlanjut yang tercermin dari semakin baiknya kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah serta perilaku terhadap sesama manusia (hamblum minallah, hamblum minannas).

Seorang salaf pernah mengatakan:

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadan”

Terlebih lagi, Rasul Saw. juga telah mengingatkan umatnya, bahwa kebaikan yang kecil tetapi dilakukan secara istiqamah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada kebaikan besar tetapi hanya dilakukan sesekali. Dengan demikian, memaknai ulang kedudukan dan posisi bulan Ramadan bagi kita menjadi sesuatu yang penting. Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin. Maksudnya adalah, beribadahlah secara berkelanjutan setiap waktu, sepanjang tahun dan tidak hanya beribadah, menjadi saleh dan taat hanya pada bulan Ramadan saja. Semoga kita dapat melaksanakan ketaatan yang kontinu, bukan yang tentatif. Menjadi hamba dengan kesalehan yang substansial bukan yang artifisial. Wallahu a’lam.

Bagikan
Post a Comment