Dunia pekerjaan adalah dunia yang pelik, tentunya. Apapun pekerjaannya, selalu ada tantangan tersendiri. Standar tantangan dalam pekerjaan pun disikapi berbeda oleh tiap generasi. Klasifikasi generasi kini tidak lagi terbatas pada Boomers, Millenials atau Gen Z semata.
Muncul banyak istilah untuk menggambarkan generasi-generasi tertentu. Nama-namanya juga cukup unik, seperti Generasi Sandwich, Generasi Stroberi, hingga Generasi Geprek. Baru-baru ini, saya sedikit mengeksplorasi tentang Generasi Stroberi, yang sepertinya cukup relevan dengan keluhan teman kantor atau mutual di Twitter.
Sebagai orang yang lahir di atas tahun 1990-an, saya dan teman-teman se-generasi acap kali disebut sebagai Strawberry Generation (Generasi Stroberi). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sebuah generasi yang didominasi oleh pemikiran-pemikiran kreatif, inovatif, dan solutif, namun cenderung sensitif terhadap kritik, tekanan, dan tantangan.
Buah stoberi dijadikan analogi sebab memiliki ciri yang senada: tampilan memukau dan ketahanan yang lemah. Generasi Stoberi juga dikenal manja, sebab sering kali berlindung di balik kata-kata “healing” atau “self-reward” setiap kali selesai bekerja. Pola tersebut bersifat konsumtif, sehingga membuat generasi stroberi menjadi boros.
Istilah Generasi Stroberi pertama kali muncul di Taiwan, sebagai penanda generasi yang lahir pasca tahun 1980. Istilah ini kemudian mengalami pergeseran, kini merujuk pada generasi pasca-milenial. Namun, beberapa pihak menganggap bahwa pengelompokan Generasi Stroberi tidak relevan menggunakan usia. Karakter ini bisa muncul pada usia berapa saja.
Tak dapat dipungkiri, pola didik orang tua benar-benar berpengaruh dengan pertumbuhan seseorang. Menurut Prof. Rhenald Kasali, penulis buku Strawberry Generation, pola didik orang tua yang “lembek” memengaruhi seseorang tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah dan sakit hati.
Pola didik orang tua yang overprotective ini membuat anak terbiasa dalam lingkungan yang “aman” dan “mudah”. Hal ini juga yang membuat seseorang tumbuh menjadi pribadi yang tidak terbiasa mengambil risiko, bahkan cenderung menghindari hal-hal yang dianggap sulit.
Bagi pribadi muslim, sudah sewajarnya bagi kita untuk mengamalkan ayat-ayat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Generasi Stroberi, mengamalkan surat Al-Insyirah mungkin dapat menjadi bekal dalam menjalankan hari-hari yang dinilai berat.
Surat ini diturunkan saat Rasulullah Saw. dalam kondisi terpuruk. Saat itu, Rasul menghadapi intimidasi secara terus-menerus dari masyarakat kafir Quraisy. Pengikut-pengikut Rasul juga diolok-olok dan diajak untuk meninggalkan Islam.
Tindak-tanduk kaum kafir Quraisy kemudian membuat Rasul berkecil hati. Saat itulah Malaikat Jibril turun dan membawa wahyu Surah Al-Insyirah ayat 1 yang berbunyi: Alam nasyrah laka shadraka (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu).
Secara literal, makna Al-Insyirah adalah “kelapangan.” Al-Insyirah juga sering kali disebut surah Alam Nasyrah atau surah Ash Syahr.
Pada ayat-ayat selanjutnya, Allah memberikan kabar bahagia bagi Rasul. Beban yang memberatkan punggungnya diringankan. Setelah beban itu dihilangkan, derajatnya diangkat sebagai makhluk yang memiliki kedudukan paling tinggi.
Ayat kelima dan keenam dari surah Al-Insyirah memiliki kalimat yang sangat mirip. Fa inna ma‘al usri yusra (Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan). Inna ma’al usri yusra (Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan).
Fa iza faragta fansab (Maka jika kamu telah selesai dengan urusan lain, kerjakanlah yang lain dengan sungguh-sungguh). Surat ini ditutup dengan seruan untuk mempasrahkan segala harap pada-Nya: wa ila rabbika fargab (Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap).
Al-Insyirah membawa pesan positif bagi umat muslim yang tengah berada dalam kondisi terpuruk. Surah ini memperingatkan umat muslim bahwa di setiap kesulitan, selalu ada kemudahan yang menyertainya. Seakan menjadi penekanan bagi umat muslim, seruan itu diulang dua kali secara berturut-turut. Surat ini mengajak kita untuk bekerja keras, dibarengi dengan berharap pada rida Allah Swt.
Kemudian Allah membuktikan kalam-Nya dalam Al-Insyirah. Rasul menikmati kebahagiaan setelah deretan kepahitan yang dialaminya. Saat akhir hayatnya, Rasul menguasai Mekah, Madinah, Yaman, hingga Palestina. Beliau juga meninggal dengan harta yang berlimpah.
Surat Al-Insyirah sendiri merupakan surat Al-Quran yang spesial bagi saya. Suatu ketika, waktu situasi sangat berat dan membuat saya merasa kehilangan jadi diri, lantunan surat Al-Insyirah bergema dari dalam masjid kampus. Urusan-urusan mulai saya kerjakan dengan lapang dada, seolah mengulang-ulang surat Al-Insyirah di kepala. Mulai saat itu juga, saya selalu menyelipkan surat Al-Insyirah di rakaat pertama atau kedua di tiap salat.
Selain itu, kemampuan mengelola emosi merupakan bekal yang kuat bagi generasi stroberi. Di tengah standar sosial dan harapan orang tua yang melangit, generasi stroberi perlu mengenali emosi (diri sendiri maupun orang lain) dalam keadaan tertentu. Dengan mengenali emosi, maka generasi stroberi dapat memosisikan diri sebelum mengambil keputusan yang tepat.
Kelemahan generasi stroberi adalah menyerap segala informasi layaknya spons yang menyerap air. Salah satu dampaknya adalah fenomena self-diagnosis. Ya, generasi stroberi acap kali mencocok-cocokkan apa yang dilihat di sosial media dengan apa yang terjadi pada dirinya. Karena dinilai cocok, maka mereka akan ikut-ikutan merasa insecure, stress, depresi, dll. Padahal jika direnungkan, tidak demikian.
