f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
generasi muda

Pentingnya Kompetensi Analisis Wacana Kritis untuk Generasi Muda Melek Politik

Gen Z sudah terlibat langsung dalam politik ditandai keikutsertaan mencoblos dalam pemilu 2024. Meskipun demikian isu terkait pemilu belum usai. Generasi muda masih dihujani informasi di berbagai media online. Belum lagi grup whatsapp penuh dengan link berita politik kiriman anggota versi mereka yang itu pun hasil “terusan” dari grup lainnya.

Dari sini masyarakat dituntut untuk lebih jeli dalam memahami teks yang dibaca. Kemampuan analisis wacana kritis diperlukan untuk dapat menilai kebenaran berita, maksud apa yang ada dibaliknya, dan langkah yang diambil setelah memahaminya. Jangan sampai asal share dan teruskan lalu hoaks merebak dimana-mana.

Istilah analisis wacana kritis (AWK) diperkenalkan tahun 1980-an sebagai pembeda dari analisis wacana deskriptif. Apa yang dipikirkan Fairclough, van Dijk, dkk pada awalnya adalah makna politik dari kritik sosial. Kemampuan ini penting agar generasi muda dapat memahami maksud dari wacana tidak hanya secara kasat mata (teks) tapi juga konteksnya.

Konteks adalah gagasan kunci dari AWK. Hal ini menjadi momen penentu wacana sebagai “teks dalam konteks”. AWK memberi perhatian khusus pada konteks sosial, politik, sejarah, dan kognitif. Wacana tidak lepas dari kondisi di sekitarnya. Oleh sebab itu berikut hal-hal yang harus diperhatikan ketika menjumpai teks bacaan.

1. Tidak Hanya Membaca Judul

Judul seharusnya mencerminkan isi seluruh teks. Namun media online kini ingin memperoleh klik bait sebanyak-banyaknya untuk keuntungan. Beberapa media membuat strategi agar judul dapat viral yang kadang kala tidak mencerminkan isi bacaan. Tidak sedikit pembaca muda terlena dengan judul dan langsung menyimpulkan bacaan hanya dari judul. Kini sudah saatnya pembaca muda lebih kritis untuk membaca teks secara utuh.

Baca Juga  Panduan Memilih Investasi Reksadana yang Cocok Bagi Pemula
2. Sumber Bacaan

Perlu ditekankan bahwa tidak semua media di Indonesia bersikap netral terhadap politik. Pembaca perlu tahu lebih dulu asal teks berita yang dibaca. Media tertentu cenderung akan menyampaikan berita baik partai atau oknum sesuai dengan arah politik mereka. Pembaca harus lebih jeli, bandingkan objek berita yang sama dari sumber media yang berbeda. Fokus dan cara penyampaian berita tentu bisa saling berseberangan atau bertolak belakang.

3. Gambaran Objek Tertentu

Setelah mengetahui media sumber berita, kita dapat mengidentifikasi bagaimana orang, objek, fenomena, peristiwa, proses, dan tindakan diberi nama dan dirujuk secara linguistik dalam wacana yang bersangkutan. Artinya, pelabelan objek tertentu dapat menjadi kata kunci konteks keberpihakan media, selain itu pembaca dapat mengetahui konstruksi seperti apa yang ingin dibangun pada objek tertentu.

4. Ciri atau Kualitas pada Objek

Ciri apa yang hendak ditekankan pada orang, objek, fenomena, proses, peristiwa, atau tindakan. Apakah ciri tersebut mengarah kepada hal yang positif atau negatif. Kualitas objek ini menjadi cara media menampilkan objek tertentu untuk memengaruhi kesan pembaca.

5. Argumentasi

Argumen apa yang digunakan dalam wacana? Ini dapat diamati pembaca dengan kebenaran atau pembenaran. Argumen ini bertujuan untuk meyakinkan pembaca dan pihak yang dituju mengenai keabsahan klaim kebenaran tertentu. Pembaca muda dituntut untuk dapat berpikir kritis dalam memahami argumen yang disodorkan apakah sudah objektif atau masih subjektif.

6. Perspektif

Dari sudut pandang apa argumen diungkapkan? Sudut pandang ini dapat menjadi tolak ukur pembaca untuk mengetahui keabsahan, kelogisan, dan keobjektifan argumen yang disampaikan. Pendapat dari ahli ekonomi misalnya, tentu akan berbeda dari ahli ilmu pertahanan. Oleh sebab itu perlu dicermati keterkaitan antara topik dan perspektif berita.

Baca Juga  Hanya 5 Menit! Ide Sarapan Sehat, Halal dan Praktis
7. Tindakan

Berdasarkan argumentasi dan perspektif yang telah dipahami, dapat dilihat kembali apakah pendapat dalam teks diungkapkan secara terbuka atau justru sebaliknya? Hal ini dapat menjadi dasar pengaruh teks pada tindakan yang diambil pembaca. Misalnya apakah berita tersebut dapat semakin meyakinkan pembaca muda atau justru mempertanyakan keyakinan sebelumnya? Apakah berita tersebut dapat diteruskan? Atau justru dianggap sebagai hoaks?

Beberapa poin di atas dapat digunakan sebagai panduan pembaca muda dalam mencermati teks. Seperti pendapat Dr. M. Rohmadi (2023) bahwa penguasaan untuk menganalisis wacana secara kritis secara tekstual dan kontekstual tentu akan berdampak pada identifikasi masalah, analisis masalah, penyelesaian masalah, penemuan solusi permasalahan, dan tindak lanjutnya secara detail dan didukung dengan fakta dan data empirik.

Harapannya, dengan kemampuan membaca kritis ini tidak ada lagi pandangan politik yang buta, yang asal share berita, dan parahnya percaya begitu saja dengan berita tanpa memahami seacara teliti. Hal inilah yang menyebabkan hoaks masih bertebaran di Indonesia. Meskipun teknologi sudah maju, namun budaya pembaca di Indonesia masih budaya “dari mulut ke mulut”. Belum pada tahap kritis dalam proses membaca dan menyebarkan.

Bandingkan sumber teks berita, telusuri, jangan sampai berita yang telah lampau dimodifikasi pihak tertentu menjadi seolah-olah berita baru. Anehnya masih banyak yang percaya dan kembali lagi berkembang menjadi hoaks. Maka sudah saatnya generasi muda menjadi pembaca yang kritis, cerdas, dan bernalar sehingga ke depannya politik Indonesia lebih sehat dan Indonesia semakin maju.

Bagikan
Post a Comment