f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
digital

Jeratan Informasi Digital dan Peran Perempuan di Dalamnya

Istilah Mom wars pertama kali saya dengar saat seorang rekan membuat tulisan tentang fenomena mom wars atau perang di kalangan para ibu muda tentang hal-hal yang sedang viral di media sosial. Uniknya, adu argumen ini bisa sangat panjang dan saling sahut menyahut layaknya sedang membahas sesutau yang sangat urgen. Padahal, perang argumen ini lebih berkaitan pada kehidupan seorang artis.

Saya sendiri tidak begitu mengenal artis itu karena saya tidak terlalu mengikuti perkembangan pemberitaan artis di dunia entertainment. Sebenarnya, topik yang dijadikan wars pun bisa beragam. Ada yang berkaitan dengan pola asuh dari pemberian ASI, parenting hingga hal-hal yang berkaitan dengan dunia entertainment; yang sesungguhnya sama sekali tidak berkaitan dengan kehidupan nyata sebagian besar para ibu yang heboh di media sosial tersebut.

Yang lebih menarik lagi adalah wars tentang perselingkuhan yang berkaitan dengan pelakor. Dari wars ini terlihat bagaimana sesama wanita saling menyalahkan dan menyerang dengan kata-kata yang begitu agresif. Perang argumen jadi terasa semakin bias karena argumen yang ditulis sudah menyerang hal-hal peribadi, tidak menyasar pada topik pembahasan.

Melihat fenomena ini maka timbul pertanyaan sejauh mana peran perempuan dalam keterlibatannya di internet khususnya media sosial?

Dalam berbagai riset, salah satunya yang dilakukan oleh PUSKAKOM UI dan April pada tahun 2015 menunjukkan lebih dari setengah pengguna internet di Indonesia berjenis kelamin perempuan. Di DKI Jakarta, perempuan menguasai 73 % penggunaan internet dibandingkan laki laki yang hanya 27 % saja. Pew Research Centre, sebuah organisasi yang konsisten melakukan penelitian tentang internet menunjukkan bahwa perempuan mendominasi penggunaan media sosial sebanyak 76 %.

Hasil riset lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Sebagian besar menunjukkan hasil bahwa perempuan menduduki posisi yang sangat tinggi dalam penggunaan internet, khususnya media sosial.

Tentu tidak mengherankan jika banyak jenis pertikaian, adu argumen atau bahkan komunitas-komunitas yang menyukai pembahasan isu-isu domestik dan  semua terkait dengan pemberitaan viral dilakukan sebagian besar oleh perempuan.

Urgensi Perempuan dalam Literasi Digital

Dari berbagai riset, tampaknya tidak berlebihan jika meletakkan posisi perempuan sebagai koridor utama penabur literasi digital.

Baca Juga  Hubungan Erat Antara Gen Z dan Media Sosial Terhadap Perkembangan Indonesia : Bergerak atau Diam?

Mendengar istilah literasi digital sesungguhnya tetap tidak jauh-jauh dari definisi literasi sesungguhnya. Hanya saja, akses internet yang begitu mudah, membanjirnya berbagai portal media sosial, menjadikan literasi digital bisa dipahami dengan lebih luas lagi.

Gerakan literasi digital nasional yang diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informasi, menyatakan empat pilar literasi digital, yaitu digital ethics, digital safety, digital skill, dan digital culture. Berarti perempuan harus berpegangan pada etika, keamanan, ketrampilan serta nilai-nilai budaya dalam menggunakan atau menyebarkan informasi digital.

Internet di genggaman tangan telah membuktikan kekuatannya yang mendominasi persepsi hingga asumsi . Perempuan, sebagai pengguna internet yang lebih banyak dan juga pengguna media sosial dengan jumlah yang lebih tinggi dari laki-laki; memiliki peran hingga tanggung jawab yang signifikan dalam penggunaan internet dengan memberikan dampak literasi lebih baik pada lingkar masyarakat yang lebih luas.

Kesadaran akan pentingnya pemahaman literasi digital pada perempuan harus ditumbuhkan sejak dini.Memahami pentingnya literasi digital yang kelak akan berdampak pada kematangan personal dalam menyikapi informasi-informasi dari internet bukanlah tanggung jawab personal lagi. Akan tetapi telah menjadi tanggung jawab bersama.

Bagaimana sebuah tulisan kemudian diupload untuk dibaca oleh publik; hingga berbagai komentar dan status media sosial yang menggiring pada persepsi tertentu jelas memberikan dampak tidak hanya pada jumlah orang tertentu, tetapi bisa lebih dari itu. Di sinilah peran perempuan sebagai pendidik literasi berjalan. Namun, sampai sejauh mana usaha yang harus dilakukan?

Perempuan dan Pendidikan

Perempuan sebagai istri adalah pendidik dalam keluarga bersama suami. Ia memiliki peran yang juga tidak kalah penting sebagai penebar nilai-nilai hingga norma yang bersinggungan dengan kemanusiaan atau pun sosial. Pendidikan untuk beretika dan menggunakan bahasa yang baik, tanpa menyinggung siapa pun selalu menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan.

Di sini, perempuan mulai menggerakkan ranah literasinya. Menjadi terdidik karena wawasan dan menjadi terdidik karena inisiatif-inisiatifnya tidak selalu identik dengan tingkat pendidikan tertentu. Saya rasa, sudah banyak contoh perempuan berpendidikan tinggi namun suka menyebar hoax atau pun begitu mudah memercayai sebuah asumsi yang beredar di lini masa.

Baca Juga  Menjadi Pahlawan bagi Diri Sendiri

Atau melihat bagaimana perempuan dengan pendidikan rata-rata bisa lebih memilah dan memilih pemberitaan yang tidak banyak mengandung asumsi. Memberi ruang pada etika hingga meletakkan norma-norma pada porsi yang lebih besar untuk bisa menerima banjirnya informasi pada lini masa bisa jadi merupakan pendidikan yang tidak diperoleh di bangku formal. Akan tetapi, ini bisa diperoleh saat kita bisa melatih untuk menahan diri.

Menahan diri untuk menanggapi sebuah berita viral dengan emosional atau pun menahan diri untuk bisa langsung mempercayai sebuah informasi. Menggali informasi tidak hanya pada satu pihak saja sesungguhnya bukan sebuah hal yang sulit; karena internet telah memberi akses yang begitu mudah untuk kita. Tinggal kita bersedia atau tidak melakukannya. Atau kita bersedia memberi ruang serta energi untuk berpikir lebih kritis.

Menjadi Perempuan Berliterasi

Ketika ada sebuah gambar di IG yang dibagikan oleh seorang artis dengan bayinya yang baru berusia beberapa bulan; muncullah sebuah komentar yang memancing. Yaitu komentar negatif pada fisik bayi itu. Kontan saja, dengan komentar tersebut melahirkan pertikaian yang juga tidak kalah seru.

Lalu, apakah kemudian banyak orang yang bersimpati pada artis itu? Atau mendukung pada komentar yang menyinggung fisik bayi dari artis itu? Atau malah justru ada sebagian yang memanfaatkan pertikaian online ini? Yang menjadikan pertiakian ini seolah begitu awet adalah reaksi artis tersebut yang kemudian mempermasalahkannya.

Jika kita memosisikan diri sebagai seorang marketer, pertikaian di media sosial yang dipicu dari sebuah komentar provokatif bisa sangat menguntungkan. Karena karakter orang-orang kita mudah sekali terpancing untuk ikut-ikutan berargumen; hingga menjadikan media sosial sebagai ring tinju eksistensial mereka.

Hal yang perlu menjadikan perhatian pula, saat netizen beramai-ramai membully seorang artis Korea karena perannya sebagai perebut suami orang pada sebuah judul drama Korea tentang perselingkuhan yang sangat laris ditonton.

Baca Juga  Kemajuan Teknologi Membuat Orang Tua Ibarat Kebo Nusu Gudel

Meskipun pihak agensi tidak sampai mensomasi netizen Indonesia karena komentarnya yang menyerang; namun sungguh ini menggambarkan bagaimana rendahnya etika sebagain besar, dan harus diakui, perempuan kita dalam menggunakan jarinya di internet.

Saya yakin, untuk menuju perempuan berliterasi yang sadar akan kemampuan dirinya dalam mengembangkan kepositifan berpikir di  negeri kita masih butuh waktu yang tidak sedikit. Akan tetapi menumbuhkan kesadaran dengan terus memberi contoh pada generasi sebuah nilai-nilai kesopanan saat berinteraksi hingga saat meresap informasi di dunia digital sangatlah urgen untuk dilakukan.

Lalu siapkah perempuan Indonesia untuk bisa berdiri di atas prinspi-prinsip pengetahuan dan etika dalam dunia digital? Siapkah perempuan Indonesia untuk menjadi pribadi yang tidak mudah ikut-ikutan menyukai atau membenci sesuatu? Selama perempuan kita masih mudah menggunakan jarinya untuk berkomentar secara emosional; mudah berprasangka akan sesuatu padahal tidak memiliki pengetahuan yang cukup hingga tak bisa menahan diri untuk mengekspresikan perasannya yang berdampak buruk; selama itu tampaknya sulit untuk mewujudkan perempuan-perempuan yang berliterasi baik.

Namun, keoptimisan ini tampaknya memang harus dipaksakan untuk tumbuh. Setidaknya bagi saya terus menumbuhkan jiwa perempuan yang cakap dengan menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitas sesuai bidangnya adalah cara paling baik mengalihkan hal-hal negatif yang diperoleh dari linimasa internet.

Perempuan sebagai ibu rumah tangga sekali pun tetap memiliki wadah untuk mengekspresikan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan baik online mau pun offline.

Ketika perempuan sibuk meningkatkan kualitas hidup dirinya, keluarganya, anak-anaknya agar bisa menjadi keluarga yang sehat serta perempuan menyibukkan diri dengan melakukan pengembangan diri pada bidangnya; saya yakin kemampuannya dalam menyaring informasi akan cukup baik. Dengan begitu, perempuan-perempuan Indonesia telah mendukung terwujudnya generasi yang sadar akan literasi digital. Karena perempuan adalah ibu, perempuan adalah pendidik bangsa dan perempuan adalah tiang generasi.

Bagikan
Comments
  • Mantap, Bu Hanifatul. 🌻

    April 28, 2022
  • Rina Purwaningsih

    Betul sekali. Al Ummu madrasatul ula.

    April 28, 2022
Post a Comment