f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidik

Terkikisnya Ruh Pahlawan Tanpa Tanda Jasa para Pendidik Kita

Kemarin sore, saya bertemu beberapa anak kecil di suatu kampung tempat saya bekerja. Mereka sedang asyik main kelereng dan yang perempuan sibuk bermain karet. Melihat mereka saya pun teringat zaman saya semasa kecil dulu, apa yang disibukkan anak-anak di kampung membawa saya ke throwback time di mana keseruan menjadi anak kecil masih kentara. Dan apresiasi saya, meski sekarang zamannya teknologi di mana anak di bawah umur sudah memegang gadget ke sana kemari, tetapi sebagian di kampung ini masih asri dengan budaya bermain tempo doeloe.

Sambil menyender di tembok pagar masjid, saya memandangi mereka asyik bermain. Melihat pemandangan itu saya senyum-senyum sendiri, konon lagi melihat wadah kelereng yang ada di bekas botol air mineral, adapula yang menggulungnya di celana, ada yang meletakkan di stoples dan macam-macam lagi. Adegan itu tentu masih jaman “saya banget.”

Dengan muka sumringah saya menemui dan menanyai nama mereka satu persatu. Kami pun berbincang-bincang hangat seputar permainan kelereng, dulu saya memang ahlinya di permainan ini. setelah menguji kembali, saya sadar skill mencetar itu telah hilang, hilang ditelan zaman.

Di tengah obrolan-obrolan kecil, seorang dari mereka pun akhirnya bertanya.

“Bang, abang tinggal di mana?” tanyanya, aku pun memberi jawaban. Lalu ia pun melanjutkan pertanyaannya.

“Abang kerja ya? Kerja di mana?” tanyanya lagi, lalu aku mengambil sepatah ranting dan menuliskannya di tanah.

“Abang kerja di perusahaan ini,” ucap saya sambil menunjukkan yang sudah kutuliskan itu.

Tetapi melihat mereka semua mengeja tulisan itu dan tidak satu pun di antara mereka membacanya dengan benar.

“Lah lah,” gumam saya dalam hat , lalu saya bertanya satu persatu tentang sekolah mereka kelas berapa saja. Dan semua menjawab. Ada yang kelas 2, 3 dan 4 SD. Mendengar jawaban mereka membuat saya seketika kaget.

Baca Juga  Menyikapi Masa Idah Wanita Karier

“Eh, Amet belum tau juga membaca ini meski sudah kelas 4?” Tanyaku serius. Ia pun malu-malu dan menggelengkan kepala.

“Astaghfirullah” lirihku.

***

Tepat pukul 19.20 malam, saya dipanggil seorang warga ke rumahnya hendak minta tolong. Dengan penasaran saya pun ke sana. Tetapi rupanya meminta tolong untuk mengajari anaknya mengerjakan tugas yang dikasih guru saat di sekolahan. Saya pun tersenyum sebab perihal berbagi untuk anak-anak adalah salah satu kegemaran saya.

Namun ada hal yang makin membuat saya geleng kepala, adalah hal-hal tak terduga ketika melihat kumpulan tugas dan buku paket yang disodorkan seorang anak kecil kelas satu SD dan juga kakaknya yang kelas 3 SD.

Pertama, saya bertanya kepada kakaknya perihal membaca, namun aura malu-malu dari amet pun terpancar juga ke wajah Tika, jangankan membaca, huruf abjad saja belum kenal. Huruf (F) disebut (H), huruf (G) disebut (R). Astagfirullah, jiwa kemirisanku semakin bergetar.

Saya tidak tahu betul kenapa ini bisa terjadi, entah karena sekolah daring dari semasa pandemi yang membuat mereka lupa semuanya atau sistem pengajar yang kurang komperhensip dalam mengajarkan anak didiknya.

Dulu, semasa saya sekolah, kalau kelas satu tidak juga bisa membaca (minimal mengeja) maka sudah jelas tidak akan naik kelas, tetapi guru saya ketika itu pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengenalkan abjad kepada muridnya agar bisa cepat membaca. Alhasil dengan semangat dan kerja keras, 99% anak didiknya pasti naik kelas.

Nah untuk sekarang. Menurut hemat saya, lemahnya rangking pendidikan bukanlah semata akibat pandemi Covid-19 tetapi juga kita seperti kehilangan The power of teacher atau semacam terkikisnya ruh pahlawan tanpa tanda jasa dari tenaga pendidik-pendidik kita. Mengapa semua itu masuk akal? Sebab pandemi baru berjalan dua tahun kurang lebih, sementara ada anak sekolah kelas 4 SD yang ternyata belum juga lancar membaca tapi naik kelas juga. toh ada selisih dua tahun sebelum pandemi bukan? Dan kalau lah memang belum juga bisa membaca kenapa harus dinaikkan kelas? Nah ini bagaimana?

Baca Juga  Eksistensi Perempuan Zaman Dulu dan Sekarang

Rasanya memang masuk akal jika problem seperti ini menyangkut dari kurangnya efisiensi tenaga pendidik di beberapa daerah, termasuk di daerah Hilir Riau tempat saya bekerja sekarang ini. Mengapa saya katakan seperti itu? Tentu saya punya alasan.

Pertama; bagaimana mungkin seorang yang sudah kelas 3 bahkan kelas 4 belum tahu membaca bahkan belum mengenal huruf abjad yang 26?

Kedua; seorang anak SD kelas satu yang baru masuk di bulan Juni lalu, bagaimana mungkin sudah diberi tugas kepadanya untuk mengerjakan soal pilihan berganda tentang agama, IPA bahkan soal matematika sementara menandai huruf dan angka saja masih kalang kabut. Huruf (A) besar dan (a) kecil belum bisa membedakan. Angka 1 sampai 10 belum bisa menuliskan. Bagaimana mungkin?

Dan yang paling miris, mengingat masa pandemi seperti ini jam masuk sekolah memang dipersingkat, jadi guru datang cuma mengoreksi tugas kemarin lalu memberi tugas baru kepada muridnya yang ditandai pada buku paket (buku yang diwajibkan untuk beli dari guru). Lalu anak-anak pulang dengan menggandeng soal-soal. Kelas satu SD loh sudah disuruh ngerjain soal-soal hitungan, pilihan ganda dan esai. Masuk akal kah itu?

Okei, bagi orang tuanya yang pernah mengenal pendidikan mungkin bisa membantu anaknya mengerjakan tugas-tugas tersebut tetapi bagaimana dengan pak Igor yang sedang meminta bantuan ke saya ini? Mereka yang sehari-hari cuma ke kebun pergi pagi pulang petang? Yang sejak dulu tak pernah mengenal dunia pendidikan. Alih-alih membantu anaknya mengerjakan tugas nyebut abece saja bibirnya kelu. Lha mau bilang apa kita?

Dan saya yakin, kejadian-kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di satu tempat. tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah lain terkhususnya bagian pesisir di seluruh sudut Nusantara juga mengalami hal yang sama.

Baca Juga  Sepenting Apa sih Guru BK ?

Lalu dengan kondisi-kondisi yang memperihatinkan seperti itu tindakan seperti apa yang perlu kita lakukan? Tentu saya tak punya jawaban yang konkret, tetapi saya cuma mau bilang bahwa tugas kita di Indonesia ini masih banyak dan perlu perhatian lebih terkhususnya perihal tanggung jawab negara dalam mencerdaskan bangsa. 

Entah sebuah saran atau pun masukan  barangkali evaluasi mengenai kecakapan dan efisiensi pendidik memang sangat perlu dilakukan, sesekali mereka bisa diingatkan bahwa ke sekolah tugasnya tidak hanya datang lalu pulang, tetapi ada tanggung jawab besar di sana yang perlu mereka perhatikan. Di sisi lain pemangku kebijakan juga jangan sampai lupa atas hak-hak mereka.

Terakhir, mengenai pengalaman-pengalaman ini, saya sadar akan satu hal; bahwa pernak-pernik dunia permainan anak-anak yang jauh dari teknologi itu mungkin masih ada dan sungguh indah dipandang; tetapi di satu sisi di luar bermain mereka juga butuh pendorong stabilitas kemampuan mereka untuk meraih masa depan kelak yaitu dengan pengetahuan. Namun kini manufer pendidikan yang efisien dan dedikasi peluh tanpa tanda jasa itu yang tampaknya tak lagi benar-benar ada. Dan tentu itu menjadi kekhawatiran kita bersama.

Bagikan
Post a Comment